Jarak Menempa Cinta

282
Sunardi dan Clara bersama anak, mantu, dan cucu.
[HIDUP/ Felicia Permata Hanggu]
Jarak Menempa Cinta
3.7 (74.29%) 7 votes

HIDUPKATOLIK.com – Bak dua sisi koin, jarak menjadi kelemahan sekaligus kekuatan bagi mereka dalam membina keluarga.

Gelak tawa balita memenuhi kediaman Rudolphus Aquaviva Sunardi Prodjowatjono dan Clara Siti Sabandijah pada Sabtu sore, 7/4. Sunardi dan Clara, sapaan mereka, sibuk meladeni celotehan lucu cucu-cucunya. Sementara para menantu berusaha mengabadikan momen bahagia tersebut.

Tak jauh dari meja kerja Sunardi, terpampang deretan pigura. Bingkai gambar itu memuat rentetan peristiwa keluarganya. Pemandangan itu seolah mengumandangkan bait indah pemazmur di dalam rumah Sunardi, “…Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel.”(Mzm 128:3-6).

Tahun ini, Sunardi dan Clara memperingati ulang tahun ke-50 pernikahan. Pada usia emas itu mereka bersyukur kepada Tuhan karena masih diperkenankan untuk menyaksikan buah cinta dan karunia-Nya dalam diri anak, mantu, dan cucu.

Berjumpa di Gereja
Lanjut usia tak menghalangi Sunardi mengenang masa indah kala bertemu dengan sang pujaan hati pertama kali. Sambil menerawang jauh, Sunardi bercerita. Dia bertemu Clara sejak Sekolah Dasar (dulu Sekolah Rakyat) di Yogyakarta. Sunardi tak menyangka, anak kepala sekolahnya itu kelak menjadi pendamping hidupnya.

Sunardi dan Clara bertemu kembali ketika mereka mengenakan seragam putih abu-abu. Sunardi lagi-lagi tak mengira bakal bertemu lagi dengan teman SD-nya itu. Mereka sempat berpisah selepas SD. Perjumpaan mereka kembali terjadi di Paroki St Maria Tak Bercela Kumetiran, Keuskupan Agung Semarang. Clara Misa bersama keluarganya di sana.

Selepas berdoa, begitu menengadahkan muka, Clara melihat pemuda, tak jauh dari tempat duduknya. Tubuh pria itu tinggi, romannya amat familiar di benak Clara. Dia memberi isyarat kepada kakak perempuannya untuk mendekat. “Mbak, bukannya dia murid di Sekolah Rakyat itu ya?,” tanya Clara kepada saudarinya, sembari menujuk Suhardi.

Sang kakak mengangguk. Sejurus itu, Clara mulai merasakan sesuatu di dadanya. Ada rasa takjub dan suka yang membuncah dalam batin perempuan berdarah Jawa itu. Manik mata Clara mengikuti gerak-gerik sang arjuna di depannya. “Saya akui, rasa cinta kepada Bapak berkembang pada saat itu,” aku dosen jurusan Farmasi itu mengenang.

Sejak saat itu, hubungan kedua aktivis Muda Katolik Indonesia (MKI) terus berlanjut. Intensitas pertemuan menggemburkan cinta mereka.

Terpisah Jarak
Jarak adalah musuh bagi tiap pasangan yang tengah dimabuk asmara. Lantaran tuntutan akademik membuat sejoli ini harus berpisah. Sunardi melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB), sedangkan Clara di Universitas Gadjah Mada (UGM). Clara mengurai rasa rindu kepada sang kekasih dengan “menyelam” di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Dewan Mahasiswa UGM. Aktifitasnya di PMKRI ternyata menjadi gerbang relasi dengan Cosmas Batubara dan Cypriana Pudyati. Dua aktivis PMKRI itu pada Desember tahun lalu merayakan usia emas pernikahan.

Pada suatu ketika, Sunardi mengunjungi Clara di Margasiswa. Lantaran ingin memberi kejutan untuk gadisnya, sarjana teknik itu datang diam-diam, tanpa pemberitahuan apa pun. Sayang, rencana itu tak berjalan mulus. Clara sudah keburu pulang ke rumah begitu Sunardi tiba di Sekretariat PMKRI itu.

Sunardi meluncurkan strategi cadangan. Dia menemui sang kekasih di kediamannya. Tiba di rumah, Sunardi disambut hangat keluarga Clara. Pada kesempatan itulah, Sunardi mengutarakan niatnya untuk meminang dara kelahiran Yogyakarta, 8 Agustus 1940 itu. Clara dan keluarganya menerima pinangan itu. Beberapa waktu kemudian, Sunardi-Clara mengingkat janji setia di depan altar Paroki St Albertus Magnus Jetis, Yogyakarta, 15 April 1968.

