Menjaga Rahmat Allah

108
Pastor Hartono menyerahkan piagam penghargaan LEPRID kepada Mama Lena.
[facebook/Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia - LEPRID]
Menjaga Rahmat Allah
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Perhatiannya untuk anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS begitu total. Mereka adalah korban yang patut diselamatkan dan rahmat Allah yang harus dijaga, katanya.

Kedua bola mata Maria Magdalena Endang Sri Lestari berkaca-kaca. Dia terenyuh melihat tubuh seorang balita tinggal kulit membungkus tulang. Anak tak berdosa itu terinfeksi HIV/AIDS. Mama Lena, sapaannya, langsung tergerak untuk mengetahui kondisi bocah malang itu. Tak hanya sakit, anak itu juga mengalami diskriminasi dan stigma dari sesamanya. Dia tak ada kawan, juga sulit diterima di sekolah.

Belakangan, lantaran kerap mengikuti talkshow tentang HIV/AIDS dan aktif dalam Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia serta aksi sosial, mata Mama Lena kian terbuka. Ternyata, banyak anak yang menderita penyakit mematikan itu. Kondisi mereka buruk, bahkan ada yang sampai meninggal.

Sejak saat itu, pegawai administrasi di RS St Elisabeth Semarang ini bertekad untuk membantu anak-anak penyandang HIV/AIDS. Dia mendirikan rumah singgah dan panti asuhan khusus untuk anak-anak yang terinfeksi penyakit tersebut. Keputusan Lena semakin bulat tatkala melihat penghuni Rumah Singgah Lentera Solo yang bisa menjalani hidup normal tanpa diskriminasi. Pada 26 Oktober 2015, Mama Lena merintis Rumah AIRA. Nyatanya, upaya itu bukan perkara mudah.

Diusir, Dituduh
Pada masa awal pendirian Rumah AIRA, Mama Lena harus berjibaku mencari rumah sewa. Penolakan dari warga muncul setelah mereka tahu Mama Lena akan membangun rumah singgah dan panti asuhan anak-anak dengan HIV/AIDS. Dia juga dituduh melancarkan Kristenisasi hanya karena bernama Magdalena dan beragama Katolik.

Ibu tiga anak ini tak patah arang. Dia yakin Tuhan akan memberikan jalan bagi umat yang terus berusaha dan memiliki niat baik. Pencarian terus dilakukan sepulang kerja dibantu beberapa rekan penggiat sosial dan tokoh Nahdlatul Ulama. Mereka membantu Lena untuk mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS serta cita-citanya untuk menaungi anak-anak yang terinfeksi penyakit tersebut.

Usaha itu membuahkan hasil. Rumah AIRA mendapat tempat di Jalan Kaba Timur Nomor 14, RT 09/RW 13, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Semarang. Menjelang beroperasinya rumah itu, Mama Lena mengadakan selametan dan mengundang masyarakat sekitar. Pada malam harinya, dia menggelar Misa dan Pemberkatan rumah tersebut. Namun, ujian untuknya tak berhenti sampai di situ. Dia sempat dituding mengambil bonanza dari rumah singgah itu.

“Yah, namanya orang, seenaknya memberi cap. Padahal sepeser pun saya tidak mengambil untung dari bantuan. Bahkan, jika tidak ada dana, saya rela mengambil gaji saya untuk membantu mereka. Bahkan ketika mereka sembuh dan kembali kepada keluarganya, saya tidak meminta sepeser pun,” ujar Mama Lena.

Selama tinggal di Rumah AIRA semua anak tidak dipungut biaya. Sejumlah sukarelawan dan donatur secara rutin membantu Mama Lena. Beberapa mahasiswa juga kerap melakukan penelitian dan praktik kerja di sana. Selain merawat anak-anak, para relawan aktif mengedukasi dan melibatkan warga dalam berbagai kegiatan sosial bertema HIV/AIDS.

Salah satu materi penting dalam edukasi adalah cara penularan HIV/AIDS. Menurut Mama Lena, selama ini banyak pemahaman salah yang beredar di masyarakat, misal HIV/AIDS menular lewat sentuhan langsung, minum di gelas yang sama, atau tinggal dalam satu rumah. Padahal penyakit ini hanya menjalar melalui hubungan seksual dan transfusi darah.

