Menghidupi Panggilan sebagai “Rasul Allah”

121
Panggilan: Fra Elia memperbarui kaul sebagai pendiri kongregasi baru, Kongregasi Rasul Allah di hadapan Pastor Claudio.
[NN]
Menghidupi Panggilan sebagai “Rasul Allah”
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Karunia stigmata dialami imam maupun awam. Para stigmatis menjadi saksi penderitaan Kristus. Melalui pengalaman mereka, umat diajak merenungkan Jalan Salib Yesus dan menghayati imannya.

Setiap 5 Oktober, Gereja merayakan pesta St Anna Maria Gallo. Perempuan ini menolak menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya. Penolakan itu berujung penderitaan batin. Dalam penderitaan itu, Anna berusaha menyandarkan diri kepada Tuhan. Setiap hari, ia mengikuti Misa dan menyambut Tubuh Kristus. Ia pun berusaha menyebarkan kebaikan bagi orang lain, terutama kaum miskin dan sakit.

Tuhan menyapa Anna dengan mengaruniakan stigmata. Lima luka seperti yang dialami Yesus di kayu salib terpatri di tubuhnya: luka paku di kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki, serta luka tombak lambung. Tuhan menyatukan Anna dalam penderitaan-Nya. Inilah ungkapan kasih-Nya yang menjadi pokok sukacita Anna dalam menghadapi penderitaan batin yang menderanya.

Selain Anna, ada awam-awam lain yang juga menerima karunia stigmata. Fra Elia degli Apostoli di Dio, Saudara Elia dari Komunitas Para Rasul Allah, salah satu nya. Menjelang Paskah, terutama pada Kamis Putih dan Jumat Agung, luka-luka Yesus di kayu salib menderanya. Darah mengucur dari luka-luka itu disertai semerbak aroma mawar.

Fra Elia merasa tak pantas menerima karunia langka itu. Namun seiring waktu, ia dapat menyadari panggilannya sebagai “Rasul Allah” di dunia dan untuk dunia. Ia menjadi saksi penderitaan Yesus dan bergumul menghayatinya.

Mengalami Krisis
Fra Elia lahir pada 20 Februari 1962 di Apulia, Italia. Ia, bungsu dari delapan ber saudara, putra Anna Argentieri dan Carmelo Elia. Orangtuanya adalah petani. Me reka mewariskan nilai-nilai kristiani dengan mengajak anak-anak ke gereja pada hari Minggu, dan membangun kebiasaan berdoa rosario bersama.

Fra Elia menjadi anak “istimewa” dalam keluarga. Sejak kecil, ia mendapat karunia kemampuan komunikasi supranatural. Selama masa Prapaskah, ia tak dapat makan sesuatupun. Tak ada dalil rasional yang bisa menjelaskan hal itu.

Fra Elia pernah bekerja sebagai pegawai Kantor Pos sebelum memutuskan bergabung dengan Biara Kapusin Lombardi. Pada usia 27 tahun, saat menjalani masa novisiat, ia mendapat karunia luka-luka Yesus. Sejak itu, setiap kali menjelang Paskah, darah mengalir dari luka-luka itu. Setiap Jumat, luka-luka itu terbuka. Ia merasakan sakit luar biasa. Dalam waktu satu atau dua hari, luka-luka itu akan menutup, tetapi bekasnya masih terlihat.

Fra Elia dan ketiga rekannya di biara menyimpan rahasia ini. Kepada pimpinan biara, mereka bahkan tak berani mengatakan, meskipun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fra Elia tetap melanjutkan jalan yang dipilihnya, hingga mengucapkan kaul sementara dengan memilih nama: Fra Elia Maria.

Suatu hari, Fra Elia diberitahu bahwa luka-luka yang dialaminya bukan penyakit. Ia mengalami krisis. Ia tak dapat menerima apa yang dialaminya. Ia berharap bisa seperti orang lain. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan biara, dengan harapan hidupnya akan kembali normal dan luka-luka itu tak akan muncul kembali.

