“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara

122
Pastor Redemptus Simamora OFMCap menjelaskan tentang Radio Maria kepada Menteri ESDM Ignatius Jonan.
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
“Voice of Peace” Lewat Katekese Udara
2.3 (45%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Radio bukan media untuk mencari keuntungan semata tetapi sebagai media pewarta Kabar Gembira dan memberi pesan damai lewat program yang ditawarkan kepada para pendengar.

“Dari lantai lima Gedung Catholic Center Medan, kami mengudara menyapa Anda. Inilah Radio Maria Medan, 104.2 MHz FM. Halo sahabat Maria, ketemu lagi dengan saya Sr Richarda Bangun SFD di program “Songs and Short Stories”. Pada hari Sabtu, hari yang sangat ditunggu kawula muda. Info pagi ini harus sahabat Maria tahu. Kalau belum sempat mengikuti bisa live streaming siaran di www.radiomaria.co.id.”

Begitu suara samar Sr Richarda yang terdengar dari Studio Radio Maria Medan. Dari ruangan ini, sejuta pesan Bunda Maria disampaikan kepada seluruh umat Katolik khususnya di Keuskupan Agung Medan.

Sr Richarda membacakan beberapa berita sekaligus menghadirkan lagu-lagu rohani bagi para pendengar. Program “Songs and Short Stories” menjadi salah satu program yang digemari kawula muda dan sahabat Maria.

Misi Evangelisasi
Direktur Radio Maria Pastor Redemptus Simamora OFMCap menceritakan awal berdirinya Radio Maria. Jaringan radio ini berawal dari sebuah paroki di Italia. Usaha ini kemudian berkembang menjadi asosiasi awam dan imam di tahun 1987. Asosiasi ini mengelola sebuah jaringan Radio Maria di Italia. Sejak awal, radio ini dimaksudkan sebagai sarana evangelisasi untuk menyebarkan ajaran dan berita terkait Gereja Katolik. Hingga pada saat itu di Italia, Radio Maria berkembang sebagai jejaring Radio Katolik Nasional.

Radio Maria ini, kata Pastor Redemptus terinspirasi dari pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal. Radio ini mendesak diwujudkan sebagai sarana evangelisasi. Anjuran Apostolik Cathecesi Tradendae yang dikeluarkan Paus Yohanes Paulus II tahun 1987 pun menyerukan pesan yang sama. Tak hanya itu, seruan tentang evangelisasi juga ada dalam Nasihat Apostolik Evangelii Nuntiandi dari Paus Paulus VI tahun 1975.

Pastor Redemptus menambahkan, tahun 1990, World Family of Radio Mary dibentuk sebagai buah perkembangan Radio Maria Italia. Terinspirasi dari pesan ini, Emmanuele Ferrario, sang pendiri, membentuk perkumpulan Radio Maria di 58 negara termasuk Indonesia, yang diprakarsai Pastor Benyamin Purba OFMCap.

Radio Maria adalah gerakan awam untuk mewartakan Kabar Gembira. Menurut Pastor Redemptus, Radio Maria mengedepankan semangat God’s Providence. Keseluruhan gerak Radio maria mengandalkan penyelenggaraan Ilahi. “Radio Maria tidak tergantung dari pemasukan iklan namun dari dukungan moril dan materiil umat,” ungkap alumnus Animazione Liturgica-Musicale Roma, Italia.

Peran radio sebagai misi evangelisasi juga dijalankan Radio Suara Wajar 96,8 FM Bandar Lampung. Cucu Lukman Ali mengatakan, kehadiran Suara Wajar yang berdiri sejak 1973 pertama-tama sebagai media evangelisasi. Sejak berdiri, beberapa pastor yang terlibat dalam radio ini antusias menyelamatkan jiwa-jiwa lewat siaran-siaran mereka. Orang-orang Katolik pun terbantu karena media ini menjadi salah satu tempat umat Katolik mengekspresikan iman mereka. “Saat itu untuk butuh waktu berbulan-bulan bagi umat untuk mengetahui sebuah berita. Atas keprihatinan ini maka didirikanlah Suara Wajar,” ungkap Direktur Radio Suara Wajar ini.

