Dendy Zuhairil Finsa Sekretaris PW GP Ansor DKI Jakarta : Pantang Pulang Sebelum Damai

101
Apel kebangsaan Banser-Ansor di Wonosobo.
[NN/Dok.Pribadi]
Dendy Zuhairil Finsa Sekretaris PW GP Ansor DKI Jakarta : Pantang Pulang Sebelum Damai
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sebagai Muslim, kami meyakini kebenaran agama yang kami peluk. Namun bukan berarti itu menghalangi kami untuk menghormati keyakinan agama lain.

Baju loreng yang dikenakan, topi dan sepatu bot menambah gagah perawakan para Banser-Ansor. Semua itu dibeli dari kocek sendiri dengan cara mencicil seperak dua perak. Meski seragamnya masih dalam tanggungan utang, mereka tetap percaya diri. Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi mereka untuk memekikan Pancasila Jaya dan NKRI harta mati. Bangkitlah, bangkit putra pertiwi. Tiada gentar dada ke muka. Bela agama bangsa negeri. Tegakkan yang adil hancurkan yang dzalim. Makmur semua, lenyap yang nista. Allahu Akbar-Allahu Akbar. Demikian spirit Mars Ansor yang mempertaruhkan nyawa melawan ketidakadilan, dan segala sesuatu yang nista karena akan merendahkan derajat keagamaan dan kemanusiaan. Sejauh mana peran Banser-Ansor dalam merawat keutuhan NKRI? Demikian kutipan wawancara HIDUP dengan Dendy Zuhairil Finsa (Gus Dendy), Sekretaris PW GP Ansor DKI-Jakarta. Berikut petikannya:

Ansor kerapkali disebut kafir karena menjaga gereja. Bagaimana pandangan Gus Dendy?

Pandangan itu datang dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak cinta damai atau kelompok-kelompok radikal. Dasarnya adalah dengan menjaga gereja berarti kita ikut dalam keyakinan saudara-saudara Kristen. Kadang kala anggota Ansor menghadapi tantangan perlawanan, bully yang berlebihan dari kelompok-kelompok tersebut. Tetapi kami mau tegaskan kehadiran Banser-Ansor tidak sama sekali mau meyakini iman saudara-saudara Kristen.

Saya mau bandingkan setiap hari saudara-saudara Kristen mendengar suara azan lima kali dan ada pengajian di banyak tempat bahkan dekat rumah orang Kristen, apakah iman mereka berubah? Tidak! Jadi pandangan-pandangan itu tidak beralasan. Kalau ada Muslim yang ikut menjaga gereja dan keimanan berubah, maka yang salah Muslimnya. Kalau ada yang khawatir menjaga gereja, dan terganggu imannya orang ini keimanannya pasti belum beres.

Sebenarnya tujuan utama menjaga gereja untuk apa? Apakah ada “proyek” tertentu?

Sama sekali tidak ada proyek dalam agenda menjaga gereja. Buat kita suara seperti itu tidak penting. Kehadiran Banser-Ansor untuk mempertahankan kemerdekaan dan berjuang melawan intoleransi, gerakan-gerakan radikal yang tumbuh subur di Indonesia. Kami berusaha untuk membentengi Pancasila dan NKRI serta cita-cita founding fathers dari bahaya-bahaya radikalisme. Jadi apa yang kami buat tidak melanggar HAM. Jadi kami tidak perlu meributkan asas tunggal Pancasila karena kami sendiri pelaku utama yang Pancasilais. Banser-Ansor berjuangan sesuai garis ulama dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

Harus dicatat bahwa dalam sejarah Banser-Ansor tidak pernah menentang pemerintah yang sah. Tidak pernah melakukan pemberontakan karena itu larangan agama. Membaca sejarah ada begitu banyak pemberontakan seperti PKI, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), G30-S/PKI, Organisasi Papua Merdeka (OPM), bahkan pemberontakan dengan dalil Islam sekalipun tak satupun NU terlibat di dalamnya.

Bicara soal kebhinekaan, konteks keberagaman seperti apa yang dihidupi Banser-Ansor?

Bagi kami, alangkah kurang nyawan jika di antara kita terus mengklaim paling benar dan sahih, lalu menafikan peran maupun eksistensi yang lain. Sebagai manusia, kadang kita tak berdaya atas temuan kita, baik secara ilmu maupun agama. Sebab, Tuhan punya kerangka evaluatif dan edukatif bagi tiap insan. Sejak awal, Dia paham kualitas kita dalam segala aspek. Sama sekali tak elok menutup diri dari realitas sosial di sekitar kita. Padahal untuk mengenali kualitas diri, perlu menyelami diri dari luar maupun dari dalam.

Dalam arti ini Banser-Ansor berusaha menyelami diri dari luar sebagai pengukuhan atas cermin kedaulatan diri. Dan menyelami diri dari dalam merupakan muhasabah (introspeksi penuh) dan pengasahan iman sekaligus martabat kehambaan di hadapan sesama dan Tuhan. Maka bicara soal keberagaman, dua jalan ini tak lagi tersekat iman “mazhabi”. Inilah iman aktual dan menembus batas parsial kemanusiaan, sebab Tuhan tetap Tuhan–tak tergantung ego manusia.

Bila agama tidak tergantung ego, bagaimana orang harusnya beragama?

Beragama tak cukup dengan wacana, perlu penguatan spiritualitas, kesiapan mental, kejernihan akal, ketulusan berbuat, dan kematangan iman. Para sahabat Ansor dan Banser sadar saat orang sudah mentransformasikan kebaikan pada sesama dengan sepenuh jiwa, ia tak akan ditanya lagi apa dan bagaimana agamanya. Agama adalah sumber kebajikan, bukan provokasi kekuasaan. Agama itu perilaku, bukan adu propaganda semu. Agama, ketika diinternalisasi spirit luhurnya, akan menjadi cahaya bagi diri dan sesama.

Agama penuh cinta, bukan sarang kuasa. Cinta ini akan terus disempurnakan yang dalam Kristen di kaki salib, sebagai simbol pengorbanan diri demi keselamatan manusia. Maka beragama harus peka aspirasi dan kebutuhan sosial kemanusiaan. Agama berbasis cinta adalah yang tak terjebak pada friksi dan konflik–gampang memelintir formalitas-imani, tapi abai pada universalitas-spiritual ukhrawi.

Menjelang Idul Fitri 2018, apa pesan gus untuk umat Muslim?

Sebagai Muslim, kami meyakini kebenaran agama yang kami peluk. Namun bukan berarti itu menghalangi kami untuk menghormati keyakinan agama lain. Apalagi saudara-saudara umat Nasrani. Tanpa mereka mungkin Indonesia tidak merdeka hingga saat ini. Tentu ketika gema takbir berkumandang membesarkan dan mengangumkan Yang Maha Suci, mari kita membuka dan membersihkan hati dengan hidup tulus di hadapan Allah dan membangun relasi yang baik dengan sesama kita.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here