RP Robert Ramone CSsR : Imam Redemptoris Pelestari Adat Sumba

165
Penghargaan: Romo Robert ketika menerima penghargaan Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman dari Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryati.
[NN/Dok.Pribadi]
RP Robert Ramone CSsR : Imam Redemptoris Pelestari Adat Sumba
4 (80%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Melalui foto, imam Redemptoris ini memperkenalkan Sumba kepada dunia. Ia juga mendirikan rumah budaya yang menjadi miniatur Sumba. Romo Robert pun menerima beberapa penghargaan atas karya melestarikan budaya Sumba.

Saya ingin Sumba bisa dikenal seperti Bali!” harap RP Robert Ramone CSsR yang pada awal September lalu menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia menerima anugerah sebagai “Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman”. Penghargaan ini diterima imam Congregatio Sanctissimi Redemptoris (CSsR) ini atas karyanya mengelola Rumah Budaya Sumba di Kalembu Nga’ Bangga, Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah budaya ini dibawah naungan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba.

“Saya tentu senang menerima penghargaan ini. Kami belajar bahwa yang dilestarikan atau dimuseumkan bukanlah debu, tetapi api. Api yang selalu memberi kehangatan serta inspirasi,” tulis Romo Robert melalui surat elektronik beberapa waktu lalu.

Melalui rumah budaya yang dibangun pada 2011 ini, Romo Robert memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian budaya Sumba. Paling tidak sudah ada 34 rumah adat Sumba yang berada di wilayah Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, berhasil dilestarikan. Selain melestarikan rumah adat, Romo Robert juga menjadi jembatan para donatur menyalurkan santunan bagi beberapa sanggar tari tradisional di Sumba.

Empat tahun lalu, 2010, Romo Robert juga mendapatkan apresiasi atas karyanya. Ia menerima NTT Academia Award kategori “Humaniora dan Pelestari Budaya”. Satu tahun kemudian, ia meraih penghargaan sebagai “Promotor Pariwisata Sumba” atas hasil karya foto yang dinilai turut andil dalam melestarikan budaya Sumba.

Lewat Foto
Romo Robert lahir dari keluarga petani di desa terpencil Gallu Wawi, Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya. Sebelum menjadi penganut Katolik, ia menjalani kepercayaan agama asli Marapu. Ia baru dibaptis ketika berusia 16 tahun. Sang ibu yang mengenalkan kepada dia tentang adat istiadat Sumba. Setiap kali berdoa di makam leluhur, sang ibu selalu memberi sirih dan buah pinang kepada Robert, lalu menyuruhnya meletakkan sirih dan pinang itu di atas makam. Sembari memberi sirih dan pinang, ibu berpesan kepada Robert, “Berdoalah untuk mereka serta mohonlah berkat bagi hidupmu.”

Peristiwa sederhana ini justru membawa dampak besar dalam diri Robert. Ritual adat dan pesan sang ibunda itu terus ia genggam dalam hati, hingga kemudian menerbitkan rasa cinta mendalam kepada adat istiadat leluhurnya.

Setelah ditahbiskan sebagai imam, kecintaan terhadap adat Sumba tak pernah luntur. Ia pun mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba. Melalui lembaga ini, imam kelahiran 29 Agustus 1962, ini ingin merekam setiap peristiwa adat di tanah kelahirannya. Tapi sayang, ia tak memiliki alat untuk merekam peristiwa- peristiwa yang semakin langka itu. Untunglah, seorang saudara sepupunya mengerti gerakan hati Romo Robert. Ia menghadiahkan sebuah kamera saku merek Fujica kepada Romo Robert.

Romo Robert pun mulai membidik setiap peristiwa adat dengan kamera saku yang sederhana itu. Ia belajar fotografi secara otodidak. Tema-tema budaya Sumba menjadi perhatiannya. Seiring waktu, kiprah Romo Robert dalam dunia fotografi kian diakui. Beberapa kali, ia menggelar pameran hasil jepretan kameranya di Jakarta, Bali, dan Kupang.

Selain itu, Romo Robert berupaya memperkenalkan adat Sumba dengan men cetak kartu pos yang berisikan foto peristiwa adat di Sumba. Kartu-kartu pos itu pun telah melalang buana hingga ke daratan Eropa, seperti Jerman dan Belanda. Merasa tak cukup, Romo Robert pun menyusun sebuah buku fotografi bertajuk Sumba Forgotten Island yang telah dipublikasikan sampai ke mancanegara.

Miniatur Sumba
“Kita harus menjaga agar budaya tidak menjadi ‘buaya’ yang tidak berbudaya dan beradab! Itulah keinginan saya sebagai orang Sumba. Mencintai budaya sendiri dan membangun hidup atas dasar budaya saling menghargai dan toleransi,” tegas imam yang kini selalu menggunakan kamera merk Canon untuk mengabadikan beragam peristiwa budaya di Sumba.

Ia juga berharap, rumah budaya yang ia dirikan akan menjadi ikon Sumba. Rumah budaya ini akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengenal lebih dekat dengan budaya Sumba. Dalam rumah budaya yang berada tak jauh dari kompleks Seminari Menengah Sinar Buana, Keuskupan Weetebula ini, terdapat beberapa artefak budaya Sumba. “Pengunjung yang tak ingin berlama-lama di Sumba dapat mengenal Sumba lewat rumah budaya. Rumah budaya ini seperti miniatur Sumba,” ujar putra bungsu dari empat bersaudara ini.

Menurut Romo Robert, sebagai seorang Katolik, ia juga tak bisa mengingkari budaya yang hidup di sekitarnya. Ia menegaskan, “Yesus juga tidak pernah mengingkari diri sebagai orang Yahudi. Tapi, Yesus kritis terhadap budaya Yahudi. Demikian juga orang Sumba, harus kritis terhadap budayanya sendiri.”

RP Robert Ramone CSsR
TTL : Sumba Barat Daya, NTT, 29 Agustus 1962
Orang tua : Dita Panna dan Pati Bebe
Tahbisan : 25 Agustus 1992

Pendidikan:
• Filsafat dan Teologi di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta

Tugas:
• Pastor Rekan Paroki St Maria Homba Karipit, Sumba (1992-1993)
• Pastor Rekan Katedral Weetebula, Sumba (1993-1994)
• Socius Studentat Redemptoris di Yogyakarta, pastoral di Paroki St Alfonsus Nandan dan Paroki St Albertus Agung Jetis (1994-1996)
• Pastor Paroki St Petrus dan Paulus Waikabubak, Sumba (1994-2001)
• Direktur Rumah Retret St Alfonsus Weetebula, Sumba (2004-2010)
• Direktur Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba (2011-sekarang)

Penghargaan:
• NTT Academia Award 2010
• Promotor Pariwisata Sumba dari Wakil Presiden RI (2011)
• Pelestari Budaya dari Corporate Social Sustainable, School of La Tofi , Jakarta (2011)
• Penghargaan kategori Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (2014)

Aprianita Ganadi

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here