St Michael Garicoïts SCJ : Pendiri Kongregasi Hati Kudus

78
St Michael Garicoïts SCJ.
[betharram.net]
St Michael Garicoïts SCJ : Pendiri Kongregasi Hati Kudus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Lahir dari keluarga miskin tak menyurutkan perjuangannya menjadi pastor. Ia menjadi pastor bonus dan pendiri kongregasi Hati Kudus Yesus Bétharram.

Kita orang miskin, tidak mungkin menjadi imam. Kata-kata ini kerap didengar oleh Michael Garicoïts semaca kecilnya. Sang ayah selalu berpesan agar Michael tidak bermimpi di siang bolong. Menjadi imam, bagi sang ayah, hanya khusus orang-orang kaya. Sebagai orang miskin, sang ayah tidak mampu menyediakan dana untuk cita-cita mulia itu. “Kamu harus bersyukur sudah dikasihani tetangga agar bisa bekerja. Jangan banyak berharap apa yang tidak akan terwujud,” pesan sang ayah suatu ketika.

Tetapi pesan itu tak digubrisnya. Michael seorang yang keras kepala. Nyatanya,ia sangat tertarik dengan kehidupan para pastor. Ia seringkali menyaksikan pastor parokinya memberikan komuni kepada umat. Setiap kali hendak menggembalakan ternak di Pertanian Oneix, Bordeaux, Perancis, Michael sengaja berada di dekat gereja agar dapat melihat pastor parokinya. Michael yakin menjadi imam itu bukan soal kaya atau miskin tetapi soal ketulusan hati.

Keinginan ini Michael sampaikan kepada neneknya Catherine Etchéverry. Di bantu sang nenek, ia meyakinkan pastor paroki untuk mendaftarkannya ke Seminari Saint-Palais. Untuk biaya pendidikan, ia harus membayarnya dengan bekerja membantu juru masak di dapur biara dan keuskupan.

Michael harus memaksakan diri belajar di bawah terang lilin saat koleganya sudah terlelap. Ia mengambil kursus tambahan bahasa Latin dan Kitab Suci. Perjuangannya ini terbayar. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 20 Desember 1823 oleh Uskup Agung Bayone, Perancis, Kardinal Paul-Thérèse-David d’Astros (1772-1851).

Petani Miskin
Menjadi imam bagi Michael adalah cita-cita luhur. Pria kelahiran Saint-Just-Ibarre, Bordeaux, Perancis, 15 April 1797 ini dikenal sebagai anak yang saleh. Dalam rumah tangga, Michael orang yang sangat tegas dibandingkan dengan lima saudaranya. Ia tak takut menegur siapapun yang malas berdoa. Sebagai anak sulung pasutri Arnaud Garicoïts dan Gratianne Etchéverry, Micahel banyak menghabiskan waktu dengan membaca Kitab Suci. Kitab Suci baginya adalah buku kehidupan.

Tak dipungkiri, kesalehan hidup Michael diwariskan oleh sang ayah. Arnaud seorang yang Katolik saleh dari Catalonia, Spanyol. Ia seorang yang tetap setia pada imannya meski mengalami penganiayaan selama Revolusi Perancis (1789-1799). Monarki absolut yang telah memerintah Perancis selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun. Rakyat Perancis mengalami transformasi sosial politik yang epik, feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak oleh kelompok radikal sayap kiri serta masyarakat petani pedesaan. Ide-ide yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrasi, dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan dengan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Iman dan kesederhanaan sang ayah membuat Michael bermimpi kelak ingin menjadi pastor. Ia ingin membagikan hosti dari tangannya sendiri kepada dua orang tuanya. Ketika banyak pastor yang diselamatkan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada sang ayah, Michael ingin mewakili mengucapkan terima kasih atas bantuan sang ayah. Maka di sela-sela pekerjaannya sebagai penggembala ternak di Pertanian Oneix, Michael merasa terpanggil. Tahun 1810, Michael benar-benar merasakan panggilan Tuhan dalam hatinya. Apalagi ia menyaksikan betapa mulianya umat bisa menerima komuni dari tangan seorang pastor yang kudus. Tanggal 9 Juni 1911, Michael bertekad untuk menjadi pelayan Tuhan.

