St Dymphna ( Abad VII ): Bunga Lili Irlandia

134
St Dymphna.
[bluemaize.net]
St Dymphna ( Abad VII ): Bunga Lili Irlandia
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia menjadi teladan kesucian. Remaja ini juga menjadi pelindung penderita gangguan mental dan korban inses. Lokasi kemartirannya menjadi terkenal di kalangan psikiater.

Kehidupan Dymphna nyaris sempurna. Ia takkan kekurangan secara finansial. Remaja berparas manis ini lahir di tengah keluarga bangsawan. Ayahnya, Damon, adalah Raja Airgíalla (kini: Oirialla), Irlandia. Sebagai anak semata wayang, Dymphna bakal mewarisi seluruh kekayaan dan takhta kerajaan.

Perhatian dan kasih sayang orangtua sepenuhnya tercurah kepada Dymphna. Tapi Dymphna paling akrab dengan sang ibu. Bahkan, banyak yang mengatakan, wajah dan perangai mereka bak pinang dibelah dua. Sang ibu adalah penganut Katolik nan taat. Darinya, Dymphna mengenal iman dan nilai-nilai kekatolikan. Sementara sang ayah adalah penganut Pagan.

Pada usia yang masih amat belia, 14 tahun, Dymphna memutuskan untuk hidup wadat. Ia ingin menjadi mempelai setia Kristus, serta meneladani kesucian Bunda Maria. Namun, setahun kemudian, ibunya meninggal. Peristiwa duka itu mengguncang mental ayahnya. Sejak saat itu, tragedi Dymphna dimulai.

Mencari Pengganti
Damon amat berduka dan terpukul ketika sang ratu mangkat. Wajahnya murung. Suasana kerajaan pun menjadi muram. Rupanya, saking cinta kepada sang istri, ia tak kuasa melepas kepergian dan berserah diri kepada takdir. Padahal hukum keseimbangan berbunyi setiap perjumpaan selalu ada perpisahan.

Melihat raja bermuram durja terus-menerus, para penasehat kerajaan mengusulkan agar Damon menikah kembali. Semula raja menolak. Ia tak ingin ada orang lain masuk dan menggantikan posisi ratu di hatinya. Seiring waktu, pendirian raja luluh. Ia mengikuti saran penasehatnya.

Damon memerintahkan bawahannya untuk mencari pengganti ratu. Tapi dengan satu catatan, paras dan budi bahasa bakal pendamping hidupnya itu harus sama seperti mendiang ratu. Mereka pun pergi ke segala penjuru kerajaan. Namun, semua pulang dengan tangan hampa. Mereka tak menemukan seorang perempuan pun, yang pas dengan kemauan raja.

Ada di antara mereka mengusulkan agar raja mengambil Dymphna sebagai istrinya. Sebab, seluruh kriteria tadi sesuai cocok dengan anak kandungnya. Entah kuasa iblis apa yang merasuki Damon. Ia mendatangi dan mengutarakan rencananya kepada Dymphna. Dymphna tercekat mendengar maksud jahanam sang ayah. Ia menolak tawaran itu dengan lantang. Damon tak mundur. Ia semakin gelap mata, memaksa untuk menikahi anaknya.

Dymphna melarikan diri dari istana. Ia mengajak Bapak Pengakuannya Pastor Gerebern dan dua pelayan setianya. Mereka menyeberangi laut dan berlabuh di Antwerp, Belgia. Dari kota pelabuhan itu, mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Geel, sekitar 45 kilo meter dari Antwerp.

Dymphna menyembunyikan identitasnya. Ia hidup berbaur dengan penduduk biasa. Lantaran tak ada sarana kesehatan, ia membangun sebuah klinik untuk warga, secara khusus bagi kaum miskin. Mayoritas penduduk Geel saat itu adalah petani.

Rupanya, meski Dymphna telah meninggalkan tanah kaum Gaelik, niat bejat sang ayah tak kunjung reda. Damon bersama kaki-tangannya mencari Dymphna ke berbagai penjuru wilayah. Pada akhirnya, mereka sampai di Geel.

