Jalan Salib Sang Dekan

992
Angela Oktavia Suryani.
[HIDUP/Yanuar Marwanto]
Jalan Salib Sang Dekan
3.9 (77.14%) 7 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dulu ia terkenal sebagai dosen pelit senyum. Ia juga kerap membuat mahasiswanya menangis dan ketakutan. Transformasi dirinya terjadi ketika bertemu dua tokoh humanis.

Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta membuka lowongan untuk posisi dekan. Tapi, tak banyak dosen di fakultas tersebut tertarik mengambil peluang itu. Syarat minimal -salah satunya– memiliki jabatan akademik di tingkat lektor, bukanlah faktor pertama yang menganjal di batin para dosen di sana.

Alasan utama mereka bila menjadi dekan bakal menghambat karir akademik menuju profesor. Waktu dan tenaga mereka untuk meraih poin kredit bisa tergeser dengan urusan operasional kampus. Hal itu diungkapkan oleh mantan Sekretaris Program Studi Psikologi (Prodi S1), Angela Oktavia Suryani, saat ditemui di ruang kerjanya, di Gedung C, Unika Atma Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 13/2.

Alhasil, jelang penetapan kandidat, baru dua dosen yang masuk bursa dekan. Sementara syarat minimal legitimasi proses itu adalah lebih dari dua kandidat. Sejumlah dosen mendorong Angel, sapaannya, untuk menambah kuota tersebut. Perempuan kelahiran Jakarta ini semula menolak. Tapi, ia berpikir, jika tak ada dekan, siapa yang bakal membubuhkan tanda tangan di ijazah mahasiswanya?

Memikul Salib
Angel akhirnya mendaftar sebagai kandidat. Langkah itu ia ambil semata-mata untuk memenuhi syarat minimal. “Saya sebagai penggembira saja dan hanya mau sampai tahap bakal calon,” tegasnya. Belakangan ada satu lagi rekannya yang ikut seleksi. Total ada empat kandidat.

Dari empat kandidat, terpilih tiga menjadi bakal calon melalui voting para dosen. Pada tahap ini, mereka mempresentasikan visi-misi, serta program pengembangkan fakultas. Saat presentasi, Angel tak menyiapkan materi ke dalam power point. Semua bahan hanya ia tulis di secarik kertas. Pada kesempatan itu, ia juga gamblang menolak peluang menjadi dekan.

Proses terus mengerucut hingga terpilih dekan baru dan Angel berperan sebagai wakil dekan. Beberapa pekan jelang pelantikan, dekan terpilih mengundurkan diri karena kesehatan. “Ia ingin fokus pada pengobatan,” ungkap Angel, mengutip alasan atasannya itu kepadanya lewat telepon.

Pemilihan ulang tak mungkin diadakan kembali. Waktu amat mepet karena perlu segera ada dekan baru. Jalan satu-satunya adalah memanggil seluruh bakal calon. Universitas meminta pendapat dan kesediaan langsung para calon. Proses tersebut berjalan gesit. Angel yang semula dijadwalkan wawancara pukul 10.00 maju menjadi pukul 07.00.

Ada dua orang saat Angel masuk ke rektorat, Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko dan Wakil Rektor I Juliana Murniati. Prasetyantoko hanya mengajukan satu pertanyaan kepadanya. “Bersediakah Bu Angel memikul salib ini?” beber Angel, mengulang pertanyaan pimpinannya itu.

Ia terdiam beberapa saat. Rasanya, aku Angel, tak mungkin ia menolak salib. Ia mengumpulkan keberanian dan menjawab siap untuk tugas itu. Selang tiga jam pasca pertemuan di rektorat, Angel menerima kabar. Surat Keputusan Yayasan Atma Jaya tentang pengangkatannya sebagai dekan keluar.

Sehari kemudian Angel berziarah ke Lampung. Acara ini sudah ia agendakan jauh hari bersama rekan-rekannya di Seksi Komunikasi Sosial Paroki St Lukas Sunter, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Saat Jalan Salib di sana, ia seakan bercermin. Tanggung jawab yang baru dipercayakan kepadanya mirip seperti Via Dolorosa.

