Paroki Kampung Sawah: Berdayakan Potensi Umat Basis

165
Tim Bunga Paroki Kampung Sawah menggelar acara Pelatihan Merangkai Bunga Pengantin dan Kedukaan pada Minggu, 29/7. Pelatihan diberikan oleh tim dari New Inspire Eco Decoration. [dok.pribadi]
Paroki Kampung Sawah: Berdayakan Potensi Umat Basis
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com Sebagian orang memiliki potensi menata keindahan, sebagian orang mengerti mengenai tata liturgi, sebagian orang memiliki kerinduan untuk berpartisipasi agar tata perayaan ekaristi dapat berjalan dengan khidmat, anggun dalam kesederhanaannya, sehingga suasana doa dalam sebuah ruang doa/ kapel/ gereja sungguh terbangun.

Sementara tim perangkai bunga yang ada sudah berkarya memberikan pelayanan terbaik dari masa ke masa sudah semakin bertambah usia, sehingga diperlukan regenerasi dan peremajaan untuk siap menerima estafet melanjutkan merangkai bunga, khususnya dalam misa pemberkatan pengantin dan requiem.

Itulah yang menjadi dasar pemikiran Tim Bunga Paroki Kampung Sawah dengan menggelar acara Pelatihan Merangkai Bunga Pengantin dan Kedukaan yang diadakan pada Minggu, 29/7. Sebagai sekuel ke-2 dari pelatihan yang pernah dilakukan tahun 2017 mengenai Dekorasi Ramah Lingkungan dengan menggunakan Tanaman Hidup.

Tanggapan positif dan antusiasme dari umat dan pengurus di lingkungan sungguh tak terduga hingga peserta yang mendaftar mendekati 200an. Kerja keras dan kerjasama nan kompak dari seluruh pengurus dan Ketua Lingkungan, serta dukungan dari Dewan dan Pastor Paroki, demikian imbuh ketua Tim Bunga Paroki, Fransisca Umiyati.

Dekorasi altar pada prinsipnya adalah hiasan yang memberi nilai tambah pada altar itu dalam perannya sebagai sarana doa, dengan memperhatikan aspek-aspek liturgi. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) disebut beberapa nomor yang membahas tentang bunga altar.

Pemahaman akan warna liturgi diperlukan pada saat pemilihan jenis bunga dan konsep warna. Namun khususnya dekorasi untuk pengantin, ada kelonggaran untuk penerapan warna liturgi, sejauh tidak diadakan dalam masa-masa khusus. Masa khusus yang seyogyanya tidak dilakukan upacara pemberkatan pernikahan adalah masa praPaskah, Pekan Suci, masa Adven dan Natal.

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), dalam empat tahun belakangan ini, gencar mempromosikan dekorasi altar ramah lingkungan. Ramah lingkungan memiliki dua arti. Yang pertama adalah bahwa dekorasi altar itu dibuat sedemikian rupa sehingga mengingatkan umat bahwa bumi seisinya adalah karya Allah. Manusia bisa berdoa bersama alam.

Arti kedua adalah bahwa bahan-bahan yang digunakan mendukung upaya menjaga kelestarian alam. Kedua arti itu saling mendukung dan tidak bisa dilakukan dengan melupakan yang lain.

Konsep ramah lingkungan untuk dekorasi pengantin maupun kedukaan dapat diimplementasikan misalnya dengan meminimalisir penggunaan barang-barang yang sekali pakai buang atau tidak dapat terurai di alam (contohnya floral foam), menggunakan kombinasi bunga/ daun potong dan tanaman hidup, serta memakai asesoris/properti pendukung yang dapat dipakai berulang, misalnya vas bunga, keranjang rotan, lilin batere, balok kayu yang sudah divernis, dan sebagainya.

Pelatihan yang diberikan oleh tim dari New Inspire Eco Decoration dibagi dalam empat sesi. Tiga personil dari tiga paroki yang berbeda berbagi tentang teori dasar, dilanjutkan dengan demo dekorasi altar untuk pengantin, demo membuat krans/salib.

Sesi terakhir adalah praktek oleh seluruh peserta dalam kelompok-kelompok. Selain pelatihan merangkai bunga, juga diberikan pelatihan kreasi melipat bunga mawar dari daun pandan dan anyaman janur.

Semangat dan kegembiraan peserta begitu terasa hingga waktu pun berlalu tanpa terasa. Hasil kreasi langsung diaplikasikan dan dibawa kedalam gereja, menjadi bagian untuk memperindah rumah Tuhan, terimalah persembahan hati dari hamba-Mu ya Bapa.

Peserta pelatihan Merangkai Bunga Pengantin dan Kedukaan pada Minggu, 29/7. [dok.pribadi]
CSK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here