HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Siapakah Istri Kain Yang Sesungguhnya?

426
Siapakah Istri Kain Yang Sesungguhnya?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Siapakah istri Kain? Jika Habel dibunuh, bukankah hanya ada Adam, Hawa, dan Kain? Mungkinkah ada anak perempuan Adam yang tidak disebutkan dalam Kitab Suci? Mengapa tidak disebutkan keturunan Habel?

Richard Siallagan, Medan

Pertama, perlu kita pegang terlebih dahulu bahwa Kitab Suci itu bukanlah laporan historis tentang peristiwa masa lalu, tetapi buku iman yang hendak mengajarkan butir-butir ajaran iman, meskipun data dan fakta tidak diabaikan begitu saja. Kisah Penciptaan Adam dan Hawa (Kej 1-3) dan kisah Kain dan Habel (Kej 4:1-16) juga bukanlah laporan sejarah. Pertanyaan tentang istri Kain mengalir dari pandangan bahwa kisah-kisah ini adalah laporan sejarah. Kekeliruan pandangan ini akan terbukti secara jelas kalau kita menganalisa Kej 4:1-16 secara lebih cermat (bdk. HIDUP No. 36, 9 September 2007).

Kedua, segera sesudah penciptaan manusia pertama, tidak mungkin pada masa awal manusia langsung mempunyai profesi sebagai “gembala” dan “petani”(4:2). Profesi ini merujuk pada masa yang kemudian; gembala sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi (SM), dan petani sekitar 8000 tahun SM. Persembahan lemak dari anak sulung kambing dombanya oleh Habel (4:4) berasal dari ribuan tahun kemudian di Gunung Sinai, yaitu ketika Allah memerintahkan Musa mempersembahkan kepada-Nya anak sulung kawanan dombanya (Kel 34:19) dan lemak dari lembu dan domba.

Sangat tidak mungkin bahwa pada awal sudah dibedakan antara padang dan yang bukan padang. Dikatakan Kain mengundang Habel pergi ke padang (4:8). Hal ini menyiratkan bahwa sudah ada pembedaan antara ladang dan tempat tinggal.

Ketakutan Kain akan pembalasan orang lain terhadap tindak kejahatannya (4:14) tidak bisa dimengerti jika diandaikan tak ada orang lain, selain Adam, Hawa, dan Kain. Tidak mungkin bahwa pembalasan akan datang dari keturunan Habel. Fakta bahwa tidak ada daftar keturunan Habel harus ditafsirkan bahwa Habel dibunuh pada usia muda, sehingga tidak mempunyai keturunan.

Pertanyaan paling besar ialah siapa yang menjadi istri Kain (4:17)? Tidak mungkin Hawa, karena Hawa tetap menjadi istri Adam yang kemudian memiliki anak lagi yang bernama Set (4:25). Bisa jadi Adam juga mempunyai anak perempuan yang tidak disebutkan, karena biasa yang disebut hanya anak laki-laki. Tetapi jika Kain menikah dengan saudarinya sendiri, pasti hal ini dikatakan secara eksplisit. Sangat mungkin Kain menikah dengan perempuan lain di luar keluarga Adam. Ini mengandaikan ada poligenisme (bdk. HIDUP No. 25/2010).

Ketiga, bagaimana menafsirkan Kej 4:1-16? Para ahli Kitab Suci mengatakan bahwa kisah Adam dan Hawa dan juga kisah Kain dan Habel semula adalah kisah-kisah rakyat yang terpisah. Pada jaman Raja Salomo, kisah tentang Kain dimodifikasi dan ditempelkan ke kisah Adam dan Hawa. Tujuan utama Kej 3 dan Kej 4 sangat berdekatan, yaitu menjelaskan kemunculan kejahatan, kesengsaraan, dan susah-payah di dunia ini sebagai akibat dosa, yaitu kerusakan relasi antara manusia dengan Allah (Kej 3), dan antara manusia dengan sesama (Kej 4). Kejahatan bertambah ketika kita menyalahi sesama kita.

Di samping itu, Kej 4:1-16 juga hendak mengajarkan bahwa siapapun yang menjadi bagian dari umat manusia adalah bersaudara, maka harus dihormati. Butir ajaran ini sangat ditonjolkan melalui hubungan persaudaraan antara Kain dan Habel. Dalam perikop sesingkat itu, rujukan kepada “adik” dilakukan sebanyak tujuh kali. Menghormati orang lain sama seperti menghormati Allah. Menghormati Allah dan menghormati sesama adalah dua kewajiban yang harus menyatu. Keduanya harus dilakukan secara bersama, yang satu dilakukan tanpa mengabaikan yang lain (bdk. Luk 10:25-37).

Petrus Maria Handoko CM

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

1 COMMENT

  1. Para ahli lebih cenderung pd monogenisme drpd poligenisme. Manusia pertama muncul di Afrika. Gereja tidak berkeberatan dengan hal ini. Gereja menerima teori evolusi, sejauh ada lompatan besar dari “bukan manusia” menjadi manusia. Itulah proses penciptaan Tuhan… Yg menjadi masalah, bagaimana bisa muncul Hawa, manusia kedua? Orang zaman dulu dengan mudah membuat cerita Hawa diambil dr tulang rusuk Adam. Tapi para ahli tidak bisa menerima ini… Kemungkinan lain, mungkinkah manusia muncul secara perlahan, dr evolusi perlahan? Ini tidak bisa diterima gereja. Tetapi ini satu2nya kemungkinan proses munculnya Hawa, walau secara ilmiah juga belum ada buktinya… Karena itu, mungkin yg terbaik adalah biar semua itu menjadi misteri Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan dr makhluk “pra manusia”. Ini keyakinan para ahli ilmu2 biologi, dan tidak ditentang gereja. Tapi bagaimana prosesnya, biar itu tetap misteri ilahi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here