Kesederhanaan Zlatco Dalic dan Rosario di Tangannya

19624
Zlatko Dalic sedang memegang rosario (insert). Untuk pertama kalinya dalam sejarah Kroasia akan bermain dalam final Piala Dunia di Rusia. [Dok.Reuters]
Kesederhanaan Zlatco Dalic dan Rosario di Tangannya
4.1 (82.5%) 16 votes

HIDUPKATOLIK.com Dalam tayangan penentuan perempat-final Piala Dunia 2018 pada Minggu, 8/7 dini hari WIB, Kroasia berhasil menyingkirkan tuan rumah Rusia dengan nilai 4-3 melalui babak adu penalti, usai bermain imbang 2-2 selama 120 menit.

Dengan hasil ini, Kroasia lolos untuk masuk ke babak semi-final yang kedua kalinya di sepanjang sejarah keterlibatannya di turnamen terakbar sepakbola tersebut. Sang pelatih, Zlatko Dalic yang berusia 51 tahun itu terlihat begitu tenang di sepanjang pertandingan.

Tergabung di Grup D bersama Argentina, Nigeria dan Islandia, Kroasia bukanlah tim unggulan. Sejak bergabung di Piala Dunia 1998, pada akhir kualifikasi tahun lalu, Kroasia hanya masuk pot unggulan kedua.

Namun siapa sangka, Kroasia berhasil melaju ke final, setelah menaklukan tim “The Three Lions” Inggris di Luzhniki Stadium, Moskow pada Kamis, 12/7 dini hari WIB, dengan skor 2-1 milik Kroasia melalui babak perpanjangan waktu.

Zlatko Dalic membawa Kroasia melaju jauh ke semifinal Piala Dunia 2018, menyamai capaian 20 tahun silam. [Foto: Kai Pfaffenbach/Reuters]
“Saya harus tetap tenang, tetapi tidak mungkin. Semuanya tergantung di sini. Kami tidak memainkan game terbaik, tetapi kami menunjukkan perjuangan kami, karakter kami,” tuturnya mengomentari pertandingan itu, sebagaimana dilansir dari laman sport.detik.com.

Ketenangan Dalic dalam menghadapi situasi merupakan nilai tambah bagi Kroasia yang tampil gemilang di Rusia. Sosok itu membuat status underdog benar-benar dimanfaatkan  Kroasia: diam-diam menghanyutkan.

Kira-kira apa yang membuat pelatih dan manajer Kroasia itu begitu tenang dalam menghadapi tim favorit yang ada? Zlatko Dalic mendasarkan kesuksesannya pada iman kepada Tuhan dan Bunda Perawan Maria.

Pelatih kelahiran Livno, 26 Oktober 1966 silam itu mengatakan bahwa kunci keberhasilannya adalah imannya kepada Tuhan dan itulah sebabnya dia selalu membawa rosario di sakunya. Ia mengaku, keyakinannya memberinya ketenangan sepanjang waktu.

Kroasia menang 4-1 atas Yunani. [Dok.Reuters]
Zlatko Dalic telah mengembangkan sebagian besar karirnya di Kroasia dan telah merevolusi negara dengan lambang kotak merah dan putih, dengan menempatkan mereka di antara empat tim Piala Dunia terbaik. Dia berkata pada dirinya sendiri, “semuanya karena iman.” (dikutip dari laman lateja.cr)

Pelatih Kroasia tersebut dalam pernyataan yang dikumpulkan oleh situs web Narod.hr, mengatakan bahwa “semua yang telah saya capai dalam kehidupan dan karir profesional saya, saya berutang pada iman saya dan saya bersyukur kepada Allah saya tercinta”, sambil menambahkan bahwa “saya sangat bahagia dengan semua yang saya hidupi. Tanpa motivasi dan tanpa keyakinan, akan sangat sulit untuk mencapainya. ”

“Dan ketika semuanya menjadi rumit?” tanya seorang wartawan kepada Dalic, yang menjawab: “I always carry a rosary with me// Saya selalu membawa rosario bersamaku.” Ketika saya merasa seperti berada dalam peristiwa yang sulit, saya meletakkan tangan saya di saku dan melekat padanya dan kemudian semuanya menjadi lebih mudah,” jawabnya.

