[ilustrasi: http://www.pictaramclub.com/tag/percasis]
Kejujuran: Senjata Orang Benar
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Redaksi menerima tulisan dari Rm.Hady Setiawan, Pr, seorang pastor di Gereja St. Fransiskus Xaverius, Kuta, Bali tentang kejujuran (yang dibagikan oleh Sergio Putra, seminaris yang tinggal di Tuka, Dalung, Bali). Jika kita bertanya, manakah yang ingin dipilih, kejujuran atau kesuksesan? Semoga tulisan ini dapat menginspirasi anda.


Thomas J Stanley Ph.D mengadakan sebuah penelitian terhadap kesuksesan seseorang dengan berbagai macam jenis pertanyaan antara lain, apa yang menyebabkan orang sukses? Apakah karena IQ, pandai di kelas, favorit atau lulus terbaik. Ternyata hasil surveynya menyatakan urutan (yang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang) sebagai berikut:

1.Jujur
2.Disiplin
3.Gaul (Good Interpersonal Skill)
4.Dukungan dari pasangan hidup
5.Bekerja lebih keras dari yang lain
6.Mencintai apa yang dikerjakan
7.Kepemimpinan yang baik dan kuat (good and strong Leadership)
8.Semangat dan berkepribadian kompetitif
9.Pengelolaan kehidupan yang baik (good life management)
10.Kemampuan menjual gagasan dan produk (ability to sell idea or product)
Ternyata nilai JUJUR menjadi acuan no.1 .

Kejujuran: sebuah bintang
Dalam sebuah kisah Yusuf bin Yakub yang adalah putera Yakob atau Israel (Kitab Kejadian bab 37 – 50). Yusuf digambarkan sebagai anak kesayangan Yakub (Israel) dari istri yang paling dikasihinya yaitu Rahel. Adiknya bernama Benyamin.

Sebagai anak yang dikasihi Yakub, Yusuf mendapat perlakuan istimewa. Yakub mendidik anak-anaknya dari 4 istri: Lea-Rahel; Bilha dan Zilpa. Penanaman nilai iman kepada Tuhan dan nilai jujur, disiplin dan tanggung jawab merupakan bagian dari pendampingan hidup yang perlu dilaksanakan dalam kehidupan keluarga.

Rupanya Yakob/Israel berhasil menanamkan nilai jujur kepada anak-anaknya, khususnya Yusuf. Karena itu Yusuf tidak merasa janggal menceriterakan apa yang menjadi mimpinya tanpa pikir ada resiko dibalik semua itu.

Yusuf berceritera:” Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceriterakannya kepada saudara-saudaranya, sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya. Karena katanya kepada mereka: ”Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini.Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri, kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu” (Kel. 37:5-7).

Kejujuran Yusuf melahirkan ketidak-senangan saudaranya. Dengan diam-diam saudara-saudaranya menaruh dendam kepadanya sambil menunggu waktu yang tepat. Rupanya Yusuf dirasakan seperti “duri dalam daging”, sehingga pantas bila ia dienyahkan. Inilah resiko kejujuran.

Sesudah Yusuf dijual, ia mengalami percobaan kejujuranya ketika ia bekerja di rumah Potifar. Istrinya suka kepada Yusuf dan dengan berbagai cara merayunya. Namun Yusuf tahu tentang hak dan kewajiban dalam kepolosan. Ia tidak mau dibujuk dengan akibat ia dipenjarakan (lihat Kejadian 39:1-23).

Sebagai orang jujur, Tuhan tidak membiarkan Yusuf berada di penjara, tetapi pada waktunya dibebaskan (Kejadian 40-41). Sesudah dibebaskan, Ia menjadi penguasa (Kejadian 41-37-57) dan kemudian mimpinya menjadi kenyataan.

Nilai kejujuran: nilai yang diperjuangkan orang benar
Kejujuran merupakan suatu nilai kehidupan yang perlu diperjuangkan dan dilakukan pada waktunya dalam kehidupan manusia. Nilai jujur adalah nilai bersahaja, anugerah yang Tuhan berikan kepada manusia. Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan semua dalam keadaan baik dan bagus; bersih dan jernih, namun sering manusia kalah dan menyerah.

    1. “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia:”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati (Kej 2:16-17); dan perintah ini awalnya disadari sebagai nilai yang baik dan ditaati namun kemudian dilanggar.
    2. Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu:”Buah pohon-pohonan ini boleh kaumakan, tetapi tentang pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman:”Jangan kamu makan atau pun raba buah itu, nanti kamu mati”. Tetapi ular berkata:”sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 3:2-5)

Jujur adalah suatu nilai. Kejujuran menjadi kata sifat yang berkaitan dengan tindakan yang mengalami suatu proses penjadian yang terjadi dalam proses pendidikan. Pendidikan itu disebut pendidikan integritas yakni pendidikan yang mengedepankan pembangunan karakter.

Pendidikan tidak hanya mengandalkan teori tetapi juga praktek dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal kecil misalnya tahu tentang hak diri sendiri dan hak orang lain yang harus saling dihargai dan dihormati; berbicara apa adanya dengan kepolosan dan membantu dengan ketulusan hati.

Praktek nilai jujur harus ada dalam benak dan pikiran anak karena manusia diciptakan baik adanya. Dalam dunia pendidikan kejujuran penting menciptakan faktor kondisional yang dapat mengundang dan menunjang nilai jujur.

Pendidikan karakter penting bagi pertumbuhan individu khususnya seminaris yang akan menjadi pemimpin yang diandalkan atau dengan kata lain untuk menjadi manusia seutuhnya.

Dalam proses penjadian manusia yang utuh tersebut ada enam (6) jenis karakter yang menjadi dasar keutuhan makhluk ciptaan (menurut Josef Institute of Ethics) antara lain:

  1. Trustworthines yaitu bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi berintegritas, jujur dan setia;
  2. Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain;
  3. Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain dengan kondisi sosialnya;
  4. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain;
  5. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta perduli terhadap lingkungan alam dan sekitarnya;
  6. Responsibilities, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggungjawab, disiplin dan selalu melakukan sesuatu sebaik mungkin.

Selamat tetap jujur dan berada dalam jalur kebenaran.

(ab)

(Visited 1 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here