HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Karawitan Sebagai Jembatan Dialog Perbedaan

65
F.A. Didik Supriyanta.
[NN/Dok.Pribadi]
Karawitan Sebagai Jembatan Dialog Perbedaan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dunia ditilik dari sudut manapun amatlah plural. Di tengah keberagaman itu, seni apa pun bisa menjadi jembatan dialog perbedaan itu.

Lebih dari separuh hidup, Fransiskus Asisi Didik Supriyanta setia menggeluti dunia seni tradisional Jawa. Didik mulai akrab dengan seni tradisional Jawa semenjak SMA. Ia semakin ambyur di jagad seni ketika mengambil jurusan karawitan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Buah dari loyalitas pada seni, pada 2015, ia mewakili Indonesia, menjadi duta seni untuk beberapa negara Asia Tenggara.

Selama menjadi mahasiswa, ia menjadi penabuh gamelan atau pengrawit dalang kondang dari Solo, Ki Purbo Asmara. Begitu lulus pada 1991, Didik memutuskan total menekuni dunia seni. Berbagai alat musik tradisional Jawa, seperti gender, rebab, kendang dan sebagainya dipelajari secara mandiri.

Menjaga Warisan
Darah seni abdi dalem Kraton Pura Pakualaman Yogyakarta ini mengalir dari mendiang ayahnya, Sukijo. Sang ayah merupakan penari alumi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta angkatan pertama. Didik kerap berkeliling Nusantara dari satu kota ke kota lain, seperti Jakarta, Medan, Sulawesi, hingga Papua. Tak kurang dari 30 tahun, pria berusia 52 tahun ini mengajar seni tradisional Jawa di sekolah, sanggar, dan di manapun ia diundang. “Sempat menjadi guru karawitan di Kalimantan Timur pada 1994 di sebuah paguyuban seni milik Pertamina,” kenang Didik.

Sebagai abdi dalem, Sri Paduka Paku Alam ke X memberi gelar kepada Didik dengan “Ki Mas Lurah Budya Pengrawit” (KLMBP). Nama ini membuat Didik bertekad untuk terus melestarikan dan menghidupi budaya Jawa, utamanya seni karawitan. Tekad itu ia hidupi setiap hari di Sanggar Seni Sor Pelem Pastribanyo, yang merupakan peninggalan orangtuanya. “Sejak 1995, bapak merintis kegiatan latihan karawitan Kamis Paingan (setiap Kamis Pahing). Sampai kini tetap berjalan dengan baik.”

Di sanggar ini, ia dan para penggiat seni menghidupi seni agar menjadi oase bagi siapapun yang merindukan persaudaraan, harmonisasi, dan ketenteraman. Di dalam seni ada persaudaraan sejati tanpa sekat. “Tak ada rasa saling curiga atau was-was di antara kami. Perbedaan agama, tak pernah menjadi masalah, karena dipersatukan oleh rasa harmonisasi, keselarasan hati yang diburu dan didapatkan lewat alunan musik karawitan,” jelas peraih penghargaan seni sebagai Pelestari Seni Tradisi DIY tahun 2015.

Lewat Seni
Kepiawaiannya dalam bidang seni musik tradisi ini, juga ia abdikan di Gereja. Ia menjadi pengasuh karawitan di berbagai paroki di Yogyakarta, misal Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, hingga Paroki St Yakobus Bantul. Ia juga berkarya di Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, ASMI Santa Maria Yogyakarta, Rumah Retret Syantikara, dan Girisonta Ungaran.

Selama puluhan tahun menggeluti seni tradisi Jawa, ia mendapatkan dan merasakan bahwa dirinya merasa dihidupi dan menghidupi seni tradisi Jawa itu. Didik merasa dimanusiakan dan hidup penuh dengan makna serta menjadi berkah bagi orang lain. Dalam seni ia mendapatkan kerukunan dan persaudaraan sejati. “Bahkan, karena seni ini juga, saya dipertemukan dan mendapatkan Tuhan Yesus saat masih mengajar seni karawitan di Kalimantan Timur, di mana pada 1994 itulah saya dibaptis. Inilah nilai yang paling mahal sebagai berkah Tuhan.”

