Albertus Photo Club : Merekam Sejarah Lewat Foto

34
Berlatih: Anggota Alto sedang praktik memotret model.
[NN/Dok.Komsos Stasi Albertus]
Albertus Photo Club : Merekam Sejarah Lewat Foto
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pelayanan untuk gereja bisa dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya lewat fotografi . Berbekal kamera, komunitas ini merekam setiap aktivitas umat yang bakal menjadi bukti sejarah .

Hari masih gelap. Deru sayup mesin kendaraan hanya terdengar satu-dua dari kejauhan. Meski dingin membebat tubuh dan kantuk menggelayut, anggota Albertus Photo Club (Alto) semangat mengikuti acara hunting foto di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Pagi hingga sore, di lokasi hiburan pantai ibu kota itu, kelompok kategorial yang berada di bawah payung Seksi Komunikasi Sosial Stasi Albertus Harapan Indah, Bekasi ini mengeksplorasi berbagai hal tentang fotografi, di antaranya pemotretan alam dan model.

Pada kesempatan lain, mereka pergi ke air terjun Curug Nangka, Ciapus, Bogor. Di sana mereka belajar teknik pemotretan kecepatan rendah dan pengaturan cahaya pada kamera. Ada kalanya juga mereka memanfaatkan lokasi gereja atau komplek perumahan untuk mengasah keterampilan seputar foto dalam ruangan, produk, dalam kondisi cahaya minim.

Sejumput kegiatan di atas merupakan salah satu rutinitas yang mereka lakukan di hari Minggu kedua setiap bulan. Tidak melulu hunting, kadangkala mereka sharing pengalaman dan pengetahuan. “Jadwal kegiatan selang-seling. Misalnya, bulan ini pembahasan di dalam ruangan, bulan selanjutnya keluar. Pada pertemuan itu, biasanya kami sekalian membuat pembagian tugas untuk memotret kegiatan-kegiatan stasi,” ungkap Ketua Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) Stasi Harapan Indah, Herybertus Wahyu Widodo.

Merekam Sejarah
Aneka peristiwa dan kegiatan yang mewarnai peziarahan Gereja Albertus menjadi latar belakang kelahiran kelompok fotografi di stasi yang merupakan bagian dari Paroki St Mikael Kranji, Bekasi ini. Hery sadar, setiap peristiwa dan kegiatan umat bakal menjadi catatan emas per-jalanan stasi yang tak akan pernah terulang. Meski dengan kemampuan dan sarana terbatas ia berusaha merekam setiap kejadian di stasi, wilayah, dan lingkungan dalam bentuk reportase dan foto. Hasilnya ia tampilkan di website milik stasi. “Mungkin saat ini belum terasa penting, tapi suatu saat nanti hal ini akan dicari,” ungkapnya dengan yakin.

Seiring waktu, kegiatan stasi kian hidup dengan beragam. Hery dan lima rekannya di Komsos berbagi tugas. Mereka meluangkan waktu, di tengah aktivitas pribadi. Hery mengakui, kadang ada juga kegiatan umat yang terlewat karena keterbatasan jumlah personil Komsos. Karena itu, pada 2012 Hery bertemu dua rekannya sesama alumni Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), Januar Pribadi Noko dan Arief Dwijayanto. Ia mengusulkan untuk membuat kelompok fotografi guna membantu Komsos melayani dokumentasi. Gayung bersambut, Januar dan Arief pun antusias.

Pintu Masuk
Desember 2012, dalam sebuah pertemuan yang diinisiasi oleh Seksi Komsos, gagasan membangun kelompok fotografi mulai digarap. Pertemuan itu melahirkan sebuah nama untuk komunitas ini, yakni Alto yang merupakan akronim dari Albertus Photo Club. Selain itu, pertemuan tersebut juga menelurkan rencana membuat lomba fotografi sebagai ‘pintu masuk’ menjaring anggota. Ide tersebut terbukti sahih. Januari 2013 pendaftaran dibuka, puluhan peserta dari beragam usia dan latar belakang pendidikan dan pekerjaan ikut ambil bagian.

Usai hajatan tersebut, pada Februari 2013, Januar dan Arief mengumpulkan kembali peserta lomba. Kesempatan itu mereka gunakan untuk menuangkan gagasan tentang komunitas Alto, sekaligus memberi pembelajaran mengenai prinsip-prinsip dasar fotografi, serta pengenalan posisi pemotret ketika memotret di dalam gereja. Tujuannya, pergerakan Alto tidak mengganggu umat yang sedang beribadat.

Sebagai Ketua Alto, Januar mengakui, awal kehadiran kelompok tersebut banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Terutama Lukas Gunawan, praktisi fotografi yang senantiasa berbagi pengetahuan dan pengalaman. Setiap bulan ia hadir untuk mendengarkan dan mengevaluasi kisah serta hasil karya mereka. Pada Juni 2013, roda Alto sempat tersendat sebab Lukas tidak bisa hadir lagi karena pekerjaannya. Untung, Januar dan Arief mengisi kekosongan tersebut. “Yah, saat ini prinsipnya semua dari kami dan untuk kami,” kata Januar.

Bangun Sistem
Pembagian tugas para awak Alto dikoordinir oleh Arief sebagai koordinator lapangan. Setelah menerima jadwal kegiatan umat dari Seksi Komsos dan Ketua Alto, ia mengedarkan jadwal itu kepada anggota. Para anggota diberi kebebasan untuk memilih sendiri kegiatan yang akan mereka hadiri. Setiap kegiatan maksimal diisi tiga orang. Jika kemudian ada anggota yang tidak bisa bertugas sesuai jadwal, ia harus mencari pengganti. “Ini untuk melatih tanggung jawab dan komunikasi,” kata Arief.

Arief bersyukur, hingga saat ini cara ini berjalan baik. Meski demikian, Alto pernah keteteran karena banyaknya kegiatan, terutama saat liburan sekolah, dan hari raya. Karena kemurahan hati para anggota Alto yang siap sedia terjun ke lapangan, kesulitan itu bisa diatasi. “Kadang saat hari raya atau liburan kami harus selalu siap mengganti bila ada petugas yang tidak bisa hadir,” demikian Arief.

Pria kelahiran Pekalongan ini berharap, keterlibatan anggota Alto dalam pelayanan Gereja semakin mengasah kualitas fotografi mereka. Sedangkan Januar berharap, Alto dapat berkembang dan bisa memiliki beberapa kamera Single Lens Reflex untuk menunjang karyanya memotret berbagai kegiatan umat.

Bila kualitas foto mereka bagus, kata Hery, tentu akan ada umat yang mau memakai jasa mereka untuk acara-acara di luar kegiatan Gereja.

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.27, 6 Juli 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here