AKBP Gaspar Mikel B.L.P. Da Costa : Polisi Tiga Salam Maria

1271
AKBP Gaspar Mikel B.L.P. Da Costa bersama keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
AKBP Gaspar Mikel B.L.P. Da Costa : Polisi Tiga Salam Maria
4.7 (93.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa kali bertugas di Sudan, membentuknya menjadi polisi yang mampu menghubungkan orang-orang di sekitarnya.

Listrik belum ada di Desa Julud, Dilling, Kordofan Selatan, Sudan. Saat malam tiba, cahaya hanya berasal dari nyala lilin atau dari lampu minyak. Beruntung di malam hari, udara cukup sejuk. Pemandangan bintang-bintang yang sesekali muncul menjadikan malam di desa itu terasa indah.

Perjuangan hidup di tempat itu jangan ditanya, untuk bisa mendapat air minum, setiap orang harus menempuh jarak tiga jam dengan mobil. Tak ada jalan raya yang menghubungkan antara desa ke kota. Jalan satu-satunya adalah mengikuti bekas tapak mobil atau kendaraan yang sebelumnya sudah melintas.

Di desa inilah, Don Gaspar Mikel da Costa menjalankan tugasnya sebagai polisi dalam misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekitar tahun 2008. Pengalaman ini menjadi awal kisah tugas Da Costa di negara bagian Timur Benua Afrika itu. Selama bertugas, Da Costa kos di rumah seorang Kapten Angkatan Darat Sudan bernama Mahmud.

Polisi Luar Negeri
Pengalaman di Sudan bukan pertama kali Da Costa bertugas di luar negeri. Sebelumnya tahun 1998-1999, ia menjadi anggota Kontingen garuda Indonesia XVI.12 dalam misi perdamaian PBB di Bosnia Herzegovina. Menginjak tanah Eropa, membawa kebanggaan tersendiri baginya. Apalagi, ia masuk sebagai dua perwira termuda yang ketika itu menjadi anggota kontingen.

Tugas pelayanan Polri tidak saja di dalam negeri namun juga di luar negeri. Saat Da Costa menjalani pendidikan bahas Inggris di Pusat Bahasa Polri di Cipinang, Jakarta. Ketika baru sebulan menjalani pendidikan bahasa, ada ujian untuk penugasan ke luar negeri. Ia pun mengikuti tahapan ujian dan lolos menjadi anggota Kontingen Garuda. “Saya bangga karena baru letnan dua tapi bisa lulus.”

Inilah awal perjalanan karier Da Costa dalam berbagai tugas di luar negeri. Undang-Undang Polri memang memberi peluang untuk setiap polisi bertugas tidak saja di dalam negeri namun juga di luar negeri. Atas dasar ini, Da Costa memilih untuk mencoba peluang dapat bertugas di luar negeri.

Setelah pengalaman pertama di Bosnia, Da Costa kemudian mendapat tugas sebagai bagian dari Misi Perdamaian PBB di Sudan tahun 2008. Tugasnya saat itu melatih polisi lokal di sana. Ia melatih polisi lokal itu agar menjadi polisi yang demokratis. Ia menuturkan polisi yang demokratis adalah polisi yang yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Di Sudan, Da Costa berperan sebagai polisi pelatih. Materi yang ia ajarkan mencakup pengetahuan tentang patroli, reserse, logistik, dan lalu lintas. “Polisi yang tidak demokratis adalah yang tidak taat aturan. Kita melatih mereka agar bekerja sesuai dengan aturan,” ungkap Da Costa.

Tantangan menjadi pelatih bagi polisi di Sudan terlebih adalah semangat yang kadang masih sangat kurang dimiliki polisi di sana. Da Costa menceritakan, polisi di Sudan masih banyak memerlukan pelatihan dalam beragam aspek kepolisian. Meski begitu, ia mengakui, saat inilah ia belajar memahami kehidupan masyarakat di sana.

Humas PBB
Kisah tugas Da Costa sebagai polisi pelatih di Sudan tidak berjalan lama. Da Costa ditarik ke bagian Humas Polisi PBB. Sejak itu, kehumasan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan karier alumnus University of Technology Melbourne Australia 2005 ini. Di Sudan, Da Costa menduduki jabatan sebagai Kepala Humas Polisi PBB. Ia adalah polisi Asia satu-satunya yang tiga kali menduduki jabatan sebagai Kepala Humas PBB di Sudan.

Jejak perjalanan tugas inilah yang membentuk kecakapan Da Costa dalam bidang kehumasan. Ia mengakui, awal dikirim ke luar negeri, ia tidak membayangkan akan mendapat banyak tugas di lingkup Humas PBB. “Saya lahir sebagai humas di PBB, bukan di Indonesia.”

Selama menjadi Kepala Humas PBB, Da Costa membuat membuat majalah bergambar bulanan. Majalah semacam ini tidak pernah dibuat sebelumnya. Dalam majalah itu, dimasukkan foto-foto tugas harian yang dilakukan Polisi-Polisi PBB di beberapa provinsi di Sudan. Majalah ini akhirnya menjadi semacam penghubung bagi Polisi PBB yang bertugas di Sudan. Dengan majalah ini, setiap Polisi PBB di satu tempat dapat melihat tugas dan pencapaian apa saja yang dilakukan Polisi PBB di provinsi lain di Sudan.

