HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Paus Penentang Cesaropapisme

81
Paus Simplicius sedang mengajar di hadapan umatnya.
[zupajastrebarsko.hr]
Paus Penentang Cesaropapisme
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejak muda, ia telah membaktikan diri bagi Gereja hingga menjadi Paus. Masa kepausannya ditandai keruntuhan Kekaisaran Romawi dan munculnya Skisma Akasius di Konstantinopel.

Menginjak tahun 450an, masa kejayaan Kekaisaran Romawi mulai redup. Pada 16 Maret 455, Kaisar Valentinianus III (419-455) dibunuh. Lalu, terjadi perebutan kekuasaan. Suksesi Kekaisaran Barat ditandai “tsunami” perang dan revolusi. Para kaisar penerus Valentinianus III tak ada yang punya pengaruh kuat sehingga mudah sekali digoyang.

Situasi Roma diperparah dengan invasi Heruli, suku bangsa dari Jerman timur, di bawah pimpinan Flavius Odoacer (433-493). Pada 4 September 476, ia berhasil menggulingkan kaisar terakhir Romawi, Romulus Augustulus (460-476). Kaisar terakhir ini hanya memerintah selama sepuluh bulan (475-476). Odoacer pun mendeklarasikan diri sebagai Raja Italia. Awalnya, ia memerintah dalam bayang-bayang Kaisar Julius Nepos (430-480), yang menguasai Italia pada 474-475. Konon, Kaisar Julius Nepos melarikan diri ke daerah Perancis dan Dalmatia, lalu meninggal di sana tahun 480.

Kemelut itu menghiasi masa kepausan Simplicius (468-483). Dengan gigih, ia menjaga marwah Gereja, melindungi umat, dan menegakkan otoritas Takhta Suci di hadapan para bidaah.

Tegaskan Otoritas
Paus Simplicius lahir sekitar tahun 430. Ayahnya bernama Castinus, warga Tivoli, Lazio, Italia tengah. Setelah Paus Hilarius (415-468) wafat pada 28 Februari 468, Simplicius terpilih sebagai pengganti. Pemilihan Paus baru ini berjalan mulus karena namanya sudah dikenal di Roma sejak zaman Paus Leo I (390-461).

Kala Odoacer berkuasa, tak banyak muncul aturan baru. Sebagai seorang pengikut Arianisme, Odoacer tetap memperlakukan Gereja Katolik dengan baik. Ia tak banyak mengubah tata kelola masyarakat untuk menghindari kekisruhan administratif.

Saat itu, Gereja sudah berseteru dengan Monofisitisme. Alhasil, terjadi banyak kekacauan di Kekaisaran Timur. Paus Simplicius dengan tegas menegakkan independensi Gereja melawan Cesaropapisme Bizantium. Cesaropapisme adalah salah satu teori politik yang menganut paham bahwa pemimpin sipil atau negara (dalam hal ini kaisar atau raja), juga menjadi pemimpin tertinggi Gereja atau berlaku sebagai Paus.

Tahun 451, ada 28 kanon dalam Konsili Kalsedon yang memberikan previlese sama dengan Patriark Barat (Uskup Roma) kepada Takhta Konstantinopel. Sebelumnya, pemegang Takhta St Andreas itu hanya bergelar Uskup Agung Konstantinopel. Dengan adanya 28 kanon itu, mereka bergelar patriark. Paus menolak peningkatan status bagi Takhta Konstantinopel. Paus Leo I juga hanya merestui dekritdekrit yang bersifat dogmatis. Namun mulai tahun 451, Uskup Agung Konstantinopel Mgr Anatolius (†458) menjadikan dirinya sebagai Patriark Konstantinopel dengan dukungan Kaisar Bizantium, Marcianus (392-457). Anatolius telah menjadi Uskup Agung Konstantinopel sejak 449. Sejak saat itulah, relasi dua pusat kekristenan itu mengalami eskalasi konflik.

Kemelut Konstantinopel
Pada masa Paus Simplicius, Kaisar Bizantium, Leo II (467-474) yang hanya bertakhta pada Januari-November 474 menginginkan pengakuan status Konstantinopel sebagai kepatriarkan. Usaha ini ditolak Paus. Leo II naik takhta pada usia tujuh tahun, menggantikan kakeknya, Leo I (401-474). Leo II adalah putra Zeno (425-491), seorang panglima Bizantium yang memperistri putri Leo I, Ariadne (450-515). Zeno–yang bernama asli Trascalissaeus (Tarasikodissa)–memainkan peran penting mendampingi putranya sebagai Kaisar Bizantium, sebelum akhirnya naik takhta pada 474, menggantikan putranya yang meninggal. Konon, Leo II meninggal karena diracun.

Baru setahun bertakhta, Kaisar Zeno menghadapi pemberontakan Basiliscus (†477), seorang panglima Bizantium dan saudara ipar Leo I. Basiliscus adalah saudara Aelia Verina (†484), permaisuri Leo I. Pada 475-476, ia berhasil mendepak Zeno keluar Konstantinopel. Ia lalu naik takhta sebagai Kaisar Bizantium dan memperkeruh perseteruan soal Monofisitisme. Ia mencari dukungan kaum Monofisit dan merestorasi dua patriark pendukung Monofisit yang telah dilengserkan. Pertama, tahun 475, Patriark Alexandria, Timoteus III Salophakiolos (†481) dicopot oleh Kaisar Basiliscus dan Patriark Timoteus II Aelurus (†477)–yang sebelumnya telah naik takhta (457-460)–diangkat menggantikannya. Kedua, tahun 476, Patriark Antiokhia, Petrus II Fullo (†488) diangkat untuk kedua kalinya oleh Kaisar Basiliscus dengan melengserkan Patriark Julianus (471-476).

