Gempuran Handphone

131
Seorang frater mengoperasikan hp miliknya. Foto diperagakan model.
[HIDUP/Decky Adiarto]
Gempuran Handphone
2.8 (55%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Tiap Seminari Tinggi punya alasan tersendiri mengizinkan atau menolak penggunaan handphone (hp) pribadi bagi para frater.

Salah seorang rektor di sebuah Seminari Tinggi di Regio Jawa menerima dua cuplikan layar (screenshot) dari seorang umat. Kiriman pertama, lewat WhatsApp, menampilkan layar Facebook milik seorang frater di seminari itu. Bukan isi status teranyar frater itu yang menyita perhatian. Melainkan, tulisan itu dibuat saat jelang tengah malam.

Kiriman kedua lebih mengejutkan. Cuplikan layar WhatsApp pemilik nomor 08128764XXXX adalah frater yang sama, yang belum lama memperbarui status Facebook-nya. “Silakan ditelusuri Romo, pemilik nomor ini adalah Frater Roni (bukan nama sebenarnya). Masak WhatsApp-nya masih online jam segini?” tulis umat itu kepada pemimpin Seminari Tinggi tersebut.

Frater dalam laporan umat berada di tingkat dua saat itu. Padahal, mereka yang belum menjalani Tahun Orientasi Pastoral (tingkat satu hingga empat) dilarang membawa dan menggunakan hp pribadi di lingkungan seminari. Rektor menindaklanjuti laporan yang diterimanya.

Menjaga Interaksi
Dia meminta rekan imam di seminari, prefek disiplin, agar memanggil frater tersebut dan menanyakan ikhwal aduan itu. Calon imam semula berkelit begitu prefek disiplin bertanya. Tak habis akal, prefek itu mengeluarkan hp dari dalam sakunya. Dia menelepon nomor hp yang diberikan rektor. Tiba-tiba terdengar bunyi getaran dari kantong celana frater itu. Ada hp di sana.

Frater itu tak mampu lagi berkata-kata. Dia hanya tertunduk. Tak lama setelah kejadian, frater itu dikeluarkan dari Seminari Tinggi. “Tak ada lagi diskusi. Soal itu sudah kami peringati berkali-kali,” ungkap sang rektor, yang tak ingin namanya diketahui.

Kejadian hampir serupa diungkapkan oleh Rektor Seminari Tinggi Fermentum Bandung Pastor R. F. Bhanu Viktorahadi. Belum lama ini, beber Pastor Bhanu, seorang frater diberi tugas mendampingi siswa-siswi sebuah SMA di kota berjuluk Paris van Java itu.

Pada suatu kesempatan, Seminari Fermentum menggelar acara sharing pastoral. Frater itu bersama remaja dampingannya datang ke sana. Ketika mereka memberikan kesan dan pesan tentang pendampingan frater itu, seorang dari mereka mengatakan, selama ini menghubungi frater lewat hp. Padahal para frater di sana dilarang membawa dan memiliki hp pribadi. Beruntung, frater itu hanya mendapat teguran.

Seminari Fermentum menyiapkan satu telepon umum untuk seluruh penghuni di sana. Telepon itu dipakai bergilir. Frater yang ingin mengunakan telepon harus menulis nama bersangkutan, nomor dan nama tujuan, serta durasi percakapan. “Untuk keperluan darurat, mereka (frater) bisa meminjam hp staf pembina,” terang imam yang ditahbiskan di Tasikmalaya, 10 Mei 2000.

Hp pribadi juga tak mendapat tempat di Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Yogyakarta. Sebagai gantinya, seminari menyediakan satu hp untuk tiap unit. Menurut Rektor Seminari Kentungan Pastor Matheus Djoko Setya Prakosa, hal itu bertujuan agar budaya menyapa dan meneguhkan sesama anggota komunitas terus terawat. “Dalam banyak pengalaman, keberadaan hp pribadi justru mengikis keutamaan bertegur sapa secara langsung atau yang biasa kami rumuskan heart to heart, door to door untuk mendengarkan orang lain,” ungkapnya.

