Pastor Hendrikus Yongki Wawo MSC: Mengudarakan Keutuhan Ciptaan

408
Pastor Rekan di Basilika Issoudun, Perancis, Pastor Hendrikus Yongki Wawo MSC.
[NN/Dok.Pribadi]
Pastor Hendrikus Yongki Wawo MSC: Mengudarakan Keutuhan Ciptaan
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Pengalaman berpastoral di radio memberi pesan untuk terus merawat keutuhan ciptaan ketika berhadapan dengan berbagai keprihatinan sosial yang dihadapi umat.

“Saya berpastoral di karya kategorial Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) Darit-Kalimantan Barat. Secara khusus berkecimpung dalam media pewartaan Radio Banua Cordis 106.30 FM Darit. Wilayah Darit masuk dalam wilayah yuridis Keuskupan Agung Pontianak, dengan nama Paroki St Agustinus dan Mattias Darit. Lokasi pemukiman umat dalam konteks wilayah Paroki St Agustinus dan Matias yang berpusat di Darit tersebar di tujuh wilayah (benua): Setolo, Sekandis, Behe, Setona, Angkabang, Betung, Bandong. Masing-masing wilayah dipimpin seorang kepala benua yang disebut temenggung yang berperan menjaga wilayah hukum adat sebagai mitra pemerintah untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan hukum adat.

Eksploitasi hutan sebagai konsekuensi atas nama pembangunan ekonomi telah menjadi bencana lingkungan hidup dan ekosistem yang sangat tampak di daerah Darit. Eksploitasi hutan dan sumber-sumber alam tersebut telah menyulut konflik kepentingan pusat dan daerah, para investor dan pemilik hak ulayat. Hak hidup masyarakat lokal terancam oleh hadirnya perusahaan raksasa yang mengkapling tanah.

Permasalahan sosial lainnya, yakni masalah perburuan, human trafficking daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia telah melecehkan harkat dan martabat anak-anak dan perempuan. Praktik prostitusi dan pergaulan bebas telah mengganggu tatanan hidup dan kelangsungannya. Keprihatinan tersebut di atas belum dibarengi dengan media informasi yang memadai untuk menembus isolasi masyarakat setempat.

Keutuhan Ciptaan
Radio Banua Cordis adalah salah satu cara menjawab keprihatian itu. Benua Cordis sebagai salah satu media pewartaan pengembangan mental dan spiritual, sekaligus sebagai media yang mempersatukan komunitas masyarakat yang tersebar di pelosok muara dan hulu sungai, lembah dan bukit. Benua Cordis sebagai media pembangunan masyarakat, penyadaran serta pemberdayaan dengan menyuarakan keadilan dan perdamaian bersama menuju keutuhan ciptaan yang bonnum commune. Penamaan “Banua” menunjuk pada tujuh wilayah pewartaan, sedangkan “Cordis” menunjuk pada Hati Kudus Yesus – spirit
pendiri Tarekat MSC. Jadi kehadiran Banua Cordis hendak dilihat sebagai wujud kebaikan kasih Tuhan yang membawa transformasi atau perubahan sosial demi penyelamatan kehidupan masyarakat yang tersebar di beberapa Banua.

Dalam masa pastoral saya pun ikut serta dalam kegiatan bermisi lewat media radio, secara khusus dalam penyiaran. Sebelum resmi terjun dalam penyiaran, saya magang di Radio Sonora Jakarta. Di samping itu, saya melihat cara-cara mengoperasikan berbagai alat yang berkaitan dengan penyiaran di Darit.

Sampai akhir masa pastoral, saya aktif menjadi penyiar di Radio Bonua Cordis. Saya siaran dari jam 08.00 WIB-11.00 WIB setiap hari, kecuali hari Minggu (pada hari Minggu saya pergi ke stasi-stasi untuk tourney). Pada pukul 08.00-09.00 WIB saya membawakan segmen “Selamat Pagi Pendengar RBC FM”. Selanjutnya Pukul 09.00-10.00 WIB saya membawakan segmen “Lingkungan Hidup”. Selanjutnya pukul 10.00-11.00 WIB saya menghadirkan ke ruang dengar sahabat RBC segmen yang disebut “Entertainment”.

Lewat program pastoral ini saya juga belajar cara hidup semangat kenabian dan bela rasa. Artinya lewat kata-kata yang disampaikan kepada pendengar saya menyeruhkan kebenaran. Misal, dalam segmen lingkungan hidup saya menyampaikan topik-topik aktual mengenai lingkungan hidup (global warming, dll). Dalam konteks global warming misalnya, saya mengajak pendengar Radio Bonua Cordis untuk ikut serta dalam gerakan go green.”

Pastor Rekan di Basilika Issoudun, Perancis, Pastor Hendrikus Yongki Wawo MSC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here