A.M. Lilik Agung : Kecerdasan Emosional di Dunia Usaha

140
A.M. Lilik Agung
[Dok.Kompas]
A.M. Lilik Agung : Kecerdasan Emosional di Dunia Usaha
1 (20%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Dunia pelatihan bisnis ingin mencetak karyawan yang berkarakter. Umat pebisnis muda mereka harus memiliki integritas.

Hampir semua perusahaan sadar bahwa mereka harus mengembangkan karyawannya. Untuk tujuan ini, mereka memakai jasa instruktur atau trainer bisnis untuk memberi pelatihan hard skill dan soft skill kepada karyawan.

Pelatihan hard skill berhubungan dengan keterampilan dalam melakukan pekerjaan. Sementara soft skill berkaitan dengan pengembangan manusia; kepemimpinan, pengembangan diri, motivasi, prinsip-prinsip, dan kebaikan-kebaikan universal yang sifatnya individu.

Sudah sejak beberapa tahun lalu, bidang pelatihan soft skill inilah yang ditekuni A. M. Lilik Agung. Tahun 2000, setelah meraih gelar sarjana di bidang ekonomi dan bisnis, dan sempat beberapa tahun bekerja, ia memutuskan menjadi trainer bisnis. Ia terjun di dunia ini, kala pelaku bisnis di Indonesia masih sedikit. Sejak itu, ia mulai memberi training di berbagai perusahaan.

Terlambat
Profesi sebagai trainer bisnis telah popular di Amerika Serikat sejak tahun 1930-an. Sayangnya, profesi ini terlambat dikenal di Indonesia. Pada masa pasca kemerdekaan, perusahaan-perusahaan di Indonesia belum begitu punya perhatian pada pengembangan karyawan. Baru pada tahun 1970-an, pelatihan-pelatihan bisnis mulai berkembang di Indonesia.

Lilik menjelaskan, zaman dulu, hubungan antara perusahaan dengan karyawan tidak lebih dari perusahaan membayar upah karyawan atas tugas yang dikerjakan. Namun menurutnya, anggapan bahwa karyawan adalah aset perusahaan juga tidak sepenuhnya benar. Bagi Lilik, aset perusahaan adalah karyawan yang produktif dan kompeten. “Sebagai karyawan adalah mitra perusahaan. Hard skill dan soft skill yang mendukung pekerjaannya layak dikembangkan,” ujarnya.

Di masa kecil, tak pernah terlintas dalam hati Lilik, bahwa ia akan akan terjun di dunia trainer bisnis. Sejak duduk di bangku kuliah, ia kerap menjadi pembicara bagi rekan-rekan mahasiswa. Kemampuan ini terkait erat dengan kebiasaannya menulis. Ia mengirimkan tulisannya untuk media kampus, media lokal, bahkan nasional. “Saya menulis tanpa spesifikasi. Mau isu politik, ekonomi, atau apa saja; yang saya bisa, saya tulis,” ungkapnya.

Kebiasaan ini terus bertahan hingga kini. Selain menjadi trainer, Lilik masih menulis sebagai saluran pemikirannya. Ia mengaku, saat itu ia menulis demi mencari uang saku tambahan.

Di dunia kepelatihan ini, 90 persen klien Lilik adalah perusahaan-perusahaan. Di luar itu, 10 persen lainnya adalah klien non-perusahaan misalnya saja lembaga swadaya masyarakat. Ia meyakini dengan dasar kompetensi, bisnis di Indonesia saat ini telah bertumbuh semakin baik. “Saya melihat bisnis di Indonesia berkembang, tumbuh ke bisnis baru yang tidak sekadar ditopang koneksi dengan pemerintah atau kekuasaan, tetapi sudah ada kompetensi,” katanya.

Lilik melihat, banyak pebisnis muda mampu membangun dan menjalankan bisnis rintisan berbasis teknologi (startup). Beberapa perusahaan yang telah sampai pada generasi ketiga ini, ia sebut dikelola dengan latar belakang pendidikan tinggi dan melampaui generasi sebelumnya dalam pengelolaan usaha.

Soft Skill
Sejak awal menjadi trainer bisnis hingga kini, Lilik telah menjamah ratusan perusahaan dengan berbagai kategori dan ukuran. Ia melatih ribuan karyawan mulai dari yang baru direkrut hingga yang sudah menjelang pensiun. Ia mengatakan, ketika mulai bekerja sangat penting bagi karyawan untuk memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan adversity (daya tahan). Kecerdasan emosi merupakan akar dari soft skill yang berkaitan dengan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Misalnya saja cara karyawan berkomunikasi, menempatkan diri, dan memperlakukan orang lain.

