Lambaian Tangan Bu Padua

60
Lambaian Tangan Bu Padua
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com “SELAMAT pagi Ibu Guru!”
“Eh, selamat pagi juga Ibu Padua, mau ke manakah?”
“Mari Ibu Guru, sa turun ke pasar! Sa titip anak-anak. Bangun tidur mereka biar ke rumah Bu Guru.”
Tumben Ibu Padua menyapaku ramah.
Biasanya ia cuek, tak pernah seramah ini kepada siapapun. Ibu Padua memang bersifat pendiam.

Sorot matanya tajam, bulu mata lentik, alis sedikit terangkat, hidungnya mancung. Badannya langsing, berkaki ramping dan panjang seperti peragawati. Ciri khas tubuh perempuan Papua Suku Kamoro. Rambut keritingnya selalu ia ikat ke belakang.

Rumahnya hanya sekitar lima ratus meter dari rumahku. Anaknya dua. Mereka memang sering datang ke rumahku pada hari Minggu. Kadang mengerjakan PR, kadang hanya sekadar bermain ular tangga yang kubeli ketika aku cuti, pulang ke Yogyakarta. Kedua anak Bu Padua adalah muridku di SD Inpres, Kampung Puriri.

***

Selesai ibadat sabda di gereja, sebelum anak-anak Bu Padua datang, aku sempatkan untuk mencuci pakaian kotor yang sudah kukumpulkan selama seminggu. Biar cucian banyak tidaklah khawatir tidak kering. Tinggal di Kampung Puriri di daerah pesisir pantai Laut Aru, dengan udara panas, kering, dan banyak angin mempercepat proses pengeringan sewaktu menjemur pakaian atau menjemur kerupuk yang akan digoreng.

Kadang aku ikut-ikutan orang kampung beli sagu tumang. Tumang yaitu wadah sagu yang dirangkai dari daun sagu. Sagu sudah dalam bentuk hasil tumbukan halus. Tinggal direndam semalam. Pagi hari air rendaman dibuang, endapannya di taruh merata di atas seng dan kujemur selama tiga hari.

Setelah kering kusimpan di dalam kaleng bekas biskuit. Sewaktu-waktu ingin makan papeda dengan ikan kuah kuning tinggal ambil segelas takar sagu. Ikannya tinggal memancing di Sungai Otomona.

Enaknya hidup di sini orang dimanja oleh alam. Pohon sagu tumbuh sendiri dan subur di hutan, tinggal tebang. Di sungai banyak ikan, tinggal pancing. Sudah bisa untuk makan sehari-hari. Bosan makan ikan, bisa berburu karaka. Karaka di Jawa disebut kepiting. Jika sudah masuk restoran konon harganya sangat mahal. Sementara di sini tinggal diburu di rawa-rawa.

Kepiting rawa Papua terkenal besar-besar. Saat bulan purnama banyak karaka yang bertelur. Telur karaka juga sangat enak dan bergizi tinggi. Bosan karaka bisa menjala udang di sungai. Baru saja aku membungkukkan badan untuk mencuci pakaian, rumahku diketuk-ketuk orang.

“Bu Guru, Ibu Padua….
Ibu Padua su pergi!” teriak Bu Charles terbata-bata ketika kubukakan pintu, heran melihat ekspresi wajahnya.
Aku tidak mengerti kenapa Ibu Padua pergi ke pasar saja sampai membuat raut wajah Ibu Charles nampak sedih dan cemas.
“Iya Bu Charles, saya tahu tadi pagi Bu Padua lewat depan sini bilang hendak turun ke pasar.”
“Iyo Bu Guru, tapi Ibu Padua pergi menghadap Bapa,” jawab Bu Charles lirih hampir tak terdengar.

Aku tertegun sejenak.
“Maksudnya Bu Padua meninggal?”
“Benar Bu Guru. Tadi dia ke pasar, baru pingsan. Orang bawa ke klinik tapi su meninggal. Mari Bu Guru ikut saya. Kami butuh tenaga untuk memandikan jenazah. Di sini tak ada yang berani pegang jenazah. Hanya saya saja dan pasti Ibu Guru juga to. Mari ikut saya!”

Aduh Tuhan, kenapa Kau kirim Bu Charles kepadaku. Seumur-umur belum pernah juga pegang jenazah. Aku pun tak berani! Tapi tidak tega membiarkan Ibu Charles sendirian merawat jenazah Bu Padua.

“Ayo, Bu Guru jangan diam saja! Kita segera ke sana!”
Tersentaklah aku! Seperti tertarik oleh magnet kuat, tiba-tiba aku mengikuti langkah Bu Charles menuju rumah Bu Padua.

***

Di halaman rumah Bu Padua sudah banyak orang berdatangan. Suara tangisan menyayat hati. Aku semakin tak sampai hati ketika melintas di depan kedua anak Bu Padua. Mereka sedang bermain-main, belum paham dengan apa yang sedang terjadi. Sekilas aku teringat lambaian tangan Bu Padua ketika menyapaku pagi tadi. Ingat juga akan kata-katanya.

Aku membantu Bu Charles yang seperti sudah nampak terbiasa merawat jenazah. Entah beliau belajar dari mana. Segala yang ia perintahkan aku berusaha menurutinya. Meskipun aku mengalami ketakutan yang aku pendam baik-baik.