Selama menjadi Kepala Humas, Da Costa melihat tugasnya adalah menjadi penghubung atau jembatan yang menyatukan orang. Ia berusaha menggali kreativitas untuk dapat menjadi penghubung bagi polisi-polisi PBB yang saat itu bertugas di Sudan. Ia sadar, mereka memerlukan hiburan untuk sejenak lepas dari tantangan-tantangan di lapangan. “Kreativitas itu membuat kita sukses. Untuk menjadi orang yang luar biasa itu dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal kecil yang penuh dengan kreativitas.”

Selain menjadi Kepala Humas, saat akhirnya Sudan terpecah menjadi dua negara, Sudan selatan dan Sudan Utara, Da Costa sempat juga dipercaya menjadi Komandan Kontingen Garuda Bhayangkara Polri dalam misi di Sudan Selatan. Saat tugas ini, ia mendapati bahwa memahami budaya dan pola pikir masyarakat Sudan Selatan pasca berpisah adalah tantangan tersendiri.

Tiga Salam Maria
Da Costa mengenang, keberhasilannya dalam tugas tak lepas dari kedekatannya dengan Bunda Maria. Saat mendaftar untuk masuk SEPA PK ABRI III, di Kampus Akmil Magelang Jawa Tengah, ia memohon penyertaan dan doa Bunda Maria melalui doa Novena Tiga Salam Maria selama 100 hari. Dari sekitar 4500 calon yang ditest di Magelang, berkat Novena Tiga Salam Maria ia menjadi satu dari 751 calon yang lulus. “Setelah diterima saya tetap lanjutkan Novena sebagai ucapan syukur.”

Da Costa yakin dan percaya bahwa melalui doa inilah, Tuhan Yesus berkenan membuat semuanya jadi mungkin dan mengantarkan Don da Costa lulus sebagai Perwira Siswa SEPA ketika itu. Doa ini juga yang selalu dipakai Da Costa bersama anak istrinya kapanpun dan di manapun, baik selama di Eropa 1998, sekolah di Amerika 2001, kuliah di Australia 2005 dan tentu saja selama bertugas di Irian Jaya/ Papua selama 14 tahun. Saat di Bosnia (Eropa Timur), ia bahkan harus rela tak berada di samping sang istri ketika melahirkan Don Louis, anak pertama mereka. Ketika itu, ia hanya bisa mendengarkan proses kelahiran sang buah hati lewat sambungan telepon.

Begitu juga dalam setiap kali ujian seleksi untuk tugas ke luar negeri, Da Costa, sang istri dan anak-anaknya selalu meminta Bunda Maria melalui Novena Tiga Salam Maria untuk menyampaikan permintaan mereka kepada Yesus Sang Putera, dan jika mereka layak, kiranya Kasih Allah Bapa boleh menjadi berkat dan anugerah bagi mereka.

Da Costa menyadari perjalanan kariernya selama ini tak dapat lepas dari peran Bunda Maria. Lewat novena, ia mendapat kekuatan dan kemudahan dalam menjalani setiap tugas. Ia dipanggil oleh PBB tiga kali tanpa ujian. Sebagai polisi Asia (Indonesia) pertama yang tiga kali dipercaya sebagai Kepala Polisi PBB di misi Afrika Timur, hanya karena kemurahan Tuhan. Hanya karena anugerah Allah.

“Gini ya, Bunda Maria manusia (sama dengan kita), wanita (hatinya bisa merasakan hati kita) yang telah diberi kuasa Ilahi karena dijadikan partner/ rekan kerja Allah dalam proses penyelamatan dunia (mengandung, melahirkan dan membesarkan Tuhan Yesus. Jadi Bunda Maria itu sangat suci dan dipercaya untuk ‘memberi rekomendasi ’ loh. Yang penting, jujur, rendah hati dan serahkan semuanya. Sederhana kan?” Don da Costa menutup obrolannya dengan HIDUP.

Gaspar Mikel B.L.P. Da Costa

T.T.L. : Noemuti, 13 April 1971
Istri : Debeltha Tallulembang Da costa
Anak :
– Don louis Serbiano Kenneno Da Costa
– Don Pedro Sandhya Cartenz Tossano Da Costa
– Don Carlo Antorti Ladij Bhayangkara Datu Da Costa

Pendidikan:
• Fakultas Hukum Universitas Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (1995)
• SEPA PK ABRI III, Magelang Jawa Tengah (1996)
• DIKSARGOLLAN Polri, Sukabumi, Jawa Barat (1996)
• Selapa Polri Angkt. XXXV, Jakarta (2006)
• Diploma Trainer, Victoria University Melbourne Australia (2006)

Jabatan Kini:
• Kasubbag Luar Negeri, Bag Mitra-Biro Penmas

Antonius E. Sugiyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here