HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Santa Pertama Kolombia, Bermisi Di Tengah Suku Indian

70
St Laura de Jesus Montoya y Upegui.
[vanguardia.com
Santa Pertama Kolombia, Bermisi Di Tengah Suku Indian
5 (100%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Orang menyebutnya gila ketika bermisi di tengah suku Indian. Ia mengajar, mewartakan Injil, dan memperjuangkan hak asasi penduduk lokal.

Lautan manusia membanjiri pusat kota Jericó, Kolombia. Tiga layar raksasa terpampang di kota besar kedua setelah Medellín, ibukota Departemen (setingkat provinsi) Antioquia –salah satu dari 32 departemen di Kolombia. Lewat layar itu, umat Katolik Kolombia menyaksikan secara langsung kanonisasi Beata Laura dari St Katarina Sienna yang dipimpin Paus Fransiskus di Roma, Minggu, 12 Mei 2013.

Pengakuan Takhta Suci atas mukjizat kesembuhan yang dialami Carlos Eduardo Restrepo pada 14 Juni 2012 melapangkan jalan kanonisasi sang biarawati. Carlos, penderita lupus, gagal ginjal, dan degenerasi sembuh setelah berdoa lewat perantaraan Beata Laura. Pada saat itu dokter sudah angkat tangan.

Kanonisasi biarawati kelahiran Jericó, 26 Mei 1874 ini menjadi momen historis di negara penghasil kopi terbesar kedua dunia itu. Mayoritas media massa nasional Kolombia menjadikan peristiwa itu sebagai headline. Suster yang 41 tahun berkarya di tengah suku Indian –penduduk asli Amerika– ini merupakan perempuan kudus pertama asal Kolombia.

Spirit Memaafkan
Laura de Jesus Montoya y Upegui adalah anak kedua pasangan Juan de la Crux Montoya dan Dolores Upequi. Ketika usianya baru menginjak dua tahun, sang ayah gugur di medan perang. Situasi yang membuat ekonomi keluarganya terpuruk. Demi mengurangi beban ekonomi keluarga, Dolores mengirim Laura ke rumah orangtuanya di Medellín. Sejak saat itu, Laura diasuh neneknya.

Laura tak bisa mengelak, neneknya amat berjasa bagi hidupnya. Sang nenek, mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Neneknya mengenalkan dan mengajarkan Laura membaca Kitab Suci serta berdoa. Pada saat inilah benih-benih keutamaan kristiani disemai dalam diri Laura sejak dini.

Usai menerima Sakramen Ekaristi pada usia 13 tahun, Laura tak bisa melewati hari tanpa mengikuti Misa di gereja. Kecintaannya pada Ekaristi terus bersemi. Ia juga merasa terpanggil menjadi pelayan Tuhan dan sesama. Sayang, cita-cita itu terpaksa ia pendam karena usianya masih sangat belia.

Pada usia 14 tahun, Laura masuk Normall de Institutoras atas permintaan ibunya. Dolores berharap dengan menjadi guru, Laura bisa ikut membantu menopang keuangan keluarga. Beruntung ia diterima di sekolah prestisius di seantero Medellín itu, meskipun ia tak mengantongi selembar ijazah pun dari lembaga pendidikan formal. Tak hanya itu, ia pun lulus dan menggondol nilai tertinggi. Tamat pendidikan guru, Laura mengajar di beberapa SD di ibukota provinsi itu.

Siswa-siswi dan orangtua mereka mengenal Laura sebagai guru yang tak melulu mengajarkan pengetahuan, melainkan juga menyemai benih-benih kristianitas dan keutamaan Injili. Ia menanamkan kesadaran pada para siswa tentang pentingnya toleransi dan memaafkan. Bahkan, ia memberikan contoh konkret dengan memaafkan orang yang telah membunuh ayahnya.

Pada usia 20 tahun, Laura menjawab kerinduannya menjadi biarawati. Ia bergabung dan menjalani formasi sebagai Karmelit. Selama formasi, Sr Laura menemukan semangat dan fokus pastoralnya. Ia ingin melayani orang-orang di daerah terpencil dan mewartakan Injil pada semua orang – terutama yang termarjinalkan.

