HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Menolak Menjadi Serigala Saat Maut Mengancam

508
Beato Pedro Maria Ramirez Ramos.
Menolak Menjadi Serigala Saat Maut Mengancam
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Apakah ada yang baik dalam hidup seorang gembala yang meninggalkan domba-dombanya ketika serigala datang? Bila itu terjadi dalam hidup saya, berarti saya juga serigala itu.

Hampir separuh abad, warga Kolombia mesti memanggul senjata. Perang saudara di Kolombia bermula pada 1948. Calon Presiden Kolombia, Jorge Eliécer Gaitán dibunuh. Peristiwa ini memicu konflik berdarah. Selain calon presiden, Gaitán juga seorang pengacara kondang yang getol menyuarakan penuntasan kasus pembunuhan massal di Santa Marta, Kolombia, tahun 1928.

Alih kekuasaan itu memicu ketegangan antara pihak liberal dan konservatif. Aksi demonstrasi dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok Kolombia dan mengakibatkan kelumpuhan ekonomi. Unjuk rasa ini berubah menjadi kerusuhan massal setelah para pendukung dari kubu konservatif turun ke jalan. Sementara itu, pendukung kubu liberal juga secara diam-diam melakukan tindak kekerasan.

Perang saudara yang berkepanjangan ini menelan 220 ribu jiwa. Di antara para korban itu, terdapat umat Katolik, termasuk Pater Pedro Maria Ramirez Ramos.

Membela Umat
Pater Pedro menerima Sakramen Imamat dari Uskup Ibagué, Mgr Pedro María Rodríguez Andrade (1873-1967) pada 21 Juni 1931. Setelah ditahbiskan, ia ditugaskan sebagai Kepala Paroki Chaparral. Pada 1934, ia mendapat perutusan sebagai Kepala Paroki Cunday, lalu dipindahkan ke Paroki Fresno pada 1943. Lima tahun kemudian, Pater Pedro mengemban tugas baru sebagai Kepala Paroki Armero- Guayabal, Kolombia.

Armero, sebuah kota kecil di Tolima, Kolombia. Awalnya, kota ini bernama San Lorenzo, tetapi pada 1930, diubah menjadi Armero untuk mengenang José León Armero, pahlawan nasional Kolombia. Kota ini sering dikenal dengan sebutan “Kota Putih”, karena menjadi penghasil kapas terbesar di dunia. Meski demikian, Armero dikenal “bersumbu pendek”, konflik bersenjata mudah tersulut. Pencemaran akibat industri juga menghinggapi wilayah ini. Warga miskin merajalela di setiap sudut kota.

Inilah salah satu tantangan pastoral Pater Pedro di Armero. Ia segera berhadapan dengan umat yang miskin, limbah industri di mana-mana, dan tingkat kesehatan warga yang amat rendah. Pater Pedro juga menghadapi kenyataan iman umat yang kian kendor. Umat lebih memilih mencari sesuap nasi dan seteguk air atau bertaruh nyawa mengais rezeki di tumpukan limbah industri, daripada berdoa, apalagi datang ke gereja. Konflik bersenjata yang terus terjadi, memperparah medan karya Pater Pedro.

Perang saudara kian berkecamuk. Kaum liberal berusaha membangun citra publik melalui sosok Gaitán. Hal ini menjadi ancaman bagi kubu konservatif di bawah Presiden Mariano Ospina Perez. Kematian Gaitán memicu konflik horizontal yang mengakibatkan kelumpuhan total di Kolombia. Sedikitnya tiga ribu orang tewas di Bogota. Kekerasan demi kekerasan bagai litani yang dihadapi warga Kolombia setiap hari.

Armero, tempat Pater Pedro berkarya, tak luput dari krisis. Bahkan, krisis berimbas kepada para tokoh Gereja dan kaum industrialis, pedagang, dan bankir di Armero.

Pater Pedro yang lahir di La Plata, Kolombia, 23 Oktober 1899, tak bisa tinggal diam berhadapan dengan krisis ini. Ia tampil membela orang-orang miskin. Ia juga membela umat yang diculik, disekap, bahkan dibunuh oleh Bandoleros, tentara dari kaum liberal.