Hal penting lainnya dalam kehidupan pelatih Kroasia yang mengejutkan adalah tentang keluarga. “With my wife we ​​had to decide first for our futures. Because of my career we could not be together and we decided to have a relationship at a distance. We got married in 1992 and we have our children// Dengan istri saya, kami harus memutuskan terlebih dahulu untuk masa depan kami. Karena karir saya, kami tidak bisa bersama dan kami memutuskan untuk memiliki hubungan dari kejauhan. Kami menikah pada 1992 dan kami memiliki anak-anak kami,” katanya.

Dalic memiliki tiga anak dan tidak ada yang menjadi pemain sepak bola. “Hari ini, mereka adalah pendukung saya dan semua orang memiliki jalan yang berbeda,” kata pelatih yang mengantar Kroasia (negeri dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, sekitar 87,54%, dari laman misi.co/Kroasia) ditempat ketiga pada Piala Dunia 1998.

Sejarah Iman yang Menyertai
Orang yang memimpin timnya ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah adalah orang percaya yang setia dan imannya adalah penyebab dari banyak kesuksesannya.

Menurut Dalic kepada situs Glas-koncila pada Desember 2017, dikatakan bahwa imannya adalah kunci untuk mencapai perdamaian dan mencapai tujuan di tengah begitu banyak skandal.

“Faith gives me strength, I always have a rosary in my pocket and I pray before the game..” // “iman memberi saya kekuatan, saya selalu memiliki rosario di saku saya dan saya berdoa sebelum pertandingan, saya bersyukur kepada Tuhan setiap hari, karena itu telah memberi saya kekuatan dan keyakinan, tetapi juga kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam hidup saya. Saya dan keluarga saya, iman itu sangat penting,” jelasnya.

Di masa kecilnya, Dalic adalah seorang putra altar. “Di sebelah rumah orang tua saya ada biara Fransiskan di Gorica, sebelumnya, pada waktu yang berbeda, saya adalah seorang putra altar, senang pergi ke gereja, ibu saya mengajari saya dan mengarahkan saya menjadi orang yang beriman sepanjang waktu, dan begitulah cara saya membesarkan anak-anak saya, dan setiap Minggu saya mencoba pergi ke Ekaristi. ”

Di sisi lain, dalam kesempatan wawancara lainnya, ia menyampaikan perihal pentingnya dukungan keluarga dan istrinya, yang bertanggung jawab membesarkan anak-anak mereka, sementara dia bekerja sebagai pelatih.

“Anak-anak tumbuh tanpa saya.. Saya mungkin merindukan mereka.. tetapi istri saya meletakkan segalanya dan mengarahkan mereka ke jalan yang benar; sia-sia apabila seorang pria tidak memiliki kebahagiaan keluarga, saya berterima kasih kepada keluarga yang telah bersabar dengan saya dan pekerjaan saya, dan untuk tetap bersama,” ujar Dalic (sebagaimana dilansir pada media infobae.com).

Di luar itu dapat membuat sejarah dengan yang terpilih, tujuannya adalah untuk melihat Kroasia dan Bosnia-Herzegovina bersatu, bukan sebagai sebuah negara, tetapi sebagai suatu bangsa, karena luka-luka yang masih tetap terbuka di masyarakat terus mencegah konvergensi yang kuat di antara kedua masyarakat.

Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic di Piala Dunia 2018. (Foto: Maxim Shemetov/Reuters)

“Kita terlalu kecil untuk membagi dan bertarung begitu banyak, tetapi kita berurusan dengan sejarah, di masa lalu, tanpa pernah berpaling ke masa depan (…) Penting untuk bekerja berdampingan secara damai, bukan untuk mengulangi masa lalu perang, tetapi untuk membantu dan mendukung satu sama lain,” pungkasnya.

Kini Kroasia akan bermain di final Piala Dunia Rusia 2018 melawan Perancis pada Minggu, 15/7 mendatang (pukul 22.00 WIB), tetapi Dalic tidaklah terlalu khawatir, mengetahui bahwa dia akan memiliki dukungan di mana-mana, sebagai buah pengabdian dan imannya.

 

A.Bilandoro

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

2 COMMENTS

  1. IMAN yang HIDUP dalam KRISTUS..akan selalu memberikan pertolongan, kekuatan dan Keselamatan…Terpujilah bagi namaMU Tuhan dan Juru Selamatku…Engkau telah mendengar permohonan mereka bersama seorang Pelatih Team Manager yg sederhana ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here