Seolah sudah dipersiapkan Tuhan, hubungan jarak jauh yang pernah mereka rasakan ketika kuliah, kembali lagi mereka alami. Itu terjadi belum sampai setahun mereka menikah. Suhardi mendapat pekerjaan di Bandung, sementara Clara mengambil profesi apoteker di Semarang.

Keadaan amat jauh berbeda dari masa kuliah dulu. Tak hanya sebagai pengantin baru, Clara juga mengandung buah hati pertama Sunardi. Persoalan finansial juga menjadi “bumbu” tantangan pengantin muda itu. Keterbatasan uang memaksa mereka hanya bisa bertemu sebulan sekali atau bahkan sekali dalam dua bulan.

Dalam keterbasan itu, Sunardi-Clara bersyukur, buah hati pertama mereka, Immanuel lahir dengan selamat walaupun sakit sering menghampirinya. Namun, lantaran persoalan ekonomi, pekerjaan, dan kuliah , Sunardi-Clara merelakan putra mereka untuk dirawat oleh orang tua Clara di Yogyakarta. Doa menjadi kekuatan Clara dan Sunardi merawat bahtera rumah tangga yang tak sedikit dihantam gelombang tantangan. “Berpisahnya kami pada awal tahun pernikahan merupakan hal yang berat,” ujar Sunardi diamini sang istri.

Tak berhenti di situ, Tuhan sekali lagi menguji cinta mereka dengan jarak. Kali ini lebih jauh lagi. Sunardi mendapatkan beasiswa untuk mengambil gelar master di bidang metalurgi di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia.

Clara sungguh-sungguh “mengencangkan ikat pinggang” untuk bertahan hidup, terutama untuk kebutuhan anaknya. Situasi makin runyam, dia juga tengah mengandung anak kedua. Minimnya alat komunikasi memaksa pasangan itu tak bisa selekas dan sesering mungkin menyambung rasa dan berbagi kisah.

Sarana komunikasi primadona saat itu hanya telegram. Sunardi berusaha selalu mengirimkan pesan kepada istri dan anaknya melalui itu. Tantangan seakan belum mau menjauh dari mereka. Dalam salah satu surat kepada Sunardi, Clara menceritakan, ada laki-laki datang ke rumah mereka. Dia mengaku sebagai teman suaminya.

Clara menyambut pria itu dengan baik. Beruntung kejadian buruk tak menimpanya. Sebab, tak lama kemudian, Clara membaca koran, laki-laki itu adalah penipu. Dia memanfaatkan kaum ibu yang sedang sendirian untuk melancarkan aksinya. Sunardi gelisah usai membaca warkat itu. Tapi, dia bersyukur Tuhan masih menjaga keluarganya.

Sunardi mengakui, lima tahun awal pernikahan mereka adalah saat terberat. “Saya juga sampai menjual anting-anting peninggalan ibu untuk menyambung kehidupan. Meskipun sulit, kami belajar bahwa penyertaan Tuhan selalu hadir bagi keluarga kami,” ungkap Clara, menambahkan.

Komitmen Bersama
Sempat terpisah selama beberapa tahun, membentuk pribadi Sunardi-Clara serta pola pendidikan mereka untuk anak-anak. Mereka membesarkan dan mendidik anak-anak secara jasmani maupun rohani. Anak perempuan mereka, Rani, menuturkan, kisah hidup dan perjuangan orangtuanya membuat dia tak henti-hentinya untuk mensyukuri kehadiran mereka. Papa, ujar Rani, tak pernah melupakan mama, begitu juga sebaliknya. “Bagi saya, mama adalah pilar kehidupan. Mama yang selalu mendorong kami semua untuk selalu meletakan segala suka-duka di dalam penyelenggaran Tuhan,” ujarnya.

Menantu Suhardi-Clara, Anton, menuturkan, suka cita iman yang terpancar dari komitmen pernikahan selama 50 tahun mertuanya ikut menguatkan kehidupan pernikahannya. Menurut Anton, banyak pengalaman hidup mereka yang bisa dijadikan contoh para pasangan, terutama keluarga-keluarga muda.

Anton mengutip Yosua 21:45. “Dari segala yang baik yang dijanjikan Tuhan, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” Tuhan telah memenuhi janji-Nya seperti kata pemazmur. Perjuangan Sunardi-Clara merawat cinta melahirkan keyakinan, cinta sejati lahir dari komitmen bersama untuk menjaga suatu yang mulia, pernikahan. Jika sudah sama-sama berkomitmen, dan memegang teguh hal itu, seberapa jauh jarak memisahkan, pada suatu saat akan bertemu dan berkumpul kembali.

Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here