Peduli dan Perhatikan Orang dengan Gangguan Jiwa

100
Bruder Ferdinandus Sifriardus Harun FC.
[NN/Dok.Pribadi]
Peduli dan Perhatikan Orang dengan Gangguan Jiwa
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Hampir 20 tahun dia berada bersama dan melayani orang dengan gangguan jiwa. Ternyata, bukan hanya mereka, tapi juga masyarakat yang perlu ditolong.

Geel, sebuah kota yang berada 45 kilometer di sebelah timur Antwerp, Belgia, terkenal di kalangan para peneliti gangguan jiwa dan psikiater dari berbagai penjuru dunia. Kota yang memiliki luas sekitar 109 kilometer persegi itu amat unik. Masyarakat umum bisa hidup bersama dengan penyandang gangguan jiwa.

Tak hanya itu, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga melakukan rutinitas seperti penduduk biasa, misal mengelola kebun, membersihkan rumah atau pekarangan, memasak, dan membangun rumah. Semua itu bagian dari terapi untuk ODGJ. Nyatanya, metode yang dimulai sejak Abad XIV hingga kini itu telah menyembuhkan banyak orang dari berbagai negara.

Pemandangan hampir serupa juga terjadi di Renceng Mose, Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Renceng Mose berasal dari bahasa Manggarai, renceng berarti bersama-sama dan mose adalah hidup. Di panti yang dikelola oleh Yayasan Karya Bhakti milik Bruder Caritas (Fratrum e Caritate/FC) itu, Bruder Ferdinandus Sifriardus Harun FC tinggal dan beraktifitas bersama ODGJ. Dia tak sendirian. Ada seorang kolega, dua perawat, dan empat pendamping menemaninya.

Ikut Merintis
Br Ferdi, sapaannya, adalah salah satu perintis Renceng Mose. Dia bersama beberapa koleganya dikirim tarekat ke ujung barat Pulau Flores itu sekitar tahun 2010. Selama berada di sana, mereka menemukan, ODGJ di Keuskupan Ruteng belum tersentuh pelayanan secara optimal. Kondisi nahas juga nyaris serupa dialami oleh ODGJ di keuskupan lain di Nusa Tenggara.

Dia menceritakan, banyak ODGJ berkeliaran di jalan-jalan, tak terawat, dan bahkan ada yang menjadi sasaran kejahatan serta perlakuan tak senonoh. ODGJ yang tak berkeliaran di jalan, tak selamanya bernasib baik. Ada yang disingkarkan. Pelakunya justru orang terdekat, seperti keluarga atau tetangga. “Banyak juga dari mereka harus diasingkan dengan dipasung atau disingkirkan,” tulis pria kelahiran Manggarai, 30 Oktober 1964, dalam surat elektroniknya, awal Maret lalu.

Melihat kondisi amat memprihatinkan itu, Tarekat Karitas memberanikan diri untuk memulai pastoral untuk ODGJ di Keuskupan Ruteng. Br Ferdi bersama rekan-rekannya serta beberapa warga bergerilya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat soal gangguan jiwa. Dia mengakui, tak mudah untuk meyakinkan warga bahwa ODGJ bisa sembuh.

Stigma masyarakat terhadap ODGJ begitu kuat. Mereka, kata jebolan pendidikan keperawatan jiwa di Belgia ini, menganggap ODGJ terkena aib, kutuk, atau bersekutu dengan kuasa gelap. Meski demikian, mereka tak patah arang. Br Ferdi bersama kolega dan relawan memberanikan diri untuk membuka pasung, membawa ODGJ ke panti, dan merawatnya di sana.

Usaha itu berbuah manis. Tak sedikit ODGJ sembuh. Mereka pun kembali berkumpul bersama keluarga, dan melakukan kegiatan seperti penduduk sekitar. Hasil itu membuka mata warga dan mengikis pandangan negatif terhadap ODGJ. Kendati demikian, upaya itu terus digalakan. Sebab, masih banyak masyarakat yang berkubang dalam pola pikir keliru.

“Masih ada sisi gelap kehidupan sosial masyarakat yang mesti dicari solusinya. Antara lain, kesamaan hak hidup dari setiap pribadi ciptaan Allah. Masih begitu banyak pribadi-pribadi yang kehilangan martabat kemanusiaanya oleh karena mengalami gangguan kejiwaan,” lanjut Br Fredi, dalam suratnya itu.

Makian, Serangan Fisik
Tantangan untuk karya tersebut tak hanya datang dari keluarga atau masyarakat. Cobaan juga hadir dalam diri ODGJ. Bruder yang hampir 20 tahun menjalani karya karitatif untuk ODGJ ini sering kali mendapat semprotan kata-kata kasar, diludahi, bahkan serangan fisik.

Melayani ODGJ, kata Br Ferdi, sering kali terjadi di luar dugaan muncul hal-hal menantang seperti itu. “Fisik harus selalu siap. Tidak dalam arti untuk bergelut tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” saran Pemimpin Panti Rehabilitasi Renceng Mose ini, melanjutkan.

Rasa takut dan khawatir kadang merasuk dalam batin dan benak Br Ferdi, terutama ODGJ yang masuk ke panti dalam kondisi parah. Dia tak menampik, beberapa kali ada pertanyaan yang mengusik kalbu dan pikirannya, apakah orang itu bisa sembuh? Ternyata, selama hidup bersama dengan ODGJ, ujar Br Ferdi, jika mencintai dan melayani mereka sepenuh hati, Allah selalu menunjukkan cara atau jalan untuk melepas penderitaan ODGJ.

Kebahagian yang Br Ferdi rasakan bila saudara dan saudarinya di Renceng Mose sembuh, keluarga menerima kembali mereka, dan mewartakan kabar baik itu kepada sesamanya. Br Ferdi optimistis, “alumni” Renceng Mose bisa bekerja seperti masyarakat umum. Sebab, selama di panti, mereka juga melakukan aktifitas serupa. Itu juga salah satu metode terapi di sana.

Menurut Br Ferdi, penghuni Renceng Mose saat ini berjumlah 30 orang, terdiri dari 15 pria dan 15 perempuan. Mereka didampingi oleh dua bruder, dua perawat, empat pendamping, dan satu dokter umum yang menjadi relawan setia untuk Renceng Mose. Meski begitu, Br Ferdi mengakui, tak semua ODGJ tertangani secara optimal. Keterbatasan dana dan lahan membuat Br Ferdi dan rekan-rekannya tak bisa menjangkau seluruh ODGJ di Nusa Bunga itu.

Hargai, Cintai
Bruder yang bergabung dengan Tarekat Karitas sejak 1992 itu berharap, banyak kelompok atau organisasi yang memperhatikan ODGJ. Meski tarekatnya hanya bisa membangun Renceng Mose di Manggarai Flores, dia menginginkan, banyak orang peduli dengan ODGJ. “Terpenting adalah semakin banyak orang peduli, tak hanya Bruder Karitas,” tambahnya.

Sejauh pengetahuan Br Ferdi, belum ada Rumah Sakit Jiwa di NTT. Mereka juga kadang kesulitan mendapatkan obat untuk ODGJ. Padahal, mereka berjuang untuk menyukseskan program pemerintah, bebas pasung. Padahal obat adalah terapi medis utama untuk ODGJ. “Mereka (ODGJ) mempunyai hak hidup untuk dihargai, dicintai, dan dikasihi. Mereka tidak
pernah meminta untuk sakit seperti itu,” pungkas Br Ferdi.

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here