Dengan setia, Pater Pedro memberikan Sakramen Orang Sakit meski perang sedang berkecamuk. Ia berdiri dan berkhotbah di antara Bandoleros tentang keadilan, kasih, dan perdamaian. Langgam pastoral Pater Pedro ini membuat gundah kaum liberal. Ia dituduh mendukung kaum konservatif dan menyimpan senjata api di biara yang tak jauh dari gereja.

Militansi Iman
Saat sedang memimpin Misa di Gereja de Santa Lucía, 9 April 1948, Pater Pedro ditangkap Bandoleros. Keluarganya sempat mengupayakan agar Pater Pedro bisa keluar dari Armero. Tapi, ia menolak. “Apakah ada yang baik dalam hidup seorang gembala yang meninggalkan domba-dombanya ketika serigala datang? Bila itu terjadi dalam hidup saya, berarti saya juga serigala itu,” ujar Pater Pedro.

Tentara Bandoleros pun menggelandang Pater Pedro ke alun-alun Armero. Kaki dan tangannya diikat di sebuah palang. Ia tak diberi makan dan minum. Umat yang menyaksikan, hanya bisa membisu dan berlinang haru.

Di alun-alun Armero, Pater Pedro dicaci-maki, dipukuli, dan dipaksa mengaku sebagai pendukung kubu konservatif. “Saya tidak mendukung siapa pun. Saya mendukung mereka yang lemah dan tak berdaya,” jawabnya.

Sabtu, 10 April 1948 , pukul 16.00, menjadi hari kematian Pater Pedro. Lehernya digorok dengan golok oleh Bandoleros. Kian nahas, jenazahnya dibuang di selokan. “Siapa pun yang berani menentang, segera menyusul Pater Pedro,” ujar seorang Bandoleros. Jenazahnya tergeletak di selokan sampai dua belas hari. Umat baru berani memakamkan jenazah Pater Pedro pada Rabu, 21 April 1948.

Daniel Restrepo, penulis otobiografinya menulis, sejak kecil Pater Pedro sudah berniat menjadi martir. Ia seorang yang memiliki militansi iman. Orangtuanya, Ramón Ramírez Flórez dan Isabel Ramos selalu menasihati agar mengurungkan niat menjadi imam di Kolombia. Ramírez percaya, menjadi imam di Kolombia hanya akan menjadi “martir kesiangan”. Kejahatan di Kolombia tak pernah bisa diselesaikan lewat jalan iman.

Tapi, Pedro sudah bertekad menjadi imam. Ia pun masuk Seminario Maria Immaculada pada 4 Oktober 1915, setelah lulus Sekolah Menengah San Luis Gonzaga di Elías, Huila. Ia mengucapkan kaul pertama pada 1917.

Ayahnya berhasil memaksa Pedro keluar biara. Tapi, Pedro merasa tak bahagia. Ia pun kembali masuk Seminari Ibagué, sampai kemudian menerima tahbisan imam. Bagi umat yang pernah dilayani, Pater Pedro adalah sosok yang imam yang rendah hati, selalu ingin bersama umat, serta senantiasa membela umat, terutama mereka yang miskin dan tertindas.

Kasih Persaudaraan
Setelah kematiannya, Keuskupan Garzón memulai proses penggelaran kudus bagi Pater Pedro. Setelah 45 tahun kematiannya, Paus Yohanes Paulus II (1920-2005) menggelarinya venerabilis pada 23 Februari 1993. Jelang kunjungan ke Kolombia pada 6-11 September mendatang, Paus Fransiskus menerima Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan Kardinal Angelo Amato SDB, perihal penggelaran beatifikasi bagi Pater Pedro. Rencana, Misa beatifikasi akan dipimpin Paus Fransiskus di Villavicencio, 8 September mendatang.

Beatifikasi ini sehubungan dengan terbitnya dekrit mukjizat dan lima kebajikan Pater Pedro dan Mgr Jesus Emilio Jaramillo Monsalve (1916-1989), Uskup pertama Arauco. “Pater Pedro pertama-tama mengutamakan kasih dan semangat persaudaraan. Ia adalah model Kristus yang menderita bagi umat-Nya,” demikian pesan Uskup Agung Bogota Mgr Ismael Perdomo Borrero, menjelang beatifikasi Beato Pedro.

Yusti H. Wuarmanuk

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Kirim ke email: [email protected].

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here