Mengedukasi masyarakat memang tak semudah membalikan telapak tangan. Demi mematahkan mitos dan stigma yang beredar, Mama Lena menjadikan keluarganya sebagai contoh. Dia dan anak-anaknya terbukti tidak tertular meski tinggal satu atap bersama sejumlah anak dengan HIV/AIDS selama hampir tiga tahun. Bahkan, mereka makan, dan menggunakan toilet yang sama.

Karya Tuhan
Mama Lena meyakini, ada karya Tuhan dibalik nama Rumah AIRA. Pada suatu malam, Mama Lena terjaga dari tidurnya. Dia terbangun pukul 00.00. Saat itu, spontan muncul dalam benaknya nama AIRA. Mama Lena berusaha memahami kata itu. Ternyata, nalarnya mengarahkan dia bahwa kata tersebut merupakan akronim dari Anak Itu Rahmat Allah.

“Itu bukan nama orang atau nama apa pun. Saya menyakini, Tuhan berkarya dalam nama itu. Mengapa anak sebagai rahmat Allah? Mereka yang datang ke sini (Rumah AIRA) hebat dan punya banyak talenta. Karena itu, mereka tidak boleh disia-siakan apapun alasannya,” ungkap kelahiran Semarang, 30 Desember 1974 ini.

Rumah AIRA seperti keluarga baru bagi Mama Lena dan putra-putrinya. Mereka merawat anak-anak dengan HIV/AIDS seperti keluarga sendiri tanpa memandang suka, ras, dan agama. Bahkan, ritual kelahiran ataupun kematian diselenggarakan sesuai dengan agama dan kepercayaan orangtua sang anak.

Selain itu, bila ada anak di Rumah AIRA yang berulang tahun, Mama Lena mengadakan acara sederhana. Tujuannya untuk menghibur dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Dia mengundang beberapa warga lingkungan. Sang anak terhibur karena banyak yang datang, sementara tamu bisa melihat secara dekat situasi dan pelayanan di dalam rumah itu.

Selama hampir tiga tahun ada sekitar 13 anak yang dirawat Mama Lena. Mereka datang silih berganti dari sejumlah daerah, seperti Kendal dan Riau. Demi meningkatkan pelayanan dan penanganan di Rumah AIRA, Mama Lena menggandeng rumah sakit di seluruh Indonesia dan Puskemas se-Jawa Tengah. Dia juga menjalin hubungan dengan media massa.

“Dari sinilah masyarakat mengetahui dan mempercayakan anak-anak mereka kepada kami,” ungkap penerima penghargaan di bidang sosial kemasyarakatan dari Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (LEPRID), pada 2015.

Mama Lena menuturkan, anak-anak yang kondisinya membaik akan kembali kepada keluarga mereka. Anak-anak itu bisa melanjutkan pendidikan dan bermain dengan teman-teman di lingkungan asal. Sementara yang remaja atau dewasa ada yang ikut kegiatan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga di masyarakat.

Ibarat pohon, tidak semua menghasilkan buah yang manis. Mama Lena mengakui, ada mantan penghuni Rumah AIRA, orang dewasa, kondisinya telah membaik, bisa berkumpul kembali ke tengah keluarga, diterima masyarakat, tapi justru kembali ke dunia kelam dan melakukan aktifitas yang beresiko kematian. Kejadian itu amat menyesakkan Mama Lena.

Menabur, Menuai
Mama Lena saat ini merawat dua orang, berusia lima dan 21 tahun. Dia dibantu oleh dua sukarelawan yang juga menyandang HIV/AIDS. Dua relawan itu masuk dalam jajaran pengurus harian Rumah AIRA. Mayoritas pengurus adalah profesional dari beragam bidang pekerjaan. Mereka bergabung secara sukarela karena menyadari perlindungan terhadap anak-anak dengan HIV/AIDS masih lemah.

Karya Mama Lena bersama relawan Rumah AIRA mendapat apresiasi dari Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko. Dalam kesempatan beraudiensi dengan Mgr Ruby, Mama Lena mengatakan, dalam pelayanannya, dia selalu berpegang pada sabda Tuhan untuk memperhatikan mereka yang hina dan tersingkir. “Saya juga memberi semangat kepada tim agar menabur kebaikan selama hidup, sebab bakal menuai kebaikan pula kelak,” pesannya.

Mama Lena berharap, karya karitatifnya bersama para relawan bisa menyelamatkan masa depan anak dengan HIV/AIDS sebanyak mungkin. Sebab, mereka adalah korban yang patut diselamatkan dan rahmat Allah yang harus dijaga.

Fr Nicolaus Heru Andrianto/Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here