Doa, Kampanye, dan Politik

180
[Ilustrasi:pixabay.com]
Doa, Kampanye, dan Politik
4.5 (90%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Usai membaca tulisan saya tentang Agama dan Politik yang diterbikan di majalah ini, seorang sahabat bertanya, apakah mendoakan seorang calon pilkada adalah bagian dari kampanye?

Dengan tegas saya jawab, ya! Persis pada saat yang bersamaan dalam sebuah group WA kelompok umat tertentu, saya ulangi, kelompok umat tertentu, muncul sebuah posting yang isinya kurang lebih mendoakan sepasang calon gubenur dan wakil gubenur di sebuah provinsi yang akan mengadakan pilkada tahun ini.

Seperti biasa, WA group tersebut ramai dengan tanggapan ini itu dan mayoritas setuju dan memberikan tanda jempol atau tepuk tangan, cara yang sangat awam untuk memperlihatkan sikap diri di group media sosial tersebut.

Pujian dan dukungan atas doa virtual tersebut berhenti karena protes yang saya sampaikan. Kelompok umat beragama bukan basis masa politik dari partai atau calon tertentu. Komunitas umat beriman tidak pernah berafiliasi dengan kelompok atau golongan politik manapun.

Komunitas umat beriman tidak pantas dan tidak layak sama sekali digunakan sebagai kuda tunggangan oleh siapapun, bahkan oleh calon yang memiliki agama yang sama dengan komunitas tertentu. Komunitas umat dibangun, dibesarkan untuk kebutuhan rohani umat, bukan kebutuhan politik sesaat.

Sayangnya rambu-rambu ini dilanggar dengan sadar oleh banyak tokoh yang menganggap dirinya orang yang layak dituakan di kalangan umat beriman, tetapi sejatinya singa berbulu domba.

Mungkin karena kemampuan finansial atau karena kedekatan dengan struktur gerejawi, mereka memiliki legitimasi informal untuk mengadakan, mengumpulkan dan menggerakan umat.

Sepintas lalu, dalam setiap acara yang dimotori oleh ‘singa berbulu domba’ tersebut, tidak terlihat jargon-jargon politik, tetapi caranya menampilkan orang-orang tertentu dalam setiap kegiatan, baik sebagai ketua atau pengurus dalam acara-acara umat beriman menegaskan strategi memanggungkan orang tertentu yang sedang mengarahkan langkahnya dalam persiapan pemilu.

Sikap dan cara yang baru saja saya sebutkan di atas adalah wajah lain dari ‘doa politik’, tidak semestinya memiliki rongga ruang dalam kumpulan umat beriman.

Walau demikian tetap harus dibedakan antara doa pada satu paslon (pasangan calon) dan doa untuk semua paslon. Nah, di sinilah letak perbedaannya. Karena teman yang sempat bertanya tadi memberikan pertanyaan lanjutan, bagaimana kalau doa tersebut ditujukan untuk kesehatan, kebaikan, kesuksesan dan kemenangan dari semua calon yang ada. Pada uraian seperti ini, maka dengan jelas bahwa tidak ada kampanye politik kekuasaan. Yang ada adalah kampanye politik kesejahteraan.

Setarikan nafas dengan kalimat terakhir ini, maka komunitas umat beriman harus berpolitik. Komunitas umat beriman harus menyuarakan the voiceless. Komunitas umat beriman dengan cara tertentu harus mampu membangun strategi berlapis untuk membuat attract the attention terhadap sebuah ketidak adilan.

Spirit option for the poor adalah sebuah pilihan politis. Bahwa ada kelompok yang mengkonsentrasikan diri pada kegiatan karitatif, tidak dengan sendirinya menutup ruang agar bersinergis pada kelompok lain yang memperkuat basis kebijakan publik, agar option for the poor menjadi tindakan politis negara.

Sejatinya sebuah pembangunan yang berkeadilan adalah pembangunan yang memberikan keuntungan lebih besar bagi mereka yang paling tidak diuntungkan. Sekedar contoh kecil, ketika negara membangun jalan, maka yang pertama sekali diperhatikan adalah bagaimana saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik bisa memanfaatkannya dengan baik.

Prinsip keadilan ini adalah terjemahan dari option for the poor. Penjelasan ini tentu tidak mudah dipahami apalagi dilaksanakan.

Saya mencoba memberikan contoh yang lebih nyata. Suatu kali saya dan teman teman menonton pertandingan sepakbola di Stadion Bernabeu. Salah satu dari teman kami tersebut, kebetulan orang Mesir harus bergerak di atas kursi rodanya. Setelah membayar tiket masing masing, kami semua masuk stadion kebanggan kota Madrid tersebut.

Kami harus duduk di atas balkon yang sepertinya butuh teropong untuk melihat tulisan dibaju para pemain. Sementara teman tadi yang duduk di kursi roda diberikan fasilitas khusus, jalur kusus dan duduk paling di depan.

Yang lebih menyenangkan adalah dia berhak ditemani oleh seorang yang bisa mendorong kursi roda tersebut. Sayangnya saya tidak kebagian, si teman Mesir memilih seorang gadis cantik untuk mendorongnya.

Cerita singkat ini memperlihatkan bahwa prinsip keadilan sudah diterapkan. Dengan kata lain spirit option for the poor sudah terwujud dalam kehidupan sehari hari secara publik. Atau dalam bahasa administratifnya, pemerintah setempat telah mengamalkan undang-undang dan membuat peraturan turunan, agar semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap fasilitas umum.

Sebagai penutup, saya mengutip tulisan Hendri J.M Nouwen dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, In The Name of Jesus, Reflections on Christian Leadership, halaman 19. Kalau Anda sakit, Anda membutukan dokter yang baik; kalau Anda miskin Anda membutuhkan ahli politik yang pandai.

Ungkapan tokoh spritualitas Kristiani ini secara tidak langsung memberikan arahan bagi kita. Bagaimana sebaiknya berpikir dan bertindak dalam tahun politik, tahun pemilu, tahun di mana kesalahan memilih seorang calon bisa memperpanjang penderitaan the voiceless dan sebaliknya. Bila pilihan calon kita tepat, maka jalan rusak, pasar kumuh, petani tertipu oleh pupuk palsu, sekolah tanpa arah, bisa berubah secara bertahap tetapi pasti.

 

Advent Tambun

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

3 COMMENTS

  1. Advent, aku tetap bingung: boleh nggak sih doa untuk kampanye? Boleh asal sesuai dengan kemauan Advent gitu?

  2. Maaf, saya baru baca commentnya….
    Boleh tahu letak kebingungannya di mana?
    Saya sama sekali tidak mengatakan harus sesuai dengan kemauan saya? Saya heran, mengapa kesimpulan ini muncul?
    Doa dengan menyebutkan nama paslon, saya tidak setuju, itu adalah bentuk kampanye politis. Apalagi doa itu adalah doa publik, dan hanya menyebutkan satu paslon saja.
    Saya harap dengan penjelasan ini sudah paham…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here