Pastor Valerianus Paulinus Jempau : Pastoral Literasi

97
Pastor Valerianus Paulinus Jempau.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Pastor Valerianus Paulinus Jempau : Pastoral Literasi
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – “Dengan ada majalah dan buku di jok belakang, tidak ada lagi orang yang bisa atau minta diboncengi. Apalagi yang berambut panjang,” kelakarnya.

Pastor Valerianus Paulinus Jempau keluar dari dalam pastoran. Dia menenteng tas obrok dan meletakkan wadah berkelir coklat itu di belakang jok motornya. Pastor Rekan di Paroki St Maria Diangkat ke Surga Rejeng, Keuskupan Ruteng lantas memasukkan sejumlah buku, koran, dan majalah ke dalam tas yang biasa digunakan oleh para kurir atau petugas pos.

Jumlah bahan bacaan yang dibawanya tak tentu, tergantung kondisi jalan serta cuaca saat itu. Bila medan menuju kapela begitu mendaki dan hujan, dia takkan membawa banyak barang. Faktor keselamatan adalah alasan utamanya. Lagipula, Romo Lerry masih memikul satu tas lain berisi perlengkapan Misa di pundaknya.

Tas-tas itulah yang selalu menemani Pastor Lerry demikian Pastor Valerianus Paulinus Jempau akrab disapa, saban kali berkunjung ke stasi-stasi dan merayakan Misa bersama umat di kapela. Tas obrok yang dibeli secara daring itu baru Pastor Lerry buka usai Misa. Lantas, dia mempersilakan umat, baik tua, muda, remaja, maupun anak-anak untuk mencecap jendela informasi. “Mereka bisa membaca selama dua. Jika ada yang ingin lanjut membaca di rumah, saya tinggal mencatat nama pemijam. Saya memang menekankan agar buku atau majalah itu dikembalikan agar umat lain juga bisa membaca,” ungkap imam yang ditahbiskan pada 2016 itu.

Mengenal Diri
Pastor Lerry menyebut aktivitas mingguannya itu sebagai pastoral literasi. Model pelayanan itu telah berjalan hampir setahun. Semua berawal saat dirinya didapuk sebagai Kepala Sekolah SMP St Stefanus Ketang, pada 1 Agustus 2017. “Hal pertama, saya harus mengenali diri sendiri. Saya mencintai pendidikan. Karya yang saya jalani saat ini, salah satunya, pastoral pendidikan,” ungkap imam asal Mbeling, Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur ini.

Pastor Lerry menggantikan posisi Pastor Tarsisius Syukur, yang dipercaya oleh keuskupan untuk menahkodai SMAK St Stefanus Ketang. Pastor Tarsi, panggilannya, juga Kepala Paroki Rejeng saat ini.

Pastor Lerry mengakui, dinamika akademis para siswa di sekolahnya sudah amat kuat. Prestasi itu tak lepas dari jasa Pastor Tarsi. Seniornya itu, menurut Pastor Lerry, telah mengasah kemampuan dan keterampilan literasi siswa lewat sejumlah kegiatan, antara lain presentasi pagi tiap siswa, sidang akademik setiap bulan oleh masing-masing kelas, serta aneka perlombaan.

Kegiatan-kegiatan tersebut tak hanya mengakrabkan para siswa dengan berbagai literatur, tapi juga memantik keberanian mereka untuk mengemukakan ide di muka umum. Warisan dari pendahulunya itulah yang hendak diteruskan dan dikembangkan oleh Pastor Lerry.

“Saya tinggal ‘menyiram tanaman-tanaman’ literasi di sini agar dapat tumbuh semakin subur,” terangnya, beranalogi. Langkah pertamanya untuk merealisasikan cita-cita itu dengan menambah bahan bacaan untuk para siswa. Dia bersyukur, harapan itu langsung terjabah. Ada penerbit Katolik yang mengirim buku-buku secara gratis untuk perpustakaan di sekolahnya. Kemudian, ketika ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pastor Lerry membeli banyak buku murah untuk menambah koleksi perpustakaan.

Tak hanya itu, Pastor Lerry juga menghubungi HIDUP untuk berlangganan Majalah HIDUP maupun Cathkids. Jawaban dari HIDUP sungguh di luar dugaannya. HIDUP melanggankan secara gratis kedua produk tersebut untuk mendukung program literasi Pastor Lerry. Bantuan yang diberikan HIDUP tak lepas dari sumbangan para donatur untuk membantu para katekis dan guru terutama yang berada dan berkarya di pelosok.

