Saat Generasi Milenial Bersuara

126
Paus Fransiskus selfie bersama beberapa pemuda utusan dari berbagai negara. [www.americanmagazine.org]
Saat Generasi Milenial Bersuara
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Selama Pra Sinode Paus Fransiskus meminta orang muda terbuka dan berani bersuara. Gagasan mereka akan menjadi penuntun untuk Sinode Uskup Oktober nanti.

ORANG-orang muda di Asia telah begitu akrab dengan perkembangan sosial, ekonomi dan politik. Gambaran ini setidaknya terlihat dari semakin meningkatnya kualitas pendidikan masyarakat. Di sebagian besar wilayah Asia, ada peningkatan tingkat pendidikan masyarakatnya.

Perkembangan lain yang membanggakan di Asia adalah berkurangnya ketidaksetaraan gender terutama berkaitan dengan akses untuk memperoleh pendidikan. Di sebagian negara-negara Asia, pemerintah telah menjamin kebebasan setiap anak mendapatkan pendidikan.

Namun begitu, perbedaan kualitas pendidikan antara satu daerah di perkotaan dan daerah lain di “pinggiran” tetap menjadi tantangan. Orang muda Asia tetap harus memiliki kepedulian dalam hal ini. Adalah tugas mereka untuk juga memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda dunia kini.

Tantangan-tantangan dalam kehidupan orang muda Asia ini menjadi salah satu bahasan dalam Pra Sinode tentang Orang Muda yang diadakan di Roma, Italia, 19-24/3. Bertempat di Pontifical International Maria Mater Ecclesiae College, orang muda perwakilan dari seluruh dunia bertemu untuk membuat peta jalan bagi pertemuan para uskup sedunia yang akan diadakan Oktober tahun ini.

Gagal Bermimpi
Di Afrika, tenaga kerja anak telah menjadi praktik umum di hampir semua negara Benua Hitam itu. Hal ini seperti disampaikan Tendai Karombo, peserta Pra Sinode dari Zimbabwe. Tendai menjelaskan, anak-anak dan orang muda dipekerjakan dengan upah sangat murah.

Ia melanjutkan, anak perempuan semakin terpinggirkan karena mereka juga kesulitan untuk mengakses pendidikan. “Daripada membantu orang muda mendapatkan dan melanjutkan pendidikan mereka, anak laki-laki dan perempuan muda ‘dipekerjakan’ sebagai pembantu rumah tangga dan di pabrik-pabrik,” ungkap Ketua Dewan Pemuda Katolik Zimbabwe ini.

Kondisi sosial ekonomi di Afrika pun setali tiga uang. Di sebagian besar negara Afrika, krisis ekonomi telah membawa penderitaan. Tendai mengungkapkan, ekonomi yang buruk, terutama karena salah urus dan koprupsi mengakibatkan tingginya tingkat pengangguran. Tendai menunjukkan data yang ada di Zimbabwe, di negara ini pengangguran dialami oleh lebih dari separuh angkatan kerja.

Kondisi ini telah menjadikan orang muda gagal untuk mewujudkan impian mereka sendiri. “Mimpi dan aspirasi mereka dikendalikan oleh orang yang memiliki kekuasaan.” Di benua-benua lain, Amerika, Eropa, Australia, dan Oseania, orang muda pun memiliki tantangannya yang beragam.

Dalam hidup keseharian, mereka memiliki beragam tantangan dan peluang, sebagian tantangan ini ada sebagai bagian dari dinamika hidup pribadi, namun lebih banyak yang lain, adalah tantangan yang sama dihadapi orang muda dari seluruh dunia.

Setahun lalu, anak muda Asia bertemu dalam perhelatan Asian Youth Day ke-7 (AYD7) di Yogyakarta, 2-6/8/2017. Mereka menyebut diri mereka sebagai Generasi Millennial. Apa yang menjadi tantangan untuk hidup orang muda pun sebagian telah disinggung ketika itu. Bagi mereka, kemajuan teknologi yang cepat menumbuhkan konsumerisme, ketagihan-ketagihan, dan hilangnya jati diri karena meredupnya nilai-nilai budaya Asia.

Meski begitu, orang muda tidak dapat menolak modernisasi. Ada kalanya, orang muda tidak mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Orang muda memerlukan kesempatan dan ruang untuk didengarkan dan diperhatikan.

Masih dalam kesempatan AYD7, Uskup Legazpi, Filipina Mgr Joel Z Baylon mengungkapkan, Gereja harus mengerti “bahasa” anak muda. Gereja harus masuk lebih dalam di kehidupan mereka. Ia mengungkapkan, dialog antar agama dan antar sesama juga penting untuk dilakukan anak muda.

Anggota Komisi Kerasulan Awam Federation Asia Bishops Conferences (FABC) ini menjelaskan anak muda harus hidup inklusif bukan eksklusif. Mgr Joel menilai bahwa sangat penting bagi anak muda untuk tetap tinggal dalam iman. Baginya, anak muda juga “hidup” di dalam dunia maya.