Karena itulah, Didik mengisi setiap jejak kiprahnya dalam dunia seni sebagai bentuk untuk pewartaan sabda Tuhan kepada siapa pun, terlebih kepada mereka yang belum mengenal Yesus. Karenanya sebagai orang Katolik, ia mewartakan Yesus dalam bentuk sikap yang disiplin, tanggung jawab, rendah hati, dan pantang baginya untuk pasang tarif. Didik yakin, manakala sudah bekerja, pasti Tuhan akan memberi upah.

Didik kerap menjadi langganan para mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Para mahasiswa ini memaksimalkan waktunya yang terbatas dengan belajar seni. Mahasiwa dari Italia, Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, hingga Amerika Serikat berguru padanya.

Saat memberikan kursus, Didik juga menyerap informasi atau pelajaran lain dari muridnya. Pengalaman bersama orang asing dari pelbagai belahan dunia semakin memantapkan keyakinan Didik; bahwa seni sebagai jembatan dan dialog kemanusian tanpa sekat. “Seni mampu menghadirkan situasi tanpa rasa curiga, atau was-was karena kami sudah satu tujuan, yakni memburu bagaimana menciptakan estetika atau harmonisasi.”

Merengkuh Kaum Muda
Sejak awal terjun ke dunia seni tradisi, Didik bertekad agar seni tradisi mampu menjadi seni kebanggan Indonesia; menjadi tuan rumah di Indonesia. Pada masa kini, Didik merasa prihatin karena banyak anak muda mulai menjauhi seni tradisi. “Saya melihat, terjadinya salah langkah. Anak muda tidak diperkenalkan dengan seni tradisi dengan baik semenjak anak-anak. Akibatnya, sekalipun mereka belum mengenal, mereka sudah menghakimi bahwa seni tradisi itu tak bermutu, kuno atau tidak gaul.”

Generasi muda Gereja pun dilihatnya tidak beda jauh dengan generasi muda pada umumnya. Mereka memandang sebelah mata kehadiran seni tradisi, utamanya karawitan. Menurutnya, orang muda Katolik akan bersemangat berlatih karawitan, hanya saat-saat akan pentas saja dan setelah pentas latihan pun usai.

Didik tak tinggal diam, ia membuat ruang bagi orang muda. Ia pun menciptakan langgam karawitan yang sesuai dengan jiwa orang muda tanpa meninggalkan pakemnya. Langgam ini ingin mengajak anak muda untuk mendapatkan karakter, watak, dan nilai etika atau sopan-santun. “Seni tak ada gradasi, maka di sini pun saya juga belajar. Tak ada guru di sini karena masing-masing memburu keselaran dan harmonisasi seni sebagai tujuan bersama,” pungkas prodiakon Paroki St Yakobus Bantul ini.

F.A. Didik Supriyanta
TTL: Yogyakarta, 7 Januari 1965

Pendidikan:
• SD Kanisius Bantul Yogyakarta (1971-1977)
• SMP 1 Bantul Yogyakarta (1977-1980)
• SMA 1 Bantul Yogyakarta (1980-1983)
• STSI Solo, Jurusan Seni Karawitan (1983-1991)

Pekerjaan:
• Guru Seni Karawitan SMK 1 Bantul Yogyakarta dan SMK Putratama Bantul Yogyakarta sejak tahun 2000-kini dan beberapa sekolah lainnya.
• Guru privat seni karawitan untuk mahasiswa luar negeri yang sedang kuliah di Yogyakarta.
• Guru atau pendamping seni karawitan di berbagai paroki di Yogyakarta.
• Penggarap seni karawitan dalang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta sejak 1995.

Penghargaan:
• Penghargaan sebagai Pelestari Budaya DIY tahun 2015.
• Duta Misi Kesenian Indonesia untuk beberapa negara di Asia Tenggara tahun 2012.
• Juara II sebagai penata Seni Karawitan pada Festival Seni Karawitan Tingkat SMA/ SMK DIY tahun 2014

Simon Sudarman

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

1 COMMENT

  1. Kesenian Jawa merupakan salah satu benteng terkuat, pelindung dr gerakan fanatik agama tertentu… Akan sangat bagus kalau kesenian ini dipopulerkan kembali, terutama kesenian wayangnya, baik wayang kulit ataupun wayang orang serta tarian yg menyertai. Semoga para pemegang keputusan bisa melihat nilai strategis dari kesenian ini…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here