Tuhan merestui misi hamba-Nya. Laura meninggalkan Karmelit, lalu berkunjung ke Urabá dan Sarare. Hatinya tersentuh kala menyaksikan diskriminasi yang dialami oleh penduduk asli Amerika Selatan itu. Ia melihat, Injil belum menyentuh wilayah yang mayoritas berpenduduk suku Indian.

Anggapan sebagai kaum bar-bar dan terbelakang menjadi stigma yang melekat pada orang-orang Indian. Mereka menjadi warga kelas dua, terus tersingkir di tanah kelahirannya sendiri. Laura bertekad membawa Kristus dan mengikis stigma dan perlakuan negatif terhadap suku Indian.

Realisasi Misi
Laura berinisiatif secara pribadi mengajak empat perempuan yang ingin mempersembahkan diri untuk membawa bangsa Indian pada Kristus. Pada 14 Mei 1914, mereka hijrah dari Medellín ke Dabeiba. Di tempat baru itu, mereka tinggal bersama suku Indian. Komunitas religius baru ini direstui Uskup Agung Santa Fe de Antioquia, Mgr Maximiliano Crespo Rivera (1861-1940). Dalam naungan reksa kegembalaan Mgr Rivera, mereka dikenal sebagai Tarekat Suster-Suster Misionaris St Maria Imakulata dan St Katarina Sienna.

Masa awal berkarya, tarekat baru ini sempat menimbulkan pergunjingan. Banyak yang meragukan, mereka diumpamakan seperti domba yang mewartakan Injil pada kawanan binatang buas di padang gurun. Bahkan umat kristiani sendiri menentang karya misi Laura dan sahabat-sahabatnya. Cemoohan dan tantangan ini sama sekali tak mereka hiraukan.

Selama bermisi di tengah suku Indian, Sr Laura menulis banyak pesan bagi para pengikutnya. Pesan-pesan ini kelak di rumuskan menjadi konstitusi tarekat yang telah ia dirikan.

Sr Laura selalu menasihati rekanr-ekannya agar menjaga keseimbangan antara hidup apostolik dan kontemplatif. Berbekal pengalaman sebagai guru, ia mendidik masyarakat Indian melalui berbagai contoh praktis dan teladan hidup konkret. Ia meyakini itulah cara paling efektif membuka pintu hati dan budaya bangsa Indian sehingga Kristus bisa masuk dan tinggal bersama mereka.

Tetap Hidup
Selama bertahun-tahun tinggal di hutan bersama suku Indian, Sr Laura sering terserang demam, sampai daya tahan tubuhnya anjlok. Setelah diperiksa ternyata ia mengidap penyakit limfangitis akut. Penyakit ini memaksanya melanjutkan hidup di atas kursi roda. Limfangitis umumnya disebabkan oleh bakteri Streptococcus Pyogenes. Bakteri ini masuk dalam tubuh manusia melalui goresan, cidera, luka, dan gigitan serangga. Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan di daerah infeksi, radang tenggorokan, infeksi jantung, saraf tulang belakang, dan paru-paru.

Sr Laura tidak menyerah kepada penyakit yang menderanya ia tak sedikitpun mengeluh. Tak terasa, 35 tahun dilaluinya bermisi di tengah bangsa Indian. Sampai akhirnya pada 21 Oktober 1949, ia meninggal di usia 75 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Belencito, daerah termiskin di Medellín.

Selang 42 tahun pasca kematiannya, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengesahkan dekrit keteladanan rohani dan keutamaan hidup Sr Laura. Yohanes Paulus II menggelarinya beata pada 25 April 2004 menyusul pengakuan Takhta Suci atas mukjizat penyembuhan yang dialami oleh perempuan berusia 86 tahun pada 1994. Perempuan itu sembuh dari kanker rahim berkat doa melalui perantaraan Sr Laura.

St Laura dikanonisasi 12 Mei 2013 oleh Paus Fransiskus, Tahta Suci mengakui mukjizat yang dialami Carlos, penderita lupus, gagal ginjal, dan penuaan syaraf motorik. Meski telah tiada, ajaran dan teladan santa pertama Kolombia ini tetap hidup di tengah Gereja Kolombia. Gereja mengenang keteladanan rohani, keutamaan hidup, dan semangat kerasulannya tiap 21 Oktober.

Edward Wirawan

(Visited 1 times, 1 visits today)

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here