Saat ini, siaran Suara Wajar menjangkau seluruh Provinsi Lampung. Beberapa program pengembangan iman Katolik tetap menjadi prioritas. Cucu menambahkan, di Suara Wajar dikumandangkan program renungan dan lagu rohani. Setiap pukul 12.00 WIB ada Doa Angelus, sedangkan pada pukul 18.00 WIB ada Doa Ratu Surga. Program rohani lain misalnya Kisah Orang Kudus, talk show rohani, serta dialog pastoral keluarga. “Kami sangat yakin saat media konvensional ditinggalkan, radio akan terus mengudara. Radio memiliki beberapa keunikan yang tidak dimiliki media lainnya.”

Mengungkit soal keunikan radio, Yustina Anik Purwanti, pengelola Radio Boos 104,2 FM Padang Sumatera Barat mengatakan, radio masih tetap relevan dan tidak akan tergantikan di hati umat Keuskupan Padang. Letak geografis Keuskupan Padang menjadi salah satu faktor.

Anik menjelaskan saat internet menjadi media sulung bagi kaum muda, radio justru menjadi kebutuhan primer umat Padang. Di Radio Boos, ada program interaksi dengan pendengar, katekese iman Katolik, dan pesan-pesan keutamaan hidup yang dibawakan dengan bahasa Mentawai. “Ketika radio berhenti karena gangguan, banyak pendengar melayangkan protes kepada kami. Di daerah-daerah sekitar Padang, Radio Boos masih digemari dan tidak akan mati,” tegas Anik.

Belajar Mandiri
Sesuai kodratnya, radio harus sampai ke mana-mana, mencakup pendengar di tempat yang jauh dan tak pernah terbayangkan. Radio harus menjadi sarana yang tidak hanya menyuburkan dan mendukung iman umat tetapi juga menjangkau umat yang jauh dari Gereja. Meski begitu, para pengelola radio terus berjuang agar media audio ini tak
berhenti bernafas. Dalam pengertian ini, radio harus benar-benar independen menghidupi diri sendiri tanpa tergantung pada keuskupan atau lembaga provit lainnya.

Spiritualitas mandiri dialami berbagai radio milik beberapa keuskupan di Indonesia. Radio Modulasi Nada Tintian Inspirasi Jaya (Montini) 106 FM milik Keuskupan Manado misalnya berusaha membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Direktur Radio Montini, Pastor Antonius Steven Lalu mengatakan setiap media memiliki commercial price begitu juga dengan Radio Montini. Untuk terus eksis, Montini menawarkan iklan atau promosi yang dihitung per durasi detik dengan harga bervariasi.

Radio dengan misi “Cinta Sesama, Cinta Semesta” ini memasarkan iklan loose spot mulai dari harga 60-75 ribu. Sedangkan iklan sponsor program berkisar antara 550 ribu hingga 750 ribu. “Iklan tetap diperhitungkan tetapi paling penting adalah pelayanan,” ungkap Pastor Steven.

Pastor Steven menjelaskan, para Sobat Montini memahami situasi ini. Radio yang berdiri di Jalan St Yosef 17A Kleak, Manado, Sulawesi Utara ini menjangkau wilayah Manado, sebagian Minahasa Induk, Minahasa Utara, Tomohon, Kakaskasen, dan Bitung. Program berita di Radio Montini bekerjasama dengan Radio KBR-Jakarta. Untuk siaran musik, Radio Montini menyiarkan 50 persen lagu Indonesia dan selebihnya asing. “Target audience kami adalah kelompok usia dari 12-50 tahun atau untuk semua kalangan sosial masyarakat,” ungkap Pastor Steven.

Mirip dengan Montini, Radio Suara Mandala 96.4 FM Banyuwangi, Jawa Timur juga mengedepankan target tertentu untuk terus bertahan. Radio yang berdiri di Jalan A. Suprapto no 35 Banyuwangi ini mulai siaran dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 24.00 WIB. Staf Radio Mandala Arnoldus Jansen mengatakan, format Radio Mandala tidak saja melulu program-program tentang kekatolikan.

Untuk saat ini, kata Jansen, target pendengar dari anak-anak Sekolah Dasar berkisar 10 persen. Sementara dari anak usia Sekolah Menengah Pertama berkisar 30 persen dan anak Sekolah Menengah Atas sebesar 40 persen. Untuk pendengar dari kalangan mahasiswa Radio Suara Mandala berharap dapat memperoleh sekitar 20 persen dari keseluruhan pendengar.