Dan hanya bisa bicara di dalam batin. Tubuhnya sedikit kaku dan dingin sekali. Selesai memandikan, Bu Charles mengambil pakaian warna putih. Mirip baju pengantin, tapi ini lebih sederhana berbahan kain satin.

Bu Charles mengajak bicara Bu Padua dengan suara berbisik. Konon jika jenazah yang sudah mulai kaku diajak bicara ketika hendak dirawat, ia akan menurut dan melemaskan badannya sehingga mempermudah yang merawatnya untuk memberi pakaian atau mendandaninya.

“Ibu Guru, tolong sedikit miringkan agar saya bisa kasi masuk baju dari punggung. Ibu agak peluk sedikit ya. Karena agak berat.”
Aduuhh…kenapa harus pakai dipeluk segala! Namun seperti kena magnet aku menurutinya juga.
“Ibu Guru, punya kaos tangan putihkah?”

Dari tadi aku tidak bersuara. Aku membantu Bu Charles tanpa bersuara sedikit pun. Aku mengalami shock. Pengalaman baru di perantauan. Merawat jenazah, sementara tadi pagi aku masih melihatnya sehat walafiat. Tak ada tanda-tanda sakit sedikit pun. Tiba-tiba kini di hadapanku terbaring diam tak bernyawa.

“Ibu Guru punya kaos tangan warna putih?” Bu Charles mengulangi pertanyaannya. Kembali aku tersentak!
“Oh, ya ada. Kaos tangan yang saya persiapkan untuk baris berbaris. Sebentar saya ambilkan di sekolah.”
Segera aku menuju ke rumahku, mengambil sepeda. Jarak rumahku dan sekolah sekitar satu kilometer. Dengan bersepeda aku bisa menempuh kurang lebih sekitar dua puluh menit pulang pergi. Asal aku mengayuh dengan cepat.
Untung aku membawa kunci duplikat sekolah. Sengaja selalu aku bawa karena sering datang ke sekolah paling pagi.

Ketika aku tiba menyerahkan kaos tangan kepada Bu Charles, jenazah Bu Padua sudah dibaringkan di dalam peti. Kupandangi terus menerus Bu Charles sambil berbisik memakaikan kaos tangan putih. Bu Padua nampak cantik seperti tertidur. Wajahnya damai sekali! Tak tahan air mataku jatuh juga bersamaan dengan air keringat yang mengucur deras karena panas dan bersepeda tadi.

***

Sudah seminggu sejak kepergian Bu Padua, hampir setiap malam aku sulit memejamkan mata. Paling tidur hanya sebentar lalu terbangun dan tak bisa tidur sampai pagi. Apalagi jika malam tiba terdengar suara dari dapur.

Entah suara tikus menabrak sesuatu, atau sekedar suara cicak membuatku selalu terkejut dan berdebar-debar. Aku benar-benar ketakutan tak terkendali. Padahal sudah berkali-kali berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, masih saja belum bisa terusir rasa takutku.

Malam kedelapan, aku seperti kehabisan energi. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang. Namun rasa takut yang luar biasa juga menghantui. Tiba-tiba pintu jendela kamarku diketuk seseorang.

Aku sembunyi di balik selimut. Siapa malam-malam begini ketuk daun jendela. Berkali-kali lagi. Semakin aku pura-pura tidak mendengar tapi ketukan tidak juga mau berhenti.
Kembali aku berdoa Salam Maria, namun tiba-tiba aku lupa kata-kata yang harus kuucapkan. Kuulangi lagi dari depan, sampai di tengah lupa lagi. Kuulangi lagi, malah semakin lupa. Akhirnya kuberanikan diri untuk bangun menuju jendela.

Bergetar seluruh tubuhku! Pelan-pelan kubuka selot jendela. Daun pintu langsung terbuka sendiri. Aku terkejut! Namun aku tidak melihat apa-apa. Pelan-pelan dengan penuh ketakutan kusibak kordennya. Sepi! Hanya pohon matoa di halaman yang terlihat. Tidak ada siapa-siapa! Kabut melintas di depanku.

Dingin! Merinding bulu kudukku. Cepat-cepat kututup lagi jendela. Namun aku seperti melihat seseorang melintas dari balik pohon matoa. Pelan-pelan kubuka lagi.
“Oh, Tuhan Yesus! Bu Padua-kah itu?”
Jelas sekali aku melihatnya sedang tersenyum kepadaku. Kira-kira ia berdiri sejauh tiga meter dariku. Ia mengenakan baju persis ketika aku melihatnya hendak ke pasar.

Mataku tak berkedip. Aku tak percaya dia mendatangiku pada malam kedelapan. Kaos tangan putih itu ia pakai. Jelas sekali dalam pandanganku lambaian tangannya mengenakan kaos tangan putih. Kemudian tubuhnya terangkat dan hilang!

Karena terkejut aku mundur selangkah. Menabrak meja kecil dan aku terjatuh. Kepalaku seperti membentur sesuatu. Entah berapa detik aku tak ingat apa-apa. Ketika terbangun, aku sudah berada di tempat tidurku. Kulirik jendela masih tertutup rapat.

Kutengok jam dinding sudah pukul 06.30. Ah, tak biasa aku kesiangan. Bergegas cuci muka, berganti baju memakai seragam. Berangkat kerja dan kukayuh sepedaku kuat-kuat!

 

Maria Widy Aryani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here