HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Orang Karo Kompak di Kota Gudeg

76
Ceria: Para anggota KKY berfoto bersama di depan gua Maria Tritis, Gunung Kidul, Yogyakarta saat acara Ziarah pada tahun 2014.
[NN/Dok.KKY]
Orang Karo Kompak di Kota Gudeg
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Umat Katolik Karo Yogyakarta (KKY) membangun komunitas. Mereka menggelar kegiatan termasuk aksisolidaritas membantu korban erupsi Gunung Sinabung.

Sekitar tahun 1966, belasan mahasiswa asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara yang dipelopori oleh Slamet Sitepu, Komisi Singarimbun dan Petrus Sitepu berinisiatif untuk menghimpun seluruh mahasiswa Katolik asal Tanah Karo yang kuliah di Daerah Istimewa Yoyakarta (DIY). Inisiatif ini mendapat dukungan dari beberapa teman mereka. Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, merekasepakat memberi nama kelompok mereka Karo Katolik Yogyakarta (KKY).

Kelompok yang beranggotakan mahasiswa ini terbentuk berawal dari kerinduan untuk berkumpul bersama teman-teman sesuku sekaligus mempererat kekeluargaan dan persaudaraan di antara mereka di perantauan.

Waktu itu KKY belum memiliki kegiatan rutin dan susunan kepengurusan. Di sela-sela kesibukan mereka sebagai mahasiswa, para anggota KKY mencari waktu yang tepat untuk berkumpul dan berbagi pengalaman. “Dalam pertemuan itu, mereka juga saling mendukung dan meneguhkan ketika ada teman yang mengalami kesulitan dalam kuliah,” ungkap Ketua Umum Orang Muda KKY, Arie Kristanto Perangin-angin saat dihubungi HIDUP lewat telepon, Kamis, 26/3.

Terus Berkembang
Awalnya, KKY hanya merupakan organisasi orang-orang muda Katolik Karo yang sedang menempuh pendidikan di DIY. Lambat laun organisasi ini tumbuh dan berkembang menjadi komunitas yang melibatkan semua orang Karo Katolik yang tinggal di Yogya. Perkembangan itu terjadi ketika para perintis mulai membutuhkan pendamping.

Menurut Ketua Umum KKY, Darma Ginting, mereka kemudian berinisiatif bertemu dengan beberapa orangtua asal Karo yang sudah lama merantau di Kota Gudeg ini. Inisiatif tersebut mendapat tanggapan positif. “Sejak itu, anggota KKY berkembang mencakup semua orang Karo Katolik yang tinggal di Yogya,” katanya.

Kini anggota KKY yang aktif dalam berbagai kegiatan ada sekitar 30 orang yang sudah menikah, sementara yang muda berjumlah 50 orang. Setiap bulan dalam minggu keempat, KKY menggelar ibadat di rumah salah satu anggota yang sudah berkeluarga secara bergilir. Lalu, pada tahun 2013, mereka mendapat pendamping yaitu Romo Boy Sitepu SSCC. Setelah dua tahun, Romo Boy pada Februari 2015 digantikan oleh Romo Albion Simatupang. Ia adalah imam Keuskupan Sibolga yang sedang menempuh pendidikan S2 Manajemen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Mulai tahun 2015 ini mereka mulai mengadakan misa bulanan. Mereka juga mengadakan perayaan Natal, Paskah dan Valentine bersama. Melalui berbagai kegiatan ini, mereka ingin memupuk persaudaraan dan kekeluargaan. Kadang saking seringnya bertemu dan mengadakan kegiatan bersama, beberapa orang bahkan menemukan jodohnya di KKY.

Selain memiliki kegiatan rohani, lanjut Darma, KKY juga mengadakan kunjungan kepada anggota atau keluarga yang sakit. Bahkan ketika ada anggota yang meninggal, komunitas ini juga mengadakan kegiatan ngapul-ngapuli (menghibur keluarga yang berduka). “Sasaran kami adalah memperkuat persaudaraan antarsuku Karo yang merantau di kota ini,” kata Pria yang berprofesi sebagai pengusaha properti ini.

Arie Kristanto juga merasakan hal yang sama. Selain untuk memperkuat persaudaraan, bagi mahasiswa Karo, KKY bisa menjadi ajang untuk saling mengenal. Jika sudah saling mengenal, mahasiswa tidak merasa sendirian di tanah perantauan. Untuk itu, setiap tahun pada bulan September, KKY menggelar acara malam keakraban. Acara ini memiliki tujuan ganda, yakni memperkuat persaudaraan dan memperkenalkan KKY kepada mahasiswa baru. Supaya lebih hidup, dalam acara ini digelar landek (berjoget) bersama. Keesokan harinya, diadakan acara pendalaman budaya Karo. Pendalaman ini diberikan oleh salah satu anggota yang memahami budaya Karo. “Acara ini bertujuan untuk mengingatkan kepada semua peserta akan pentingnya menghidupi dan mewarisi budaya lokal,” tutur Arie.

Peduli Sesama
Komunitas Batak Karo ini juga pernah membuat acara besar. Acara terselenggara berkat kerjasama dengan komunitas Batak Karo beragama lain di DIY yang tergabung dalam Karo Jogja Peduli Sinabung (KJPS). Acara pada Minggu 14 Februari 2014 itu, diadakan untuk menggalang dana untuk membantu korban letusan Gunung Sinabung.

Acara yang digelar di Auditorium Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta ini, menampilkan kesenian khas masyarakat Toba, seperti landek (seni tari) dan musik khas Tanah Karo. Selain itu, video mengenai masyarakat Karo, bencana meletusnya Gunung Sinabung, serta kondisi masyarakat di pengungsian juga ditayangkan.

Panitia acara yang bertajuk “Dari Jogja Tuk Tanah Karo” ini sengaja tidak menjual tiket masuk. Namun setiap undangan yang hadir, diberikan sebuah amplop. Melalui ampop itu, mereka memberikan sumbangan sukarela. Dana yang terkumpul, dikirim ke tempat pengungsian dan sebagian digunakan untuk membantu mahasiswa Karo yang tidak mendapat kiriman uang dari orangtua karena keluarganya sedang terkena bencana.

Bangun Kerjasama
Dalam berkegiatan komunitas ini juga tidak menutup diri dan membatasi hanya di kalangan Katolik saja. Mereka juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat Karo yang beragama Kristen maupun Islam, seperti Gendang Guro-Guro Aron. Kegiatan ini merupakan pesta tahunan masyarakat Karo yang menyajikan kesenian dan makanan khas Karo. Tahun ini, mereka akan menggelar kegiatan tersebut pada 12 Mei 2015.

Arie mengaku dalam perjalanan komunitas ini tak luput tantangan. Dalam setiap kegiatan yang digelar tidak semua anggota bisa hadir karena tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun tantangan itu malah memicu budaya saling bantu-membantu. Anggota yang mempunyai kendaraan biasanya menjemput teman mereka yang tidak memiliki kendaraan agar bisa mengikuti kegiatan.

Untuk membiayai berbagai kegiatan tersebut, orang muda KKY berinisiatif mencari dana, misalnya dengan menjual puding dan cimpa, makanan khas Karo. Makanan ini dijual di kampus-kampus tempat mereka kuliah. Juga menggalang dana dengan menjadi petugas parkir di Gereja St Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Hasil dari parkir, 75 persen untuk KKY dan sisanya diberikan ke paroki setempat.

Anna Marie Happy/Celtus Jabun

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here