Tugas itu berat, penuh rintangan, serta jatuh-bangun. Tapi, ia percaya, akan ada “Simon dari Kirene”, “Veronica”, dan orang-orang yang bakal membantunya memikul salib hingga ke puncak. “Akhir dari Jalan Salib adalah kemenangan. Tapi sebelum itu saya harus mati. Bukan fisik, melainkan mematikan seluruh ego pribadi saya agar all out mengurus fakultas,” ungkap Pemimpin Redaksi Warta Paroki Sunter itu.

Transformasi Diri
Sebelum hijrah ke Belanda untuk melanjutkan studi doktoral, Angel terkenal sebagai dosen menakutkan bagi banyak mahasiswa di fakultasnya. “Mba Angel tak pernah tersenyum di hadapan mahasiswa. Jika kami menyapa, ia tak membalas,” aku Dewi Setyorini, alumna tahun 2007.

Dosen Psikometri ini mengamini kesan mantan mahasiswanya itu. Bahkan, kenang Angel, ada mahasiswa yang menangis dan ketakutan karenanya. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan F.X. Subandiyanto dan Margaretha Maria Hartati ini pun mengaku sangat tinggi hati kala itu.

Pada suatu hari, misal, ia pernah membuang pekerjaan mahasiswa di lantai karena tak sesuai dengan ekspektasinya. Umpatan otak di dengkul pun ia alamatkan kepada mereka. Ia takkan menggubris jika pertanyaan itu tak berbobot dan ada jawabannya di buku pegangan. “Saya tak menerima pertanyaan bodoh,” ungkap Magister Psikometri Universitas Indonesia ini.

Ia sadar banyak mahasiswa sakit hati. Rasa percaya diri mereka juga runtuh akibat perlakuannya. Angel menikmati itu. “Saya senang jika ada mahasiswa yang menangis dan takut. Artinya, mereka mengakui kompetensi saya,” kenangnya.

Transformasi dirinya terjadi ketika berada di Negeri Tulip. Perubahan itu ia alami dari teladan dua promotor doktornya, A. J. R. van de Vijver dan Y. H. Poortinga. Sikap kedua guru besar psikologi lintas budaya itu berbanding terbalik dengan pribadinya. Mereka selalu menyapa, menanyakan keadaan, dan membantu mahasiswa.

Mereka juga, tambah Angel, selalu menjawab apa pun pertanyaan mahasiswa. Mereka pun senantiasa memberikan masukan dan arahan sangat jelas kepada anak didiknya. Sikap mereka jauh berbeda dengan Angel. Selama menjadi dosen, alih-alih memberikan petunjuk yang jelas, ia justru kerap memvonis mahasiswa.

Angel seakan tertampar dengan peristiwa itu. “Mereka yang mengaku dirinya tak religius bisa begitu rendah hati, sementara saya, yang mengaku diri sebagai orang beragama, bahkan dibaptis sejak kecil justru amat sombong,” akunya, lirih.

Berbagai kisah dan teladan hidup yang ia dapat selama di Negeri Kincir Angin perlahan membuka jalan pertobatannya. Ia menyadari, Tuhan memiliki rencana baginya. Bukan hanya untuk lebih mendalami psikologi manusia, tapi yang utama agar ia introspeksi dan berbenah diri.

Jelang sidang doktoral, ia memohon kepada Tuhan agar bisa membaktikan diri dan ilmunya untuk paroki dan keuskupan. “Tapi, apa yang Gereja perlukan dengan ilmu psikometri,” tanya doktor psikologi lintas budaya ini, retoris.

Doa Terjawab
Seiring waktu, doa Angel waktu itu mulai terjabah. Pada suatu hari, ketika sudah berada di Tanah Air, ia mendapat telepon dari Sekretaris KAJ, Romo Vincentius Adi Prasojo. Romo Adi, panggilannya, meminta bantuan Angel untuk melakukan assessment di Seminari Wacana Bhakti. Setelah itu, keuskupan juga meminta hal serupa untuk Seminari Tinggi St Yohanes Paulus II Jakarta.

Angel kian menyadari, bahwa Tuhan punya maksud dalam setiap langkah dan karya manusia. Asalkan ia terbuka dan rendah hati pada “undangan” dan kehendak-Nya. Sikap itu pula yang menjadi dasar perjuangan Angel menangani Fakultas Psikologi sebagai salah satu armada jalan salib hidupnya.

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here