Karena Koin
Dymphna belum menyadari bahaya kian dekat. Ia melakukan rutinitas seperti biasa. Mata-mata Damon menanyai setiap penduduk ikhwal keberadaan putri Kerajaan Airgíalla. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Hingga suatu ketika, mereka masuk ke sebuah penginapan untuk mengorek informasi.

Uang bisa membuat orang untuk membuka mulut. Penelik Damon menyadari hal itu. Ia memberikan sejumlah koin kepada penjaga penginapan. Belum sampai mengajukan pertanyaan, penjaga buka suara karena tercengang melihat koin di tangannya. Uang logam itu sama persis seperti milik gadis ayu yang membangun klinik.

Berbekal keterangan penjaga, mata-mata dan raja mengendus dan menemukan persembunyian Dymphna. Dihadapan putrinya, raja mengulang permintaan. Tapi, Dymphna teguh pada keputusan awal. Pastor Gerebern menegur Damon. Ia meminta raja untuk mengurungkan niat busuk tersebut. Alih-alih insyaf, Damon justru memerintahkan pengawal untuk memacung sang gembala.

Damon berpikir, Dymphna bakal berubah pendirian. Ia keliru. Dymphna tetap mempertahankan kesucian. Malu ditolak, Damon mencabut pedang dan menebas kepala anak semata wayangnya. Tubuh Dymphna ambruk, darah membasahi kaki raja.

Penduduk memakamkan jasad Pastor Gerebern dan Dymphna di sebuah gua. Seiring waktu, ketika penduduk hendak memindahkan jasad kedua orang itu, mereka terkejut mendapati tanah di dua kubur itu berwarna putih. Jasad Pastor Gerebern dibawa ke Jerman dan dikubur di sana. Sementara tubuh Dymphna tetap dimakamkan di Geel. Di atas makam itu kemudian dibangun Gereja St Dymphna.

Beragam mukjizat penyembuhan, terutama penderita gangguan jiwa, terjadi di tempat itu. Kabar itu tersiar ke berbagai pelosok. Banyak orang Eropa datang ke sana. Mereka membawa keluarga yang mengalami gangguan mental. Di salah satu bagian gereja dialihfungsikan sebagai tempat perawatan dan pendampingan mereka.

Seiring waktu jumlah mereka bertambah. Bangunan gereja pun tak lagi sanggup menampung orang-orang yang datang. Mereka lantas ditampung di rumah-rumah warga. Mereka melakukan rutinitas seperti biasa, misal berkebun atau bertukang. Penduduk juga menganggap mereka seperti masyarakat biasa. Sangat unik pola pendampingan orang dengan gangguan mental di sana.

Warga Geel tidak menyebut mereka pasien, tapi tamu atau penghuni asrama. Cara pendampingan seperti itu menuai hasil optimal. Banyak “tamu” sembuh dan kembali ke tempat asal mereka. Ada juga yang kemudian menetap dan menjadi warga Geel. Tradisi yang dimulai sekitar abad ke-14 itu terus hidup hingga kini.

Ada lelucon berbunyi demikian, 50 persen penduduk Geel adalah orang dengan gangguan mental, sisanya setengah mengalami gangguan itu. Di kota ini orang dengan gangguan mental berbaur dengan masyarakat biasa. Hingga kini, Geel menjadi referensi penelitian bagi para psikiater dari berbagai penjuru dunia.

Gangguan Mental
Berkat teladan kemurniaan serta maraknya mukjizat yang terjadi berkat perantaraan doa Dymphna, Takhta Suci menganugerahi gelar kekudusan kepada putri Kerajaan Airgíalla. St Dymphna tak hanya dihormati di kalangan Katolik, tapi juga Ortodoks. Gereja mengenang kemartiran St Dymphna tiap 15 Mei.

Bunga Lily Irlandia ini menjadi patron orang dengan gangguan jiwa, masalah mental, dan korban inses. Di Indonesia, tepatnya di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, nama St Dymphna diabadikan sebagai pelindung panti untuk para penyandang gangguan mental. Panti itu diasuh oleh para suster tarekat Pengikut Yesus (Congregatio Imitationis Jesu/CIJ).

Yanuari Marwanto

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here