Menyadari Panggilannya
Di luar biara, panggilannya untuk melayani orang lain tak surut. Ia membantu orang-orang sakit dan miskin, serta mengunjungi para narapidana di penjara. Ia terus memberikan diri untuk melayani Gereja. Setiap tahun, ia memperbarui kaulnya secara pribadi melalui mantan superiornya. Tetapi, stigmata pada tubuhnya tak pernah hilang. Bahkan, lebih nampak dari sebelumnya.

Menyadari itu, ia menyerahkan diri kepada Tuhan, sembari mencari jawaban apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya. Ia pun masuk pertapaan di Tuscany. Di pertapaan itu, tak seorangpun yang mengenal siapa dirinya dan tak ada yang mengetahui apa yang terjadi padanya.

Fra Elia akhirnya meyakini Tuhan memanggilnya untuk menjadi “Rasul Allah” di dunia dan untuk dunia. Ia lalu mengikuti misi Padre Pio, yang juga menerima karunia stigmata. Fra Elia mendirikan komunitas religius yang bekerja untuk membantu orang-orang miskin dan terpinggirkan. Misi komunitas ini, terutama adalah memperhatikan dan melayani anak-anak jalanan, kaum muda yang sendirian tanpa bimbingan dan kasih sayang, serta berdoa dan membantu keluarga yang mengalami perpecahan, terpisah, kesepian, dan menderita.

Pada 17 Februari 2002 di Spinea, ia memperbarui kaulnya, bukan sebagai bruder Kapusin, tetapi sebagai pendiri komunitas baru, Kongregasi Rasul Allah. Semangat pelayanannya ia lambari dengan doa-doa yang ia panjatkan tanpa henti. “Setiap hari aku bangun pukul dua pagi dan berdoa hingga matahari terbit,” demikian Fra Elia, “dan aku berdoa Rosario setiap hari.”

Selain karunia stigmata, Fra Elia juga menerima karunia pengusiran setan, bilokasi, dan penyembuhan. Ketika rasa sakit stigmata itu datang, biasanya ia hanya berbaring di tempat tidur. Luka-luka seperti yang dialami Yesus di kayu salib pun menderanya. Darah mengalir dari kepala, lambung, tangan, dan kakinya, disertai aroma wangi mawar.

Fra Elia menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, media mulai memburunya, dan menggali kisah langka ini. Tetapi, Fra Elia merasa tidak nyaman ketika ditanya. Banyak pihak juga mempermasalahkan dan mencurigai dirinya. Ia dianggap mencari sensasi dan popularitas. Namun, ia menerima semuanya dengan rendah hati. Ia yakin, semua menjadi kehendak dan jalan Tuhan yang mesti ia lalui.

Mengetahui apa yang terjadi, Uskup Terni Mgr Vincenzo Paglia mengirimkan Don Marco Belardineli untuk mendampingi Fra Elia dan komunitasnya. Imam Diosesan Terni ini menjadi pembimbing rohani Fra Elia dan komunitasnya. Ketika diundang ke paroki-paroki atau kelompok doa, Mgr Vicenzolah yang memberi persetujuan. Pada 2004, Vatikan mengirimkan dokter dan psikiater untuk memeriksa dan mengamati apa yang terjadi padanya. Namun hingga kini, belum ada keterangan mengenai stigmata yang di alaminya.

Sejak September 2003, Fra Elia mendiami biara tua di Calvi Del Umbria, Propinsi Terni, tak jauh dari Assisi. Di sana, ia menghayati panggilan sebagai “Rasul Allah”. Ia juga kerap diundang keberbagai paroki oleh kelompok-kelompok doa di Italia. Bahkan, ia pernah diundang ke luar Italia, antara lain Australia.

Pada Oktober 2014 ini, Fra Elia mengunjungi Indonesia didampingi Don Marco. Salah satu acara kunjungan itu adalah Kebangkitan Rohani Katolik pada 16 Oktober di Hotel Mulia, Jakarta. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman. Bukan semata melihat stigmata sebagai hal yang menakjubkan dan penuh sensasi, tetapi menjadi kesempatan untuk merenungkan Jalan Salib dan menghayati iman akan ke selamatan Allah melalui penderitaan Putra-Nya. Dengan demikian, iman umat semakin diperkaya dan senantiasa sejalan dengan ajaran iman dan tradisi Gereja Katolik.

Maria Pertiwi
HIDUP No.40 2014, 5 Oktober 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here