Sang Inspirator dari Ruang Carlo

454
Pelayan: dr Emon saat melayani pasien.
[NN/Dok.Pribadi]
Sang Inspirator dari Ruang Carlo
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Para penderita HIV/AIDS bagai sosok yang disediakan Tuhan agar ia bisa berbuat baik. Sebagai dokter, ia hanyalah pengikat sapu yang membuat rumah dan halaman sang pasien nampak bersih dan indah.

Ketika orang belum tahu atau menjauh dari HIV/AIDS, ia justru mendekatinya. Entah dorongan datang dari mana, dr Emon Winardi Danudirgo memutuskan belajar menangani para penderita HIV/ AIDS, pada medio 1998. Ia belajar sendiri. Tak ada jenjang pendidikan formal yang ia ikuti. “Saya hanya ikut seminar dan berbagai pelatihan, dan tentu saja membaca banyak referensi terkait virus itu,” ceritanya.

Ruang Carlo yang berada di Rumah Sakit St Carolus Jakarta tampak sepi pasien. Hanya beberapa pegawai dan perawat yang sibuk di meja administrasi. Mengenakan kemeja putih dan celana hitam, dokter Emon menemui HIDUP di ruang konsultasi berukuran tiga kali tiga meter, usai makan siang. Dokter Emon mengurai beragam kisah keterlibatannya dengan virus mematikan itu.

Ruang Carlo
Dokter Emon, salah satu penggagas Ruang Carlo. Bersama para Suster Cinta Kasih St Carolus Borromeus (CB), ia memulai pelayanan kesehatan dan konsultasi khusus bagi para penderita virus HIV/ AIDS di Rumah Sakit St Carolus Jakarta, pada 2012. Hanya dalam jangka dua tahun beroperasi, kini Ruang Carlo melayani pengobatan dan konsultasi bagi sekitar 1200 pasien HIV/AIDS setiap bulan.

Jauh sebelum pelayanan untuk para pasien HIV/AIDS ini memiliki ruang sendiri, dr Emon sudah berkonsentrasi untuk menangani para pasien HIV/AIDS. Berbekal pendidikan kedokteran spesialis penyakit dalam, ia mempelajari cara penularan, serta infeksi-infeksi turunan lain yang disebabkan virus mematikan itu. Tak ada tempat khusus untuk layanan ini. Para pasien hanya mengenal dr Emon dari mulut ke mulut.

Mula-mula, pasien HIV/AIDS dilayani satu pintu bersama unit layanan rawat jalan. Namun lama-lama, pasien kian banyak. Mulailah dipikirkan untuk membuat tempat khusus bagi pasien HIV/ AIDS. Maka jadilah Ruang Carlo.

Sr Sesilia Widiastari CB yang kini menjadi rekan kerja dr Emon di Ruang Carlo mengucap syukur, karena RS Carolus memiliki dr Emon. Selain me miliki pribadi yang mudah diajak bekerja sama, menurut Sr Sesil, dr Emon juga orang yang sangat rendah hati. Ketika gempa bumi melanda DI Yogyakarta pada 2006, dr Emon juga turut berjibaku melayani para korban di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Bagi dr Emon, para penderita HIV/ AIDS ini ibarat sosok yang disediakan Tuhan kepada dia, agar bisa berbuat baik. Umat Paroki St Kristus Raja Pejompongan, Jakarta ini mengatakan, “Setiap hari, Tuhan menyediakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik. Para pasien HIV/ AIDS adalah salah satunya. Sekarang kembali ke masing-masing pribadi. Mau menanggapi kesempatan itu atau membiarkan berlalu begitu saja.”

Menurutnya, tidak perlu membayangkan pekerjaan besar. “Cukup dengan memberikan senyuman dan sapaan kecil kepada pasien HIV/AIDS, itu bisa menjadi obat mujarab untuk membangkitkan kembali semangat hidup mereka,” tandasnya.

