Janny Januar Kopalit : Pionir Persatuan dari Sulut

59
Janny Bersama Uskup Manado Mgr Benedictus Rolly Untu MSC.
[NN/Dok.Pribadi]
Janny Januar Kopalit : Pionir Persatuan dari Sulut
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Hidup aman dan saling menghargai antar umat beragama menjadi cita-citanya sejak kecil. Ia menjadi pioner yang berjuang merawat keberagaman di Sulawesi Utara.

Setara Institute tahun 2017 merilis, Manado menjadi kota dengan Indeks Kota Toleran (IKT) tertinggi se-Indonesia. Berdasarkan hasil temuan tersebut, Setara Institute menempatkan Manado, Pematangsiantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binjai, Kotamubagu, Palu, dan Tebingtinggi sebagai kota paling toleran. Hasil kajian ini dilakukan di 94 kota. Tujuannya untuk mencari tahu, sejauh mana masyarakat dapat menghargai perbedaan agama dan hidup berdampingan satu dengan yang lain.

Beberapa indikator pendukung Manado sebagai kota toleransi tertinggi adalah regulasi pemerintah kota, Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah, tindakan pemerintah, pernyataan pemerintah, tindakan peristiwa, regulasi sosial, pelanggaran, dan demografi beragama. Terpilihnya Manado sebagai kota paling toleran di Indonesia memberikan dampak positif di semua bidang karena pemerintah menjamin rasa aman bagi warganya.

Terkait demografi beragama, salah satu tokoh yang pantas disebutkan berperan penting dalam menyatukan kehidupan beragama di Kota Tinutuan adalah Janny Januar Kopalit. Janny mendorong barisan muda lintas agama untuk membangun persatuan. Masa depan bangsa sangatlah ditentukan oleh generasi muda. Karena itu, kaum muda adalah pioner utama menjaga NKRI dari rongrongan konflik intoleransi dan radikalisme.

Janny berkecimpung dalam memperjuangkan persatuan Kota Manado bukan tanpa alasan. Menurutnya keragaman budaya dan agama di Manado memiliki potensi dirusak oleh konflik-konflik horizontal. Perkembangan teknologi juga semakin membuka peluang aksi-aksi intoleran dan vandalisme.

Generasi Damai
Janny berangkat dari slogan yang telah mendarah daging dalam masyarakat yakni “Torang Samua Basudara”, ‘Kita Semua Bersaudara’. Semangat ini menebarkan pesona toleransi dan harmoni. “Atas desakan ini saya berjuang untuk meletakkan sumbu toleransi antar umat beragama di Manado. Tentu ini berkat kerjasama dengan pemuda-pemuda lintas agama,” ujar Janny.

Mantan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) 2004-2009 ini membenarkan bahwa perjuangan melahirkan toleransi Manado amat tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan berbagai gerakan intoleran yang digoreng bersama dengan isu keagamaan. Di Manado, sesuai pengalaman Janny, tentu ada kelompok-kelompok radikal tetapi sampai saat ini belum mengancam persatuan orang Manado. Janny dalam berbagai kesempatan mencoba hadir dan menyapa mereka. Memberi pemahaman bahwa Manado dibentuk menjadi “The City of Brother Love”. “Kita tidak memaksa agar mereka mau menerima kita tetapi minimal membantu mereka memahami doktrin secara tepat. Sebab kejahatan terjadi bisa karena doktrin yang salah.”

Berbicara soal mayoritas agama di Sulut, tentu Kristen menjadi dominan setelah Islam dan dedominasi lainnya. Tetapi masyarakat menunjukkan hubung an mendalam antar budaya. Semua ini terjadi sebagai akibat adaptasi kultural dengan nilai budaya lokal. Dalam hal ini ada culture dominant seperti etnik Minahasa dalam kolaborasi demi penerimaan kepada budaya-budaya minoritas. “Berdasarkan fakta di lapangan, mata kita segar karena orang berbeda agama bisa duduk makan bahkan sepiring. Konteks kehidupan serta interaksi masyarakat seperti ini adalah ciri khas masyarakat Minahasa dalam menghargai perbedaan,” pungkas Ketua Barisan Muda Damai Sejahtera Sulawesi Utara ini.

