HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Menyiagakan Amunisi Pertahanan Udara

76
Marsekal Pertama (Marsma) TNI Robert Soter Marut.
[NN/Dok.Pribadi]
Menyiagakan Amunisi Pertahanan Udara
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia bertanggungjawab menyiagakan pesawat tempur, amunisi, awak pesawat, dan kelayakan terbang pesawat TNI AU. Kini ia mendapat tugas membuat drone, pesawat nir-awak untuk pertahanan udara.

Bersama tiga pejabat teras Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Marsekal Pertama (Marsma) TNI Robert Soter Marut dilantik menjadi Kepala Dinas Aeronautika Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (Kadisaeroau), Kamis, 8 Januari 2015. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, melantik dia di Markas Besar AU Cilangkap, Jakarta Timur. Ia melanjutkan estafet kepemimpinan yang sebelumnya dijabat Marsma TNI Hasan Londang.

Marsma Robert, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Materiil AU (Kadismatau), segera menghadapi aneka tugas baru. Dalam lingkungan TNI AU, Dinas Aeronautika berperan melakukan pembinaan teknik dan pemeliharaan, serta menyiagakan pesawat tempur, senjata udara dan darat, amunisi, beserta sarana bantuan yang lain. Marsekal dengan bintang emas satu di pundaknya ini juga berperan melakukan pembinaan profesi personel teknik. Dalam menjalankan tugas ini, Marsma Robert berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada KSAU.

Lewat tugas ini, Marsma Robert menjadi “otak” di balik kesiapsiagaan seluruh amunisi dan personel pertahanan udara negeri ini, yang tersebar di 39 pangkalan TNI AU. “Hidup tentara itu harus siap berperang, harus siap siaga sepanjang 24 jam,” ujar umat Stasi St Agustinus Halim Perdana Kusuma, Paroki St Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur ini.

Setiap saat, ia harus melakukan pengawasan terhadap kesiapan pesawat tempur di semua pangkalan. Ia pula yang bertanggungjawab atas layak tidaknya pesawat tempur untuk mengudara. “Saya juga harus memberi pembekalan kepada awak pesawat, agar selalu siaga,” ujar putra pertama dari sepuluh bersaudara ini.

Menjadi astronot
Pria yang berulang tahun pada 22 April ini, lahir dan tumbuh dalam keluarga guru. Ayah dan ibundanya seorang pendidik. Maka, pendidikan menjadi hal yang utama dalam keluarganya. Ia menghabiskan masa kanak-kanak seperti anak-anak pada umumnya. Hanya setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, terbersit cita-cita menjadi seorang imam.

Ia pun masuk gerbang pendidikan Seminari St Pius XII Kisol, Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia ditempa dengan pendidikan yang taat aturan. “Pendidikan di seminari menjadi ladang disiplin bagi saya,” kenangnya ketika ditemui Minggu, 29/3.

Tapi rupanya, menjadi imam bukanlah panggilan hidup Robert. Tuhan telah menyediakan ladang lain untuk ia gali. Setelah menamatkan pendidikan di seminari, ia melanjutkan belajar di SMA Swadaya Ruteng, kini menjadi SMA Negeri I Ruteng.

Robert amat gemar mengotak-atik mesin. Ia suka membongkar lalu memasang aneka mesin. Maka, ketika sekolah nya mendapat tawaran mengikuti pawai per ingatan Hari Kemerdekaan RI, Robert di dapuk membuat miniatur sebuah roket. Dengan senang hati, Robert merancang dan membuat roket tiruan itu. Bahkan, ia pun berperan sebagai astronot tiruan juga. “Bersama teman-teman, saya membuat sebuah roket,” kisahnya sembari menebar senyum.

Pengalaman membuat roket dan berperan menjadi astronot ini amat membekas dalam benak Robert. Dari situlah terbit cita-cita menjadi prajurit negara. Ia ingin mengabdikan diri menjadi punggawa pertahanan negeri ini.

Maka, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, Robert mendaftarkan diri masuk Akademi Angkatan Bersenjata RI pada 1982. Dari ribuan pendaftar, Robert lulus seleksi.

Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama menjalani pendidikan kemiliteran. Dengan tekun dan kerja keras, ia melalui aneka pendidikan dan tempaan dunia militer. Bisa jadi, pengalamannya berperan sebagai “astronot-astronotan”, membuat ia memilih Angkatan Udara sebagai ladang pengabdian. Maka ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta. Kegemaran dengan dunia permesinan, membuat dia memilih bergabung dalam korps teknisi AU. “Saya memang memiliki minat yang kuat dalam dunia permesinan, terutama pesawat. Maka, ketika pimpinan memilih saya untuk mengurus mesin pesawat, saya berusaha belajar dan menjalankan tugas secara maksimal,” ujarnya.

Demi negara
Kerja keras, komitmen, serta kedisplinan, telah mengantar Marsma Robert menapaki tugas sebagai prajurit negeri ini. Semua itu ia jalani tak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan dan rintangan dalam tapak-tapak perjalanan karirnya di dunia militer. Robert pun terus mengasah dan menempa kemampuan sebagai teknisi pesawat. Karir militernya terus menanjak hingga kemudian diangkat sebagai Kepala Dinas Aeronautika TNI AU. “Pekerjaan sebagai teknisi pesawat itu ada di balik layar, tapi tidak mudah, karena saya harus memastikan sebuah pesawat layak terbang dan aman bagi awak pesawat. Ini berhubungan dengan nyawa manusia. Jika standar operasinal tidak diperhatikan bisa berujung kepada kecelakaan dan kematian awak pesawat,” tegasnya.

Selain menyiagakan pesawat tempur dan amunisi pertahanan udara, ia juga harus menyiapkan pesawat TNI AU jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Seperti ketika terjadi kecelakan pesawat penumpang Air Asia QZ 8501 di perairan Selat Karimata. Dengan sigap, Marsma Robert menyiagakan pesawat TNI AU untuk membantu mengevakuasi jenasah para korban.

Kini, ia sedang mengupayakan agar Indonesia memiliki pesawat-pesawat tanpa awak alias drone sebagai alat pertahanan negara. Robert bersama tim aeronautik TNI AU telah mengajukan proposal ke dinas penelitian TNI AU, agar bisa membuat drone di dalam negeri sebagai salah satu sarana pertahanan nasional. Sebenarnya, menurut Marsma Robert, pesawat tanpa awak atau yang dikenal sebagai drone ini, telah digagas sejak 2009.

Untuk mewujudkan sistem pertahanan udara ini, Marsma Robert menggandeng beberapa lembaga pendidikan tinggi, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Tentang drone, Marsma Robert mengatakan, “Semua ini demi pertahanan negara, serta demi kesejahteraan bersama.”

Marsma Robert Soter Marut
TTL : Manggarai, Flores, 22 April 1959
Istri : Euphemia
Anak : Christophorus Soecaesar M.

Pendidikan:
• SD Todo Manggarai, Flores
• SMP Seminari St Pius XII Kisol
• SMA Negeri 1 Ruteng
• Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri)
• Akademi Angkatan Udara Cranfi eld University Inggris
• Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI
• National Institue for Defence Studies, Jepang

Tanda Kehormatan:
• Satyalancana Dharma Dirgantara
• Satyalancana Kesetiaan XXIV Tahun
• Satyalancana Kesetiaan XVI Tahun
• Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun
• Satyalancana Gerakan Operarasi Militer VII (GOM Aceh)
• Satyalancana Seroja

Odorikus Holang

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here