Komunitas KITA-Selatan : Membangun Persaudaraan di Taiwan

62
Krisma: Pada Hari Raya Pentakosta 18 Mei 2013, tiga anggota KITA-Selatan menerima Sakramen Penguatan dari Uskup Tainan Mgr Bosco Lin.
[NN/Dok.KITA-Selatan]
Komunitas KITA-Selatan : Membangun Persaudaraan di Taiwan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di perantauan mereka berkumpul membangun komunitas kekeluargaan. Kerinduan berbahasa Indonesia dapat terobati lewat Perayaan Ekaristi.

Kerinduan berkumpul dengan sesama perantau Katolik di Taiwan menjadi awal terbentuknya Keluarga Katolik Indonesia Taiwan Selatan (KITA-Selatan). “Kami rindu dengan adanya komunitas untuk mewadahi perjumpaan sebagai orang Katolik dari Indonesia,” ungkap Anton Setino. Bagi Anton, komunitas ini merupakan tempat umat Katolik asal Indonesia yang tumbuh dalam suka dan duka sebagai perantau. Nicolaus Nezha Nunez Mahasti mempertegas, dirinya sungguh merasakan suasana persaudaraan dan kekeluargaan dalam komunitas ini. “Dalam berbagai kegiatan rohani baik misa dan ziarah menggunakan bahasa Indonesia sehingga dapat mengobati kerinduan akan kegiatan rohani yang pernah dilakukan waktu di Indonesia dan dapat mempererat kekeluargaan di negeri orang,” jelas Nicolaus.

Hari Kenaikan Tuhan
KITA-Selatan dibentuk tepat pada Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, 9 Mei 2013. Komunitas ini mewadahi perantau Katolik Indonesia di Taiwan yang tinggal di Chiayi, Tainan, Kaohsiung dan Pingtung. Ketika didirikan, Steven Tanda Putra disepakati komunitas menjadi ketua. Latar belakang terbentuknya komunitas ini adalah semakin bertambahnya jumlah mahasiswa dan pekerja Katolik asal Indonesia di Taiwan bagian Selatan. Mereka berkumpul dan sepakat untuk secara rutin berhimpun sebagai komunitas. Tidak sekadar berkumpul, mereka lantas mengadakan kegiatan rohani dan berbagi cerita. Sementara, di Taiwan bagian Utara juga terbentuk KITA-Taiwan dan KITA-Hsinchu.

Anggota KITA-Selatan menyadari bahwa tugas utama mereka sebagai mahasiswa adalah belajar dan sebagai pekerja adalah bekerja. Hanya saja, belajar dan bekerja mereka rasa tidak cukup. Mereka, baik mahasiswa maupun pekerja, ingin bersama-sama tumbuh dalam iman akan Yesus. Mereka bersama membangun kesadaran akan panggilan untuk menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang dunia bagi orang-orang sekitar. Maka, sebulan sekali komunitas mengadakan Misa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ekaristi biasanya diadakan di Gereja Paroki Sacred Heart Tainan, Keuskupan Tainan. Sementara, anggota komunitas di Kaohsiung mengadakan Misa di Kapel milik Wenzao Ursuline University yang berada di Keuskupan Kaohsiung.

Mengerti Pesan Misa
Kegiatan KITA-Selatan memang belum banyak. Namun, komunitas berkomitmen untuk berkumpul bersama sebulan sekali. Kegiatan pokoknya adalah Misa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan memakai bahasa Indonesia, kerinduan mereka akan Tanah Air sedikit terobati. Kecuali itu, dengan bahasa Indonesia, mereka lebih dapat menghayati Ekaristi, juga lebih bisa memahami pesan imam dalam khotbah. Sebab, tidak semua anggota KITA-Selatan mengerti secara sempurna bahasa Inggris dan Mandarin, yang biasa digunakan dalam Ekaristi di Taiwan.

Selama ini, Misa bahasa Indonesia dipimpin oleh RP Rofandi Tjahja OP, pendamping komunitas ini. Misionaris Dominikan ini, bermisi di Paroki Zhongshan. Selain Pastor Rofandi, pendampingan juga dilakukan oleh RP Murji Yono CM, yang saat ini berkarya di Paroki Kaiyuan.

Selain Misa, KITA-Selatan juga mengadakan ziarah ke gereja-gereja di Taiwan dan kunjungan persaudaraan ke komunitas KITA di bagian Utara. Kegiatan ini bertujuan agar anggota komunitas di selatan maupun utara saling mengenal. Pada bulan Maria, setiap Minggu, anggota komunitas berkumpul untuk berdoa Rosario. Sedangkan pada masa Prapaskah, mereka mengadakan Jalan Salib.

Apresiasi dan Harapan
Anggota komunitas KITA-Selatan, saat ini berjumlah lebih dari 100 orang. Mereka berkomitmen untuk membangun relasi dan keakraban dengan komunitas lain. Bersama Theresian Association mereka sering mengadakan ibadat bersama. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antarumat Katolik dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. Dalam kegiatan bersama ini, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar. Pada prinsipnya, komunitas tidak menutup diri, namun berusaha untuk melebur dan bekerja sama dengan umat Katolik lain yang berbeda suku, ras, negara, budaya, dan bahasa.

Salah satu acara bersama KITA-Selatan dan Theresian Association yang diikuti dengan antusias adalah farewell party kelulusan mahasiswa. Dalam acara tersebut seluruh anggota berkumpul, berdoa, sharing dan beramah tamah. Pada akhir acara, komunitas memberikan kenang-kenangan kepada para wisudawan-wisudawati, berupa Piagam.

Kekompakan dan kerja sama dalam menyelesaikan setiap kegiatan merupakan prinsip yang diperjuangkan komunitas. Kekompakan tersebut dapat terlihat dalam upaya mempersiapkan Liturgi Ekaristi. Semua anggota tanpa ragu mengambil bagian dalam persiapan, seperti menyiapkan lagu, musik, multimedia, hingga konsumsi.

Bukan berarti semua berjalan mulus. KITA-Selatan terus berupaya untuk melibatkan semakin banyak umat Katolik di Taiwan. Hubungan personal yang akrab adalah kuncinya. Dan, itu butuh kesetiaan untuk terus mengupayakannya.

Norben Syukur

HIDUP NO.29, 20 Juli 2014

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here