HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Nyaris Dua Kali Kehilangan Nyawa Putra Dayak Ini Akhirnya Menjadi Uskup

7569
Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap.
[Dok. Keuskupan Agung Pontianak]
Nyaris Dua Kali Kehilangan Nyawa Putra Dayak Ini Akhirnya Menjadi Uskup
4.3 (86.67%) 6 votes

HIDUPKATOLIK.com – Uskup pribumi pertama dari suku Dayak ini menjadi Katolik pada usia 13 tahun. Dua musibah sempat mengancam keselamatan nyawanya.

Satu insiden nyaris mengancam keselamatan jiwa Romo Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap. Alkisah, pada 1970, Romo Herculanus pergi ke Jangkang Benua, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Imam yang baru merampungkan studi misiologi di Universitas Gregoriana Roma, datang untuk menyusun Statuta Dewan Imam Keuskupan Agung Pontianak.

Romo Herculanus pergi bersama Romo Herman Yosef. Mereka menumpang speed boat dari dermaga kecil Kota Sanggau menuju Kuala Dua (Jemongko), Sanggau. Saat mereka tiba di Riam Teboda, Sungai Mengkiang, arus sedang tak ramah. Situasi kian pelik, mesin speed boat mati, juri mudi pun gelagapan karena baru pertama menghadapi situasi itu.

Dalam biografi Mgr Hieronymus Bumbun OFMCap: Orang Bajik yang Bijak dikatakan, Romo Herculanus dan Romo Yosef pucat pasi. Mereka tak bisa berenang. Romo Herculanus buru-buru mengenakan celana pendek. Pria yang berasal dari keluarga petani itu akan mengambil kemudi, mengatur laju speed boat, mengikuti liukan arus sungai. Salah perhitungan sedikit, bukan tak mungkin mereka kembali hanya membawa nama.

Kocek Berikan
Bukan kali itu saja maut mengintai imam yang ditahbiskan pada 27 Juli 1967. Dalam perjalanan ke Sekadau pada 1977, mobil Land Rover yang ditumpanginya bersama Romo Jerone Stoof CP dan Sr Theresia Sumani SFIC terbalik di kilometer 36, Sei Purun Kecil, Kabupaten Pontianak.

Romo William Chang OFM dan Romo Mayong Andreas Acin OFMCap dalam biografi itu melukiskan kecelakaan yang dihadapi Mgr Herculanus, yang baru empat bulan menjadi Uskup Agung Pontianak. “Empat roda menghadap ke atas. Moncongnya tertancap dalam parit yang penuh air”.

Musibah itu terjadi ketika rombongan menuju Sekadau, Kalimantan Barat, jelang tahbisan imamat Diakon Agustinus Agus, yang kini menjadi Uskup Agung Pontianak. Kehadiran Mgr Herculanus dalam upacara itu amat vital. Sebab, Mgr Herculanus yang menjadi penahbis Diakon Agus. Bisa dibayangkan, jika hal buruk terjadi pada saat itu, sejarah Gereja Kalimantan saat ini pasti akan amat berbeda.

Mgr Herculanus menjadi korban pertama yang berhasil keluar dari mobil nahas itu. Mgr Herculanus pula yang menyelamatkan Romo Jerone dan Sr Theresia, yang terperangkap di dalam mobil. “Mgr Herculanus memecahkan kaca mobil dengan batu supaya penumpang lain yang sedang merintih itu dapat keluar,” tulis Romo Chang dan Romo Acin.

Selamat dari kecelakaan, Mgr Herculanus melanjutkan perjalanan dan menahbiskan Romo Agus. Usai tahbisan, Mgr Herculanus kembali ke Pontianak. Saat makan malam, seorang biarawati menelpon uskup pertama dari suku Dayak itu. Katanya, ia menemukan seekor ikan seluang di kocek baju Mgr Herculanus.

Rupanya ketika Land Rover mereka ringsek ke dalam parit, ada seluang yang singgah di kantong baju Mgr Herculanus. Baju yang Mgr Herculanus kenakan saat kecelakaan adalah hadiah dari Uskup Agung Semarang Kardinal Julius Darmojuwono, yang menahbiskannya menjadi Uskup Agung Pontianak, pada 26 Februari 1977.

