Istri Hamil, Suami Resah

127
Istri Hamil, Suami Resah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pengasuh Yth, saat ini saya sedang hamil enam bulan. Hubungan saya dengan suami saat ini jauh berbeda. Waktu pacaran dulu, saya selalu diberi perhatian, dimanja dan disayangi. Namun, saat ini, suami saya lebih banyak diam dan cuek. Dia sering melarang saya pergi bersamanya. Menurut dia, saya sudah tidak cantik dan menarik lagi. Badan saya dianggap terlalu besar sehingga tidak enak dipandang. Saya sedih. Padahal semua wanita ketika hamil biasanya badannya membesar. Hal ini sudah saya jelaskan kepadanya, tetapi dia tetap tidak senang melihat saya. Apakah saya harus minum obat diet supaya bisa tetap menarik atau membiarkan badan saya seperti ini walaupun dicuekin suami? Apa yang bisa saya lakukan?

Cindi, Bekasi

Yth Ibu Cindi, pertama-tama saya ucapkan selamat atas kehamilan Ibu. Tentu ini merupakan anugerah yang diberikan Tuhan. Kehadiran anak dalam keluarga merupakan buah cinta suami dan istri yang nantinya akan menghangatkan bahtera rumah tangga yang dijalin bersama. Kehamilan, bagi keluarga, biasanya merupakan suatu perubahan yang dinanti dan membahagiakan.

Terkait dengan persoalan yang saat ini Ibu Cindi rasakan, memang sedikit berbeda dengan persoalan pada umumnya sebagaimana yang saya ungkapkan di atas. Kasus ini sangat khas dan tidak semua pasangan baru mengalaminya. Tentu menjadi sebuah tanda tanya besar di kepala.

Pertanyaan pertama yang terlintas di benak saya adalah apakah suami menghendaki kehamilan ini, ataukah sebaliknya? Jika kehamilan ini juga dikehendaki suami, tentu saja berbagai konsekuensi yang menyertai akan diterima dengan sukacita. Hal ini yang nampaknya belum Anda jelaskan dalam surat.

Terlepas dengan apakah kehamilan ini dikehendaki atau tidak, yang menjadi prioritas saat ini adalah bagaimana menjaga kehamilan, agar ibu dan bayi tetap sehat hingga saat kelahiran tiba.

Proses kehamilan sebenarnya merupakan sebuah proses yang cukup singkat karena hanya sembilan bulan beberapa hari. Dalam waktu yang singkat ini, perhatian ibu dan suami sangat berarti untuk masa depan bayi. Dukungan psikologi dan sosial adalah bentuk dukungan yang sangat diharapkan oleh ibu yang sedang hamil mengingat kehamilan bukanlah peristiwa yang mudah untuk dijalani.

Jika saat ini kondisi suami sedang kurang nyaman dengan perubahan yang terjadi dan komplain karenanya, maka dukungan suami tentu tidak bisa sepenuhnya diharapkan. Saran saya, mintalah dukungan dari keluarga terdekat: bisa ayah, ibu, atau saudara kandung, termasuk orangtua dari pihak suami, jika mungkin. Berbagi perasaan dan kesedihan akan memberi dampak yang baik sebagai media curhat (katarsis) sehingga beban tersebut akan berkurang. Selain itu, dapat menarik perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekat minus suami.

Terkait dengan keadaan suami, tetaplah memberi perhatian dan kasih sayang kepadanya. Meski justru kondisi ini berkebalikan dengan yang biasa terjadi, namun mungkin saja suami sedang membutuhkan dukungan mental terkait dengan perubahan yang terjadi. Dengan curhat kepada keluarga besar diharapkan keluarga Anda paham dan mengerti kondisi suami, serta dapat memberi penjelasan kepadanya agar mau menerima perubahan yang terjadi. Sedangkan soal diet dalam kondisi hamil, tentu saja sangat tidak dianjurkan karena dapat berdampak pada kondisi kesehatan bayi. Diet diperlukan karena alasan kesehatan dan mendapatkan rekomendasi dari dokter.

Sejalan bertambahnya waktu dan makin mendekati proses kelahiran, kemungkinan suami Anda akan terketuk hatinya. Ceritakanlah kepada suami Anda tentang perkembangan bayi, agar ia tersentuh hatinya. Ajak juga suami Anda berkonsultasi ke dokter agar. Harapannya, ia melibatkan diri untuk memperhatikan istri dan bayi yang dikandung, meski bisa jadi permintaan ini ditolak.

Jangan menyerah dan larut dalam kesedihan, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Teruslah fokus dengan kehamilan Anda dan berikan perhatian lebih pada kesehatan diri Anda dan bayi yang Anda kandung. Demikian saran saya dan teruslah berpikir positif.

Th. Dewi Setyorini

HIDUP NO.30, 27 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here