Jansen mengakui, Radio Suara Mandala bertahan karena pemasukan dari iklan. Di sini harga iklan ditawarkan dengan harga antara 60 ribu-110 ribu. Sedangkan untuk prime time berkisar antara 70 ribu hingga 135 ribu. Selain itu ada juga paket sponsor program acara per-kategori dengan rate perbulannya berikisar sembilan juta sampai 15 juta untuk durasi 45 menit. “Pada dasarnya semua radio harusnya bertahan karena iklan. Lagi-lagi bukan ini tujuan sebuah radio berdiri. Paling penting adalah sejauh mana suara kenabian bisa sampai ke telinga pendengar.”

Voice of Peace
Meski iklan menjadi “nyawa” sebuah media, tetapi pesan kenabian dan pesan kedamaian menjadi misi utama sebuah radio. Hal ini terus dipegang oleh pengelola Radio Suara Paksi Buana 103.6 FM, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Pastor Lexi Sarkol MSC. Ia mengatakan, ada program siaran yang sangat digemari di Radio paksi Buana yaitu Youth for Peace. Program ini dirancang untuk menyadarkan orang muda akan perannya membangun perdamaian. “Bahasa kaum muda diangkat sebagai media komunikasi. Kendati begitu, program ruang budaya untuk mengangkat budaya lokal Halmahera tak ditinggalkan,” ungkap Pastor Lexi.

Pastor Lexi bercerita, Radio Suara Paksi Buana didirikan tahun 1999 oleh Pastor Titus Rahail MSC (Jr). Pastor Titus prihatin akan perkembangan kaum muda Tobelo. Sebagai misionaris, ia tergerak dengan kondisi masyarakat yang berada dalam konflik, perpecahan dan masyarakat yang terpisah karena Perang Saudara antar umat beragama di Maluku periode 1999 lalu. Pastor Titus ingin menghadirkan lagi semboyan “Pela Gandong” dalam balutan pesan “Ale rasa Beta rasa”. Dirinya berinisiatif untuk mencari sarana yang bisa menyatukan semua pihak. Setidaknya mereka bisa duduk bersama sebagai saudara untuk bercerita tentang iman masing-masing.

Sebagai suara kedamaian, Radio Suara Paksi Buana menawarkan program penghiburan, pesan damai khususnya kepada para pengungsi, janda, anak yatim piatu, dan mereka yang kehilangan harapan. Banyak kalangan meyakini bahwa Radio Suara Paksi Buana mampu mencairkan suasana saat itu. Beberapa program baru lalu menyusul seperti “Save the Children”. Program pelatihan dan kursus broadcasting juga dihadirkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan umat. “Program-program baru ini bertujuan menghadirkan the voice of peace bagi seluruh umat,” pungkas Pastor Lexi.

Sementara itu di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Direktur Radio Tirilolok FM 101.10 MHz, Pastor Balthazar Erminold Manehat SVD mengatakan pada dasarnya radio itu bersifat right here, right now karena radio tidak mengenal batas dan waktu. Radio bisa didengar di mana saja tanpa dibatas ruang. Melalui siaran radio, komunikasi dapat diterima oleh pendengar dengan cepat dan mudah. Melalui radio, masyarakat bisa mendapatkan hiburan, informasi, dan berita kapanpun.

Wilayah geografis NTT yang berpulau-pulau membuat Radio Tirilolok sangat dibutuhkan. Tirilolok pada dasarnya adalah media yang mudah dijangkau masyarakat terpencil, buta huruf, orang cacat, kaum miskin bahkan kelompok menengah ke atas. Radio bagi Pastor Balthazar dapat menjadi media yang mempengaruhi masyarakat. Siaran radio tidak sekadar pewartaan tetapi Kabar Gembira. “Radio tidak terbatas pada pesan Kitab Suci tetapi ada nilai-nilai Injil dalam berita radio, yang jauh lebih besar dari sekadar evangelisasi,” pungkas Pastor Balthazar.

Di Kupang, lewat Radio Tirilolok pemerintah dan gereja menjadi partner. Pastor Balthazar melanjutkan, hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kota, sarana prasarana, program pemerintah disampaikan lewat Radio Tirilolok agar menjadi kabar gembira bersama seluruh masyarakat. Sebagai sebuah radio milik Keuskupan Agung Kupang, namun Radio Tirilolok memberi ruang juga untuk Mimbar Agama Protestan dan bahkan Dakwah Islam. “Setidaknya pesan Kabar Gembira bisa sampai kepada semua orang tanpa terkecuali agar dunia damai yang diharapkan tercapai.”

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan : Ananta Bangun (Medan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here