Budiman Tanuredja : Jurnalis Konstitusi

96
Konsisten: Budiman Tanuredjo saat menerima Muhammad Yamin Award.
[NN/Dok.Pribadi]
Budiman Tanuredja : Jurnalis Konstitusi
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pria ini memulai karir jurnalistik dari nol. Isu seputar hukum, hak asasi manusia, dan ketatanegaraan menjadi bahan liputan sehari-hari. Ia menerima penghargaan Muhammad Yamin Award untuk kategori Jurnalis Konstitusi.

Akhir Mei, Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat, memberi penghargaan Muhammad Yamin Award kepada Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Budiman Tanuredja. Sebagai wartawan, ia dinilai memiliki perhatian besar dan konsisten pada isu hukum, hak asasi manusia, dan ketatanegaraan.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Teknologi Reaktor Nuklir ini sudah melahirkan empat buku di bidang hukum dan hak asasi manusia. Ia memulai karir jurnalistik dari bawah sebagai wartawan junior di Kompas.

Kerja Kasir
Sebelum meniti karir sebagai jurnalis, kehidupan Budiman bisa dikatakan penuh perjuangan. Ia lahir di kota kembang, Bandung. Sang ayah meninggal ketika dirinya tiga setengah tahun, sementara adiknya masih berusia tiga bulan. Tak lama berselang, toko kelontong milik ibunya bangkrut. Saat Budiman duduk di bangku kelas IV SD, keluarganya pindah ke kota Solo. Ibunya berusaha untuk tetap membiayai empat anak. Kakaknya juga berjibaku bekerja untuk menopang hidup keluarga.

Setamat SMA, Budiman melanjutkan studi di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Nuklir UGM Yogyakarta. Ia tinggal di asrama Realino. Ia mengalami pergaulan yang majemuk dan dididik dalam kultur disiplin asrama. Budiman mengaku banyak mencecap nilai kesederhanaan sekaligus kerja keras dari sang bunda yang dalam kondisi apa pun tetap berusaha mendampingi anak anak. Kerja keras itulah yang kiranya mengilhami setiap perjuangan hidupnya.

Saat mahasiswa, Budiman menambah uang saku dengan cara menulis. Ia menulis di berbagai media, antara lain Kedaulatan Rakyat, Wawasan, Suara Merdeka, Bola, Gadis, Kompas, Nova. Setiap minggu, ia selalu mendambakan kiriman wesel sebagai kompensasi dari honor menulis.

Ia tidak punya uang untuk berlangganan koran. Karena itu, ia menyiasati dengan membaca koran di agen koran kawasan Bulaksumur, UGM. Di sana ia sekadar melihat apakah tulisannya dimuat di koran hari itu. Begitu ada tulisannya, ia membayangkan honor yang akan di terimanya.

Selain menulis, Budiman juga menjadi kasir di sebuah warung bakso. “Saya menjadi kasir supaya bisa makan bakso secara gratis,” kata ayah dua anak ini. Menurut Budiman, warung bakso itu masih eksis hingga sekarang.

Karir jurnalistik
Menulis untuk mencukupi biaya hidup lantas ditekuni Budiman. Usai menamatkan pendidikan di UGM, Budiman melamar bekerja di Kompas. Saat itu, ia ditugaskan meliput isu keadilan, hak asasi manusia, hukum, politik, dan konstitusi. “Itulah fokus liputan saya di Kompas,” katanya kepada HIDUP di sela-sela acara Penganugerahan Cerpen Kompas di Bentara Budaya Jakarta pada penghujung Juni lalu.

Liputan masalah hukum menjadi makanan sehari-hari Budiman. Dengan mengendarai sepeda motor, ia saban hari mengunjungi lima pengadilan di Jakarta. “Latar belakang saya bukan sarjana hukum, maka saya harus belajar keras. Namun, lambat laun saya memahami bagaimana mafia hukum itu bekerja,” ungkap suami Fransiska Endang Triningsih ini.