Daya tahan dalam menghadapi gempuran dari persaingan, omelan atasan, dan politik kantor juga tidak kalah penting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Lilik menambahkan, sebagai pemimpin, daya tahan dalam menghadapi rongrong anak buah adalah salah satu hal yang membuatnya sukses.

Lilik mencermati, orang kadang terjebak pada kecerdasan intelektual. Padahal, hal ini dibutuhkan hanya pada masa sekolah sampai melamar kerja saja. Selanjutnya, kecerdasan intelektual mulai tidak relevan. “Kecerdasan intelektual adalah syarat orang untuk bekerja, tetapi untuk berkarier yang diperlukan adalah kecerdasan emosional. Sedangkan untuk berprestasi, yang diperlukan adalah kecerdasan adversity. Namun, agar hidup menjadi utuh, kita membutuhkan juga kecerdasan spiritual,” katanya.

Bagi pebisnis muda yang baru mengawali bisnisnya, baik start-up maupun UKM, Lilik meyakini mereka harus memiliki integritas. Integritas sendiri merupakan cara menjunjung tinggi nilai dan etika dalam bisnis. Keduanya memiliki andil besar, seperti menumbuhkan tanggung jawab, profesionalitas, dan saling menghargai. “Ini akan menjadi tolok ukur bagi seseorang atau perusahaan dalam melangkah untuk meraih kesuksesannya.”

Kesuksesan membutuhkan perjuangan yang tidak instan. Dari 100 pebisnis muda biasanya hanya sekitar lima yang sukses. Lilik mengatakan, penting bagi pebisnis muda untuk belajar dari pendahulu yang telah sukses. Kesadaran ini penting selain memiliki kompetensi yang mumpuni.

Lilik menganalogikan, ketika ingin berbisnis kopi, maka seseorang harus paham kopi. Kalau mau bisnis online pahami digital marketing. Pengetahuan semacam ini tidak bisa diserahkan pada karyawan dan orang lain karena konteksnya membangun dari awal. “Kecuali sudah menjadi besar, sudah menjadi konglomerasi bisa taruh modal.”

Lilik mengatakan integritas, kepemimpinan, karakter, dan daya tahan sangat bisa dilatih. Namun, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Trainer mengajarkan dan mempengaruhi, tetapi yang memutuskan untuk berintegritas dan berkarakter hebat itu pribadi itu sendiri. Selain itu melatih karakter pada usia dewasa pun bukan hal yang tidak mungkin. “Umur berapapun masih bisa berubah, karena belajar tidak pernah selesai. Tetapi sekali lagi tergantung keputusan individu itu.”

Ukuran Keberhasilan
Hard skill sebenarnya tidak sulit untuk diukur. Lilik menjelaskan, ketika sebuah perusahaan berinvestasi dengan mengundang trainer, hasilnya pun harus terukur. Hal ini berbeda dengan soft skill. Ukuran keberhasilan soft skill sampai hari ini tidak bisa diperhitungkan secara tepat. Yang bisa dilakukan dengan pelatihan soft skill adalah kecenderungan perbaikan dalam hal perilaku, kepemimpinan, hubungan dengan karyawan, serta motivasi. “Ukurannya begitu, tapi tidak bisa secara tepat.”

Ukuran keberhasilan ini, rupanya membuat kepercayaan menjadi modal penting seorang trainer bisnis. Lilik masih ingat, pada masa awal menjadi trainer, ia mengalami kesulitan dalam jam terbang. Namun, ketika jam terbang sudah banyak, ia menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan bertambahnya jumlah lembaga training dan trainer bisnis. Seiring berkembangnya zaman, terjadi juga perubahan perilaku karyawan. Berhadapan dengan kenyataan ini, ia berusaha menyesuaikan materi training. Ia meyakini, keterlibatan peserta juga harus diperhatikan dan diberi porsi lebih.

Persaingan ini tetap bisa Lilik lewati karena selain jam terbang dan kompetensi, trainer yang dapat merawat kepercayaan tetap akan dicari oleh perusahan. Menjadi trainer berarti menjual jasa yang tidak kelihatan. Menurutnya, ini adalah soal bagaimana seseorang menjadi pribadi yang layak dipercaya dan terpercaya karena memiliki integritas dan kapabilitas. Baru setelahnya adalah faktor luasnya jaringan.

A.M. Lilik Agung

Lahir : Yogyakarta, 22 November 1970

Publikasi :
• Jumping to the Next Curve : Transformation PTPN 13 Menjadi Perusahaan Kelas Dunia
• Human Capital Competencies Credit Union : Kendaraan Menuju Kemakmuran
• Kiat Menjadi Supervisor Unggul Spiritual Leadership CEO Wisdom Serie 1 & 2

Hermina Wulohering

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here