Kenyataan lain, lanjut kelahiran Yogyakarta ini, tak sedikit para pemakai hp sibuk dengan gawainya itu dan abai terhadap hal sederhana, misal berkunjung ke kamar koleganya, membersihkan kamar, atau kompleks seminari. Dengan kata lain, seminari memperjuangkan agar para frater tidak menggunakan hp pribadi demi menjaga interaksi dan keakraban di antara mereka. “Hal penting yang perlu diwaspadai, kalau tidak hati-hati, hp justru akan merenggut keheningan. Padahal keheningan adalah kondisi penting dalam hidup dan panggilan,” pesan Romo Djoko, sapaannya.

Dengan Catatan
Berbeda dengan Fermentum dan Kentungan, para frater di Seminari Tinggi Yerusalem Jayapura, Seminari Tinggi Anging Mammiri Yogyakarta, Seminari Tinggi St Fransiskus Xaverius Amboina, dan Seminari Tinggi St Petrus Ritapiret Maumere diizinkan membawa dan menggunakan hp pribadi. Meski begitu, ada catatan soal kepemilikan dan penggunaan alat komunikasi itu.

Rektor Seminari Anging Mammiri Pastor Simon Gausu mewanti-wanti agar nilai akademik para fraternya tak boleh anjlok. Selain itu, mereka tak boleh mangkir dari kegiatan bersama atau acara komunitas. “Jika dua semester indeks prestasi frater dibawah tiga, kami keluarkan,” ungkap imam Keuskupan Agung Makassar ini.

Di Ritapiret, Pastor Philip Ola Daen selaku rektor mengatakan para frater dilarang membawa hp saat kegiatan rohani seperti Misa dan adorasi atau ketika rekreasi dan acara komunitas. Hal senada juga disampaikan oleh Rektor Seminari Amboina Pastor Kornelis Seralarat. Dia tak ingin keberadaan hp mengesampingkan kegiatan rohani dan acara komunitas. “Itu prioritas,” ujar imam asal Tanimbar, Maluku Tenggara Barat itu.

Seminari-seminari itu tentu memiliki alasan beragam dengan melegalkan hp untuk para frater. Adaptasi dengan perkembangan zaman adalah salah satunya. Alat komunikasi itu untuk mengasah kedewasaan para frater. “Biar para seminari tidak gaptek (gagap teknologi),” tegas Rektor Seminari Yerusalem Baru Pastor Nico Jumari.

Kendati para frater mendapat restu untuk memakai alat komunikasi pribadi, toh pelanggaran masih terjadi. Peran pengawasan dan pendampingan harus terus-menerus dilakukan. Sanksi tegas perlu dijatuhkan bagi para frater yang tetap membandel. Masak sudah dikasih hati, minta ampela.

Doa dan Discernment
Keberadaan hp tak terhindarkan pada masa sekarang. Alat komunikasi itu telah menggempur ke jantung lembaga pembinaan calon imam bahkan dalam hidup imam itu sendiri. Perkembangan teknologi tak terelakan. Perlu diingat juga, yang kini dan kelak masuk seminari, sejak kecil bersinggungan dengan alat komunikasi. Sementara, di seminari-seminari yang mengizinkan keberadaan hp masih juga ditemui pelanggaran.

Pada situasi dilematis ini, amat penting untuk mengingat pesan Paus Fransiskus saat beraudiensi dengan para seminaris, biarawan, dan imam di Aula Paus Paulus VI, Vatikan, pada pertengahan Maret lalu. Paus menganjurkan mereka senantiasa bertanya kepada diri sendiri soal penggunaan telepon genggam.

Paus meminta agar mereka berhati-hati menggunakan alat komunikasi itu. Jika tak bijaksana menggunakannya bakal jatuh dalam kesombongan, gila materi, dan kenikmatan semu. Karena itu, Paus asal Argentina itu menekankan kepada mereka untuk terus berdoa dan discernment. Tanpa discernment, katanya, hidup seorang imam dan seminaris akan menjadi kaku dan tak berkembang. Maka dari itu, olah rohani itu harus dilakukan terus-menerus.

Yanuari Marwanto
Laporan : Felicia Permata H, Hermina Wulohering, Gabriel Dinda, Willy Matrona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here