Rajin Membaca
Setelah purna karya sebagai Uskup Agung Pontianak, Mgr Herculanus mengisi masa senjanya dengan membaca. Hobi ini memang sudah digandrungi oleh anak ketujuh dari 17 bersaudara pasangan Petrus Ria Ensuh dan Veronika Unsai, sejak masih bocah. Bacaan berbahasa Latin dan Perancis pun ia lahap. Sehingga ketika mendalami ilmu filsafat dan teologi di Parapat, Sumatera Utara, Fr Herculanus bisa melalui dengan mudah, meski bahan kuliah yang diberikan dalam bahasa Latin. “Dengan banyak berlatih bahasa ini, walaupun sulit, toh bisa dikuasai,” ungkapnya saat ditemui di Pontianak, Selasa, 18/7.

Ibarat sebilah pisau yang semakin diasah akan semakin tajam, demikian pula dengan daya ingat Mgr Herculanus. Hobi membaca, mengasah dan merawat ingatan Mgr Herculanus. Para frater di STT Pastor Bonus Pontianak, yang sempat mendapat pelajaran sejarah Gereja dari Mgr Herculanus, menyebut sang uskup sebagai “kamus sejarah” yang hidup dan berjalan.

Mgr Herculanus tak hanya sanggup mentransferkan ilmu secara detail kepada para mahasiswa, tapi sang uskup juga menjadi salah satu pelaku sejarah Gereja Lokal. “Peristiwa demi peristiwa masih segar dalam ingatannya,” tulis Romo Chang dan Romo Acin, dalam buku yang mereka tulis menyambut pesta emas imamat Mgr Herculanus.

Kendati menguasai sejarah Gereja, mantan Administrator Apostolik Sanggau ini selalu mempersiapkan bahan perkuliahan. Mgr Herculanus rutin membuat catatan-catatan kecil berisi sejarah atau data Gereja pada masa lampau serta perkembangannya kini. Jadi, Mgr Herculanus datang ke kampus dan mengajar para mahasiswa dengan persiapan optimal. Teladan ini juga sikap kerendahan hatinya. Mgr Herculanus tak pernah berhenti belajar.

Mgr Herculanus menyukai turne atau berkunjung ke umat. Sebuah peristiwa berkesan pernah Mgr Herculanus alami saat datang ke sebuah kampung. Mgr Herculanus dihadang kepala kampung, terkait kebiasaan setempat yang disebut “pantang kampung”. Tamu yang masuk ke dalam satu kampung, tak bisa meninggalkan kampung itu selama masa “pantang” belum berakhir.

Uskup kelahiran Menawai Tokam, Kabupaten Sekadau, 5 Agustus 1937, menghargai warisan budaya itu. Mgr Herculanus meminta pertimbangan kepada kepala kampung itu. Katanya, bila masyarakat di kampung itu heterogen, terutama soal keyakinan, para pelayan pastoral yang datang tak dihambat. Sebab mereka datang khusus melayani umat Katolik. “Mereka menerima setelah melalui kesepakatan,” kenang uskup yang menjadi Katolik pada usia 13 tahun.

Sejak 3 Juni 2014, Mgr Herculanus purna karya sebagai orang nomor satu di Keuskupan Agung Pontianak. Meski begitu, perannya sebagai seorang imam tak terhenti. Bagi orang tertahbis, tak ada kata purna karya. Hanya kematianlah yang mengakhiri segala pelayanannya di dunia.

Tahun Spesial
Mgr Herculanus kini tinggal di Biara Gembala Baik Senghie, Pontianak. Di biara milik Kapusin yang terletak di dekat pelabuhan itu, Mgr Herculanus merenda hari-hari dengan membaca dan mengikuti ritme hidup harian komunitas. Uskup Agung Emeritus Pontianak itu juga masih memberikan pelayanan rohani untuk umat.

Pada petang hidupnya, Mgr Herculanus mensyukuri berada di tengah para koleganya. Di komunitas baru itu, tak memandang status atau jabatan, katanya. Semua di sini, lanjut Mgr Herculanus, adalah saudara, tak hanya manusia tetapi semua makhluk hidup, bahkan maut sekali pun. “Persaudaraan yang sempura adalah saudara maut. Kalau saudara maut tidak ada, kita mungkin tetap tinggal di dunia ini,” ujarnya.

Tahun ini amat spesial bagi Mgr Herculanus. Pada 27 Juli, Mgr Herculanus merayakan pesta emas imamat. Lantas pada 5 Agustus mendatang, Mgr Herculanus berusia 80 tahun. Keuskupan dan tarekat Kapusin mengadakan syukuran untuk peristiwa monumental sang gembala, pada Jumat, 28 Juli.

Ridhoino Kristo Sebatianus Melano/Yanuari Marwanto

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here