Di dunia ini ditawarkan berbagai macam hal yang tidak semuanya baik. Berhadapan dengan realitas ini, anak muda harus menjadi “online missionaries of God”, ‘misionaris Tuhan di dunia maya’. Orang muda harus menempatkan diri sebagai misionaris untuk mewartakan Injil di internet, menciptakan kesempatan untuk menjadi pewarta dalam dunia maya.

Mendengar Orang Muda
Pertemuan pra-Sinode ini dihadiri sekitar 300 orang muda yang mewakili kaum muda dari lima benua. Selama Pra-Sinode, peserta membahas mengenai kondisi ekonomi, politik, budaya, agama dan gereja.

Globalisasi membawa dampak yang menyatukan di seluruh dunia. Pada saat tertentu, hal ini justru membawa pertentangan dan memperburuk perbedaan yang ada antara benua dan Negara. Dalam konferensi pers di Kantor Berita Vatikan, 15/3, Sekretaris Jenderal Sinode Kardinal Lorenzo Baldisseri mengungkapkan, sinode ini adalah kesempatan bagi kaum muda untuk menjadi aktor.

Konferensi Pers Pra Sinode Kaum Muda di Vatikan. [www.synod2018.va]
Sinode ini tidak hanya sinode di antara kaum muda dan untuk kaum muda. Sinode ini dari orang muda dan bersama kaum muda. “Kami akan mendengarkan hidup orang muda, untuk memahami situasi mereka dan apa pendapat mereka tentang diri mereka dan orang dewasa.”

Sebuah dokumen berjudul “Young People, the Faith, and Vocational Discernment” menjadi acuan untuk berjalanannya sinode bulan Oktober nanti. Dokumen itu mengungkapkan bagaimana orang muda berjuang untuk menemukan jati diri mereka dalam komunitas  yang mereka jumpai di sekitar tempat kediaman mereka.

Selain itu, mereka juga mencari identitas diri mereka dengan tetap berakar dalam tradisi keluarga mereka dan berusaha untuk tetap setia pada cara mereka dibesarkan. Berhadapan dengan hal ini, Gereja perlu mendukung keluarga dan formasi mereka dengan lebih baik.

Hal ini sangat diperlukan, terutama di beberapa negara, dimana kebebasan untuk berekspresi sangat sulit didapatkan. Identitas orang muda juga dibentuk oleh interaksi dan keanggotaan eksternal kita dalam kelompok, asosiasi, dan gerakan tertentu bahkan yang berada di luar Gereja.

Peserta Sinode Kaum Muda bernyanyi bersama di sela pertemuan. [www.synod2018.va]
Orang muda membutuhkan Gereja yang ramah dan penyayang, yang menghargai akar dan warisannya dan yang mencintai semua orang. Anak muda mencoba memahami dunia yang sangat rumit dan beragam. Mereka memiliki akses ke kemungkinan-kemungkinan baru untuk mengatasi perbedaan dan perpecahan di dunia.

Banyak anak muda terbiasa melihat keberagaman sebagai kekayaan dan menemukan peluang di dunia yang majemuk. Orang muda menghargai keragaman gagasan di dunia global, mereka menghargai pemikiran dan kebebasan berekspresi orang lain.

Berani Bicara
Di hadapan sekitar 300 peserta Pra Sinode Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang muda harus berani dan berbicara dengan bebas. Menurutnya, Gereja Katolik harus mengambil risiko untuk tumbuh. Suara dari anak muda diperlukan untuk menjadi pedoman bagi sinode para uskup yang membicarakan tentang kehidupan orang muda di seluruh dunia.

Peserta Pra Sinode Kaum Muda dari berbagai negara. [www.synod2018.va]
“Saya percaya pada hari-hari ini Tuhan akan berbicara melalui Anda,” kata Paus. Paus Fransiskus melanjutkan, orang muda harus berani memiliki sentimen baru, bahkan jika itu berarti mengambil risiko yang lebih besar. Paus menyadari bahwa Gereja membutuhkan suara orang muda untuk berkembang menjadi lebih baik.

“Itulah sebabnya kami membutuhkan kalian para pemuda, batu-batu hidup dari sebuah gereja dengan wajah muda,” katanya. Paus Fransiskus meminta para peserta Pra Sinode untuk berbicara secara terbuka dan jujur, kesempatan ini menjadi saat untuk saling mendengarkan dengan cermat.

Dalam perjalanan sejarah gereja, seperti dalam banyak episode alkitabiah, Allah ingin berbicara melalui yang paling muda. Paus Fransiskus memberi contoh beberapa tokoh kitab suci Samuel, Daud, dan Daniel. Mereka menjadi inspirasi untuk mampu merubah sesuatu menjadi lebih baik. “Di saat-saat yang sulit, Tuhan membuat cerita berlanjut dengan orang-orang muda,” kata Paus seperti dilansir National Catholic Reporter (19/3).

 

Antonius E. Sugiyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here