Tentu apa yang diperjuangkan Janny tidak lepas dari komunitas pendukung seperti pemuda-pemudi lintas agama di Kota Manado. Beberapa organisasi kepemudaan lintas agama berkembang atas prakarsa dirinya. Ia bahkan menjadi pengurus organisasi-organisasi tersebut. Saat ini, ia Ketua Pemuda Katolik Kota Manado, Presidium Forum Lintas Gereja Sulut, Sekretaris Relawan Sulut Nyaman Kota Manado, Wakil Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia, dan Anggota  Kota Manado.

Ditanya soal partisipasinya ini, Janny mengatakan, ketika seseorang mampu berbicara tentang persatuan maka penilaian utama adalah sejauh mana ia terlibat dalam kehidupan menggereja. “Partisipasi dalam kehidupan menggereja adalah pintu mewujudkan persatuan bagi saudara-saudara berbeda iman,” tegas Janny.

Kolaborasi Lembaga Sosial
Dalam refleksi sebagai aktivis persatuan antar umat beragama di Manado, Janny mengatakan, salah satu peluang yang dapat dilaksanakan untuk daerah-daerah lain adalah berusaha melepaskan stigma “pendatang”. Di Manado, Janny berusaha masuk dalam setiap kelompok etnis berbeda latar belakang budaya, agar tidak timbul kesan mayoritas-minoritas dan pendatang-tuan rumah. “Setiap agama harus terbuka mengakui perbedaan. Tidak ada identitas primordial yang melekat pada suku, ras, dan agama tertentu. Tetapi kita sama karena kualitas hidup tiap manusia yang diberikan Tuhan.”

Di pemerintahan, Janny juga punya peran mempromosikan program-program pengembangan yang mengeratkan relasi kehidupan umat beragama. Ketika menjadi politisi, ia berusaha mengusulkan program pengembangan keluarga. Menurutnya, keluarga adalah agen sosialisasi politik sehat. Orang tua memiliki peran yang strategis untuk memberikan nilai-nilai sosial maupun keagamaan kepada anak. Maka dalam politik, sosialisasi politik dalam keluarga merupakan kunci bagi perilaku.

Janny berusaha mewujudkan politik sehat untuk keluarga-keluarga. Ketika kebutuhan-kebutuhan primer seperti rumah, makan minum, pakaian warga terpenuhi maka prospek otomotis rasa saling menghargai dengan sendirinya terbentuk. “Pendidikan juga menjadi prioritas karena pendidikan memiliki fungsi sosial, fungsi kontrol sosial, fungsi perubahan sosial, dan peningkatan sosial.”

Upaya mendidik anak untuk mencintai dan menghormati tatanan lembaga sosial dan tradisi di Manado menjadi sangat penting. Bagi Janny, lembaga sosial seperti keluarga, agama, dan pemerintah harus berkolaborasi mewujudkan Manado yang damai.

Janny Januar Kopalit

TTL: Manado, 14 Januari 1974
Isteri : Sylvy Paulus
Anak :
1. Raynald Jaffi er Rafael Kopalit
2. Natalia Gabriel Sheyla Kopalit

Riwayat Pekerjaan :
• 2004-2009 : Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara
• 2008 : Sekretaris DPW Partai Damai Sejahtera
• 2008 : Sekretaris Partai Damai Sejahtera DPRD Prov. Sulut
• 2016-sekarang : Owner Legislative Executive Media Grup

Organisasi :
• Wakil ketua Knpi Sulawesi Utara
• Ketua Pemuda Katolik Kota Manado
• Ketua Dewan Pembina Pemuda Katolik Kota Manado
• Wakil Ketua Pemuda Katolik Sulawesi Utara
• Presidium Forum Pemuda Lintas Gereja Sulawesi Utara

Penghargaan :
• In Appreciation Of The Dedication And Efforts For : Men Of The Year 2007-2008

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here