Untuk memperkuat posisi, Kaisar Basiliscus menerbitkan sebuah dekrit “Enkyklikon” kepada Patriark Timoteus Aelurus, yang menolak Konsili Kalsedon (451) dan dekrit Paus Leo I (390-461). Para uskup dan Patriark Konstantinopel, Akasius (†489) akhirnya menyetujui dekrit itu. Namun, gelombang resistensi muncul dari para rahib, klerus, dan umat yang tetap berpegang pada ajaran Gereja dan teguh berdiri bersama Paus Simplicius, yang berjuang menjaga martabat Gereja.

Paus Simplicius pun menegur Akasius dan Basiliscus. “Norma yang sama dari kuasa mengajar Apostolik ini dipertahankan dengan kuat oleh para Penerus St Petrus. Dialah yang dipercaya oleh Tuhan untuk menjaga seluruh kawanan domba-Nya. Tuhan juga telah berjanji untuk tidak meninggalkannya hingga akhir zaman,” tulis Paus Simplicius dalam surat kepada Kaisar Basiliscus, 10 Januari 476. Bapa Suci terang-terangan menyebut sang kaisar sebagai penyebab pergantian pemegang Takhta Aleksandria dan Antiokhia secara tidak sah.

Tahun 477, Kaisar Zeno berhasil mengusir Basiliscus dan merebut Takhta Bizantium. Ia lalu berkirim surat kepada Paus mengenai pengakuan imannya. Paus membalasnya dengan sukacita dan minta agar Gereja Timur direformasi.

Benteng Ajaran
Zeno segera mencabut semua dekrit Basiliscus. Ia melengserkan Patriark Petrus Fullo dari Takhta Antiokhia dan mengangkat Patriark Yohanes II Codonatus, yang hanya bertakhta tiga bulan (476-477). Namun, kaisar membiarkan Patriark Timoteus Aelurus yang sudah uzur untuk bertakhta di Aleksandria. Patriark Timoteus Aelurus wafat tahun 477 dan segera digantikan tokoh Monofisit, Patriark Petrus III Mongus (†490). Atas desakan Paus, kaisar segera melengserkannya dan memulihkan otoritas Patriark Timoteus Salophakiolos atas Takhta Aleksandria. Paus juga menetapkan Petrus Mongus, Petrus Fullo, Paulus dari Efesus (kini Selçuk, İzmir, Turki), dan Yohanes dari Apamea (kini Hama, Suriah) sebagai bidaah; lalu mengekskomunikasi mereka.

Tahun 497, kaum Monofisit melakukan perlawanan di Antiokhia. Pengganti Patriark Yohanes Codonatus, Patriark Stephanus II (477-479) dibunuh. Patriark Akasius segera mengangkat Patriark Calendion yang bertakhta pada 479-485. Mendengar hal itu, Paus memerintahkan Akasius agar mengusut tuntas pembunuhan itu.

Tahun 481, Patriark Timoteus Salophakiolos wafat dan digantikan Patriark Yohanes I Talaia (481-482). Tak lama kemudian, kaum Monofisit di Aleksandria berulah. Mereka mengangkat kembali Patriark Petrus Mongus pada 482. Perebutan Takhta Aleksandria ini disikapi berbeda oleh Patriark Akasius. Bersama dengan Zeno, Akasius memilih mendukung Petrus Mongus. Merasa mendapat dukungan, Petrus Mongus datang ke Konstantinopel dan menawarkan jalan damai antara Gereja dan Monofisitisme. Akasius pun setuju membuat “formula untuk kesatuan” dan meminta Kaisar Zeno mengeluarkan dekrit. Tahun 482, terbitlah “deklarasi iman” yang disebut “Henotikon” untuk mendamaikan Gereja dengan Monofisitisme. Kaisar minta Paus untuk melengserkan Patriark Yohanes Talaia dan mendukung Petrus Mongus. Menanggapi hal itu, Paus Simplicius akhirnya bersikap keras terhadap ulah Zeno, Akasius, dan Petrus Mongus. Ia menjadikan Roma sebagai benteng ajaran Gereja. Peristiwa ini menandai mulainya Skisma Akasius (484-519).

Selama masa kepausannya, Simplicius menahbiskan banyak imam sebagai upaya melayani Gereja, terutama Sakramen Baptis dan Pengakuan Dosa. Mereka ditugaskan di tiga pusat peziarahan umat di Roma, yaitu Basilika St Petrus, Basilika St Paulus, dan Basilika St Laurentius. Paus Simplicius wafat di Roma, 10 Maret 483. Jenazahnya dimakamkan di Basilika St Petrus Vatikan. Gereja memperingatinya tiap 2 Maret.

R.B.E. Agung Nugroho

(Visited 1 times, 1 visits today)

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here