Paroki St Paulus Kleca, KAS: Program Bedah Rumah

85
Tim Bedah Rumah Paroki Kleca. [Dok. Pribadi]
Paroki St Paulus Kleca, KAS: Program Bedah Rumah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com Paroki St Paulus Kleca, Kevikepan Surakarta, Keuskupan Agung Semarang.

Ada hal lain yang ditemukan dalam program bedah rumah. Tak sekadar membangun fisik.

SUATU hari, Tim Bedah Rumah (TBR) Paroki St Paulus Kleca hendak memperbaiki rumah seorang umat. Kejadian yang berlangsung tahun lalu itu masih terekam jelas di benak Koordinator TBR, Chrysanthus W. E. Wibawa.

Rumah yang akan dibangun paroki adalah milik seorang janda. Suami perempuan itu meninggal. Belakangan diketahui, ibu itu akan menikah kembali. Namun, rencana itu terganjal lantaran ada persyaratan yang belum tuntas.

TBR tak tinggal diam. Menurut Chrys, sapaannya, TBR melakukan pendekatan, membangun komunikasi, dan membantu urusan administrasi umat tersebut. Syukur, sang ibu bersama pasangan barunya bisa mengikrarkan janji pernikahan di hadapan imam.

“Ternyata tidak hanya fisik rumah bisa dibedah, tetapi membantu hal lain (umat) kembali dalam gereja,” ujar umat Lingkungan St Maria Magdalena, Wilayah Songgolangit ini. Program bedah rumah, kata pria kelahiran Ungaran, Semarang, Jawa Tengah itu, lahir atas inisiatif Kepala Paroki Kleca Romo Agustinus Suwartana Susilo MSF.

Program ini merupakan salah satu upaya paroki untuk membantu umat pra sejahtera. Proses perbaikan atau bedah rumah, TBR memperoleh alokasi awal dari gereja melalui dana papa miskin sekitar Rp 5 juta. Sementara biaya perbaikan satu rumah sekitar Rp 20 juta.

Kekurangan dana untuk program tersebut, beber Chrys, TBR menghimpun bantuan dari umat dan para penderma. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Surakarta juga ikut berpartisipasi dalam program ini, melalui bantuan dana kemanusiaan.

Rumah yang berhasil direnovasi. [Dok. Pribadi]
“…paling menggembirakan adalah partisipasi umat lingkungan di mana lokasi bedah rumah dilakukan, ternyata sangat besar,” pujinya. Sepanjang 2017, lanjut Chrys, ada sepuluh rumah yang diperbaiki oleh Paroki. Sementara tahun ini, TBR merencanakan akan merenovasi 12 hingga 15 rumah.

Ternyata bukan hanya umat yang mendapat bantuan program ini. Paroki juga membuka mata dan mengulurkan tangan untuk masyarakat sekitar. Bantuan renovasi rumah warga dimulai dengan menjalin komunikasi antara ketua lingkungan dengan ketua rukun tetangga setempat.

Warga yang akan menerima bantuan terlebih dulu harus mengajukan surat kepada ketua RT. TBR akan menindaklanjuti permohonan warga melalui ketua lingkungan.

“Bukan TBR yang menawarkan, sehingga semua berjalan secara baik. TBR akan bersinergi dengan warga sekitar. Ini benar-benar program bantuan, tanpa segmentasi agama,” tandas Chrys.

Sinergi dan komunikasi yang dibangun TBR tak hanya di pucuk pimpinan, tapi juga akar rumput. Sebab, salah satu contoh, pengiriman dan penempatan bahan-bahan material bisa dipastikan menggunakan jalur atau sarana umum. Sehingga agar seluruh proses berjalan secara baik, semua pihak harus didekati dan disapa.

Koordinator Tim Pelayanan Masyarakat Paroki, Elysabeth Emma Widyastuti, mengakui keterlibatan umat Paroki Kleca untuk membantu sesamanya lewat program bedah rumah amat tinggi. Hal yang sama juga dirasakan oleh Romo Susilo. Dia mengakui umatnya begitu ringan tangan membantu umat dan warga sekitar untuk mendapatkan dan merasakan rumah layak huni.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban Paroki, lanjut Romo Susilo, setiap pemasukan dan pengeluaran, selalu diumumkan di gereja saban kali Misa. “Umat Katolik sangat baik (memberikan bantuan), yang terpenting adalah transparansi keuangan. Kami selalu melakukan hal itu (mengumumkan setiap pemasukan dan pengeluaran) kepada seluruh umat,” pungkas Romo Susilo.

 

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here