Meski sang ayah melarang cita-cita ini karena faktor kemiskinan, Michael tak peduli. Setelah akhirnya berhasil masuk Seminari Saint Palais, Michael diasah untuk memiliki kemampuan akademik yang baik. Ia berjuang untuk mengejar ketertinggalan dalam pelajaran.

Hati Kudus
Michael benar-benar mengikuti aturan seminari dengan taat. Kerelaannya untuk berkorban, membuat ia disenangi oleh banyak orang. Ia bahkan mendapat pelajaran privat dari Pastor Jean Baptiste Borda.

Usai dari Seminari Palais, Michael melanjutkan belajar filsafat di Seminari Aire-Sur-Adour, Prancis. Sebagai calon imam, Michael punya devosi khusus kepada Hati Kudus. Kepasrahan kepada Hati Yesus yang terluka menjadi persembahan terindah dalam ziarah panggilannya. Kepasrahan hidup pada Hati Kudus Yesus juga kelak memancarkan sinar-sinar kasih kepada setiap orang yang dijumpainya. Michael percaya, setiap orang yang berbeban berat akan lega ketika ambil bagian dalam Hati Yesus yang terluka.

Dari Seminari Adour, ia meneruskan studi teologi di Seminari Dax. Lewat perjuangan keras, ia menamatkan studinya dengan nilai yang sangat memuaskan. Dalam sebuah surat kepada keluarganya Michael menulis, “Terima kasih kepada kalian karena melalui berbagai hal, kalian semua telah mendukung panggilan ini. Saya akan membawa kalian dalam doa dan puasa.”

Pria yang dulu dianggap sebelah mata karena kemiskinan ini ditahbiskan. Pastor Michael kemudian berkarya sebagai Kepala Paroki di Combo dari tahun 1823-1825. Ia lalu ditugaskan sebagai pengajar filsafat di Seminari Bétharram. Di seminari ini, ia menyelesaikan gelar doktor filsafat dan teologi, lalu diangkat sebagai Rektor Seminari.

Di luar tugasnya sebagai pengajar, Pastor Michael diminta mendampingi St Elisabeth Bichier (1773-1838) dan membantunya mengembangkan Kongregasi Suster Putri-putri Salib yang didirikan bersama St Andreas Fournet (1752-1854). Dalam pendampingan ini, Michael turut memberi nafas misteri salib dalam spiritualitas kongregasi baru ini. Selain itu refleksi soal kemenangan dari atas salib menjadi prinsip utama kongregasi ini dalam berkarya.

Tahun 1838, Michael mendirikan Kongregasi Hati Kudus Yesus Betharram (Societas Sacratissimi Cordis Jesu/SCJ). Para imam kongregasi ini mendedikasikan hidup mereka kepada Hati Kudus Yesus serta berkarya dalam misi penginjilan dan pendidikan bagi kaum muda. Prioritas utama karya ini adalah merebut hati manusia dan mengarahkannya kepada cinta Tuhan lewat Hati Kudus Yesus. Demi keselamatan manusia, kongregasi ini mau mengambil peran serupa Kristus yang menderita demi banyak orang.

Kongregasi Bétharram mendapat persetujuan dari Paus Leo XIII (1810-1903) pada tahun 1877 dan saat ini telah berkarya di berbagai negara seperti Argentina, Brazil, Republik Afrika Tengah, Prancis, Inggris, India, Israel, Italia, Pantai Gading, Yordania, Palestina, Paraguay, Spanyol, Thailand, dan Uruguay. Pastor Michael terus melayani dan menjadi pembimbing rohani bagi para imamnya hingga tutup usia pada 14 Mei 1863 di Bétharram, Prancis. Sebelum meninggal, ia berdoa, “Dalam kasih-Mu ya Tuhan, kasihanilah aku”.

Proses beatifikasi dimulai sejak Paus Leo XIII pada 15 Mei 1899. Proses ini kemudian dilanjutkan oleh Paus Benediktus XV (1854-1922) yang menyetujui kebajikan heroik dan mengangkatnya sebagai venerabilis pada 10 Desember 1916. Ia dibeatifikasi pada 10 Mei 1923 oleh Paus Pius XI (1857-1939) dan dikanonisasi pada 6 Juli 1947 oleh Paus Pius XII (1876-1958). St Michael dikenal sebagai teladan bagi para calon imam yang mengalami kesusahan dalam panggilannya.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here