Dengan koleksi pustaka yang tersedia, Pastor Lerry terus melanjutkan misinya. Setiap sore, ketika para siswa melanjutkan studi di sekolah, dia menyelipkan kesempatan untuk membagi bahan bacaan untuk mereka. Pastor Lerry meminta mereka untuk membaca dan menganalisa berita atau artikel dalam majalah atau koran.

“Selain menjabarkan 5 W + 1 H (what, who, when, where, why, dan how), tapi saya minta mereka untuk menangkap pesan berita, dan membagikan semua itu kepada siswa lain saat presentasi pagi,” beber Pastor Lerry.

Menangkap Peluang
Seiring rutin menerima majalah gratis, Pastor Lerry berpikir untuk mengembangkan jangkauan pastoral literasinya. Dia ingin menularkan semangat membaca bagi umatnya di stasi-stasi. Saat ini, ada delapan stasi di Paroki Rejeng. Paroki yang berusia 101 tahun itu memiliki jumlah umat sekitar 25 ribu. Ini adalah paroki dengan jumlah umat terbanyak di Keuskupan Ruteng.

Maka, tiap Minggu, dia selalu membawa majalah dan buku di dalam tas obroknya ke stasi. “Ini merupakan suatu kepercayaan dan peluang besar yang harus saya bagikan. Agar pastoral saya berguna bagi banyak orang, tidak hanya di altar, tapi juga harus turun atau sampai ke pasar dengan hal-hal konkrit seperti pastoral literasi ini,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut anak pertama dari empat bersaudara pasangan Valentinus Jempau-Lusia Nimat ini, pemerintah saat ini begitu getol mendorong gerakan literasi. Dia ingin menangkap peluang tersebut. Karena itu, sebagai warga negara, Pastor Lerry mendukung gerakan positif tersebut dengan pendekatannya sebagai seorang imam yakni pastoral literasi.

Kebiasaan membaca, menurut Pastor Lerry, harus dimulai sejak kecil. Maka, saban kali berkunjung ke stasi, Pastor Lerry lebih banyak memboyong bacaan untuk anak-anak, salah satunya Cathkids. Misinya itu pun mendapat dukungan dari rekan imam di parokinya serta para guru di SMP St Stefanus.

Dia menambahkan, budaya membaca sedari anak-anak ikut memberi keuntungan bagi sekolah yang dipimpinnya. Sebab, hampir semua siswa SD di lingkup pelayanan Paroki Rejeng –terdapat 11 SD– bakal masuk ke SMP St Stefanus. “Dengan begitu kami tak terlalu berat untuk memotivasi mereka (untuk membaca) kelak,” bebernya.

Memang, menabur kebiasaan membaca bagi anak-anak tak semudah membalikkan telapak tangan. Realita ini tak hanya berlaku untuk anak-anak di pelosok, tapi juga di kota. Karena itu, Pastor Lerry sangat membutuhkan perhatian dan sentuhan dari orang terdekat mereka, salah satunya guru.

Setiap kali membagikan Majalah HIDUP secara gratis kepada para guru, Pastor Lerry berpesan, majalah tersebut tak sepenuhnya bebas biaya. Ada kewajiban yang mereka berikan, yaitu bukan dalam bentuk uang tapi informasi serta semangat untuk menggalakan literasi kepada para peserta didik.

Mata baca
Perlahan-lahan Pastor Lerry juga mengembangkan taman baca bernama Matabaca. Koleksi pustaka di sana masih amat terbatas sebab pengeluaran untuk itu berasal dari kocek pribadi. Sehingga, dia amat mengharapkan bantuan buku, terutama untuk anak-anak, dari para donatur. “Sejauh ini hanya ada Majalah Cathkids. Semoga ada pihak yang membantu saya agar gerakan ini terus bertahan hidup,” pintanya.

Bila ada umat yang tergerak ingin mengirim buku kepada taman bacanya bisa melalui alamat Taman Baca Kompak Le Nuk, Komunitas Biara St Yosef Ruteng, Jalan Pelita, Manggarai, Flores, NTT.

Saat ini, meski dalam keterbatasan, Pastor Lerry terus menghidupkan pastoral literasi. Dia akan selalu membawa buku dan majalah, selain perlengkapan Misa, ke setiap stasi. “Dengan ada majalah dan buku di jok belakang motor, saya merasa bersyukur dan beruntung. Tidak ada orang yang bisa dibonceng atau meminta untuk dibonceng, terutama yang berambut panjang, ha…ha…ha,” kelakar Pastor Lerry, saat menemuinya di Pastoran Rejeng, Selasa, 5/6.

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here