Ia pun mengaku turut senang jika bisa membantu para pasien lebih terbuka dan mau menerima kenyataan masa lalunya. Apa lagi jika bisa memediasi rekonsiliasi antar anggota keluarga. Sebab, tak sedikit keluarga yang pecah belah karena saling menyalahkan, bersatu lagi ketika tahu satu di antara mereka terdiagnosa menderita virus perongrong imunitas tubuh manusia itu.

Di Tanah Papua
Dedikasi untuk membantu orang lain sudah lama terbentuk dalam diri dr Emon, terutama sejak ia resmi menjadi dokter. Setelah menuntaskan kuliah di Fakultas Kedokteran Atma Jaya Jakarta, pada 1985, ia melayani sebagai dokter Puskesmas di Arso, Jayapura, Papua. Bersama sang istri, dr Maisie M. E. Johan, ia bekerja di Papua selama tujuh tahun. “Ya, kami bulan madu di Papua. Karena setelah menikah, kami langsung berangkat ke sana,” ujarnya sembari tertawa lepas.

Di Papua, ia bertemu dengan para misionaris yang sudah lebih dulu melayani Gereja. Ia jatuh kagum dengan para misionaris yang berkeliling dari kampung ke kampung untuk menjamah masyarakat, entah dalam bentuk pelayanan sakramen, kesehatan, maupun pendidikan.

Dokter Emon tak mau kalah. Ia menjalin kerja sama dengan Keuskupan Jaya pura untuk menyediakan pelayanan gratis bagi penderita penyakit tuberculosis (TBC). Ia membuat sistem, agar pengobatan berjalan efektif. Bagi masing-masing pasien yang menjalani pengobatan tahap pertama sampai ketiga harus membayar. Jika ia rutin menjalankan tiga tahap itu, maka pengobatan selanjutnya gratis se lama enam bulan. Jika sang pasien setia dengan semua tahapan pengobatan itu hingga sembuh, maka dr Emon mengembalikan uang yang sudah mereka bayarkan pada tiga tahap awal tadi dalam bentuk bibit sayuran, beras, atau bantuan pangan lain.

Sistem pengobatan ini mendapat sambutan positif. “Mereka yang tempat tinggalnya jauh dari Puskemas, datang dan membuat kemah di sekitar Puskesmas agar bisa rutin berobat. Banyak paroki, juga umat dari Gereja Kristen, yang menitipkan anggota jemaatnya supaya berobat di Puskesmas yang saya tangani,” kata dokter penyuka minuman kopi ini.

Selama masa pengobatan, masing-masing pasien memiliki alat makan sendiri. Bagi yang sudah sembuh total, mereka harus mengumpulkan kembali gelas yang pernah mereka gunakan untuk minum obat. “Di halaman Puskesmas itu tersusun tumpukan gelas yang menyerupai monumen kecil,” kisah dr Emon.

Sebagai pelayan kesehatan, dr Emon mengatakan bahwa dirinya hanyalah pengikat untuk sekian banyak lidi, yang tidak lain adalah orang-orang yang turut andil dalam melayani para pasien. “Bersama mereka, saya menyapu halaman dan rumah para pasien hingga bersih dan indah. Sehingga mereka pun bisa menikmati hidup sebagaimana mestinya.”

Maka, menurut alumnus Kolese Kanisius Jakarta ini, dalam karya pelayanan kesehatan tidak boleh ada yang mengklaim bahwa karya itu milik pribadi. “Apapun hasilnya, apapun bentuknya, itu adalah pekerjaan bersama. Karena di mana ada kesinergisan, di situ ada spirit yang tidak pernah akan padam!”

dr Emon Winardi Danudirgo
TTL : Jakarta, 21 Maret 1957
Istri : dr Maisie M. E. Johan
Anak : Hanna Danudirgo dan Dian Danudirgo

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta
Spesialisasi penyakit dalam di St Thomas University Hospital Filipina

Tugas:
Puskesmas Arso, Jayapura, Papua (1985-1992)
Rumah Sakit St Carolus Jakarta (1992-sekarang)

Stefanus P. Elu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here