Ia pun mendapati banyak ketidakadilan. Praktik mafia hukum tak hanya terjadi di Jakarta. Suatu ketika Budiman bersama Albert Hasibuan dan Abdul Hakim Garuda Nusantara menemui nara pidana Lingah-Pacah di Lembaga Pemasyarakatan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Mereka adalah korban peradilan sesat dalam kasus pembunuhan. Hasil investigasi terhadap narapidana Lingah-Pacah ditulis Budiman di Kompas. Ia akhirnya juga menuliskan dalam sebuah buku bertajuk Lingah-Pacah Menggapai Keadilan.

Selain itu, Budiman juga melakukan investigasi terhadap kasus penggusuran pada masyarakat di Kedungombo, Jawa Tengah. Hasil investigasi tersebut ia tuangkan dalam buku berjudul Dua Kado Hakim Agung untuk Kedungombo. “Saya menganalisis putusan Hakim Agung terkait kasus Kedungombo. Dari situlah, orang mengira saya seorang Sarjana Hukum,” ungkap umat Paroki Maria Bunda Karmel (MBK) Tomang, Jakarta Barat ini.

Tidak sedikit undangan yang ditujukan pada dirinya, mencantumkan gelar SH pada namanya. Bahkan, seorang profesor Hukum Universitas Indonesia (UI) menawarkan beasiswa untuk studi lanjut di UI. Sang profesor siap memberi rekomendasi. “Saya bukan Sarjana Hukum,” Budiman mengisahkan lagi jawabannya. Dan, profesor itu pun kaget. Atas rekomendasi Profesor Hukum itu, akhirnya Budiman melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di UI.

Selama proses amandemen UUD 1945, Budiman juga mengikuti dari dekat. Ia meliput pembahasan UUD 1945 dari perubahan pertama hingga keempat. Ia mencermati dinamika dan tarik-menarik kepentingan dalam amandemen itu. Ia masih mengikuti perkembangan konstitusionalisme di Indonesia, termasuk praktik masyarakat dalam berkonstitusi.

Selain menulis berita dan esai, ia juga menulis Tajuk Rencana Kompas mengenai isu politik domestik. Tulisannya yang berjudul “Ironi Pencalonan DPR” (Kompas, 24 April 2013) mendapat Penghargaan Adinegoro untuk kategori Tajuk Rencana dalam rangka hari Pers Nasional, 9 April 2014.

Budiman Tanuredja
TTL : Bandung, 25 Februari 1964
Istri : Fransiska Endang Triningsih
Anak : Sebastianus Endi Riza Putra dan Maria Transia Intan Andani

Pendidikan:
• SD Tripusaka Surakarta lulus 1976
• SMP Tripusaka Surakarta lulus 1980
• SMA Negeri 3 Surakarta lulus 1983
• S1 Fakultas Teknik Jurusan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1990)
• S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia – Bidang Studi Ilmu Politik (2003)

Pekerjaan:
• Wakil Pemimpin Redaksi Kompas (2012-sekarang)

Organisasi:
• Salah seorang pendiri Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)
• Salah seorang pendiri Judicial Watch Indonesia (JWI)
• Ketua dan Pendiri Perkumpulan Karyawan Kompas (1999-2001)
• Anggota Dewan Kehormatan Wartawan Kompas (13 Juli 2005-2009)

Buku:
• Menulis Buku “Lingah-Pacah Menggapai Keadilan” (1994)
• Menulis buku bersama Abdul Hakim Garuda Nusantara “Kado Hakim Agung” (1995)
• Menulis Buku “Dari Trisakti ke Semanggi- Perjalanan Menuju Indonesia Baru” (1998)
• Menulis Buku: “Pasung Kebebasan: Menelisik Kelahiran UU Unjuk Rasa” (1998)
• Militer dan Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Era Soeharto Studi Kasus Tanjung Priok dan Kasus 27 Juli 1996 (Tesis)

Penghargaan:
• Penghargaan Adinegoro untuk Tajuk Rencana dalam rangka hari Pers Nasional 9 April 2014.
• Muhammad Yamin Award 2014

A. Benny Sabdo

HIDUP NO.30, 27 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here