Beato Lucien Botovasoa OFS (1908 – 1947) : Guru Madagaskar Korban Politik

68
Para suster membawa spanduk foto Beato Lucien Botovasoa OFS saat Misa.
[mada-actus.info.org]
Beato Lucien Botovasoa OFS (1908 – 1947) : Guru Madagaskar Korban Politik
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Baginya guru tidak saja sekadar mengisi kekosongan tetapi harus membantu murid bersemai. Tugas ini adalah modul pelayanan seperti yang dikehendaki Kristus.

Anda terlalu saleh. Seharusnya Anda menjadi imam, bukan guru. Suara itu datang dari Josep, seorang murid Lucien Botovasoa. Bukan saja Josep yang berpikir demikian tetapi para murid di Father’s School Madagaskar. Bagi para murid, Lucien adalah guru yang hidupnya lurus. Ia hidup bebas, tak pernah terbebani dengan imannya. Lucien menjadi satu-satunya guru agama di Madagaskar yang rela menetap di sekolah, meninggalkan istrinya demi iman para muridnya.

Setiap kali mendengar pertanyaan-pertanyaan serupa, Lucien selalu menjawab: “Saya sama sekali tidak menyesal. Saya sangat senang karena Tuhan memanggil saya menjadi awam, menikah, dan seorang guru. Dengan cara ini, saya bisa tinggal dengan orang-orang desa, menarik hati mereka mengikuti Tuhan. Saya ingin menunjukkan kepada Anda sekalian nilai-nilai Kristiani yang membebaskan. Saya ingin Anda bukan menjadi orang asing di mata Tuhan.”

Lewat tangan dinginya, anak-anak Madagaskar yang belum mengenal Kristus dibaptis. Ia menunjukkan kepada mereka jalan menuju Tuhan. Ia membimbing mereka tidak saja di sekolah tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi guru sekaligus patron bagi anak-anak itu. Lucien memberi warna bagi pendidikan Kristiani bahwa iman dihidupi dalam praktik hidup bukan sebatas nasihat belaka.

Mengisi Kekosongan
Mpanjifa dia tsy babo (bahasa Malagasy), ‘guru tak berkasut’ demikian para murid memanggil Lucien. Guru kelahiran Vohipeno, Madagaskar 1908 ini kerap ke sekolah tak menggunakan sepatu. Bukan tak mampu beli, tetapi kerap kasutnya disumbangkan kepada para murid. Situasi ini membuat banyak orang “angkat topi” kepada Lucien. Kadang pula. ia menempuh perjalanan berhari-hari menembus hawa dingin Madagaskar, bertelanjang kaki demi mentransfer ilmu kepada para muridnya. Perjuangan paling beratnya adalah ketika akan mengajar anak-anak etnis pribumi seperti Merina dan Betsileo (etnis di pegunungan Madagaskar).

Menjadi guru adalah cita-cita semasa kecilnya. Dalam refleksinya, Lucien menemukan bahwa peran guru bukan pertama “mengisi kekosongan” para murid tetapi membantu murid bersemai. Bukan pertama-tama mengajar dengan metode yang baik di kelas tetapi keteladan hidup. Seorang murid, katanya, akan bertumbuh bila menyaksikan figur gurunya bukan kata-kata guru. Lucien membuktikan hal ini. Sebagai guru, ia hadir dan mengalami hidup, meraskan perjuangan, menguatkan yang putus asa, dan merawat iman mereka dengan kasih. Ia merasa gagal jika seorang muridnya tak merasakan bertumbuh dalam Tuhan.

Pendidikan Kristen benar-benar ditanamkan dalam pengajarannya. Setiap hari dilakoninya dengan pelajaran agama, membaca kisah Orang Kudus, refleksi harian, sharing pengalaman, dan doa bersama. Panggilannya merasul sudah dibuktikannya jauh sebelum munculnya Dekrit Konsili Vatikan II tentang Apostolicam Actuositatem (Dekrit Kerasulan Awam) yang dipromulgasikan pada 18 November 1969. Ia tidak memahami ajakan Paus Paulus VI dalam dokumen Vatikan itu, tetapi Lucien berhasil sebagai misionaris yang memotong belenggu aksara dan menawarkan keutaman hidup, yang baru kepada para muridnya.

Mendidik anak rasanya memberi sukacita besar kepada dirinya. Tetapi ia menyadari pendidikan Kristiani harus dibarengi dengan hidup persaudaraan. Guru agama sekolah dasar ini menyadari, pendidikan Kristiani adalah panggilan semua orang untuk mengalami persatuan dengan Tuhan. Dalam pemikiran Lucien, persatuan dengan Tuhan harus terwujud dalam relasi dengan sesama. Pikirnya bergabung dengan Kelompok Tentara Salib Hati Yesus di Vihipeno, Madagaskar pada 18 Agustus 1935 mungkin bisa memuaskan dahaga imannya. Tetapi baginya komunitas ini hanya melayani dari sisi perjuangan iman, tetapi lemah dari sisi karitatif.

Tahun 1936, dia mencari buku Orang Kudus yang sudah menikah yang bisa menjadi patron hidupnya. Tetapi apa yang dicarinya tak berhasil, malahan ia menemukan kelompok awam religius yaitu Ordo Fransiskan Sekuler (Ordo Franciscanus Saecularis/ OFS). Ia bergabung dalam asosiasi itu untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Perubahan utama yang paling dirasakan ketika menjadi anggota OFS adalah keberaniannya untuk tetap bertahan dalam iman. Kehadiran komunitas ini membantu pelayanan orang miskin dalam relasi dengan alam semesta.

“Keluarga Hutan”
Bukan semudah membalik telapak tangan. Keutamaan hidup yang dialami Lucien melalui proses yang panjang. Sedari kecil, Lucien sudah berkeinginan membantu di dunia pendidikan. Karena itu, ia setia mengikuti pelajaran agama saat di Sekolah Dasar Priests Madagaskar. Begitupun ketika memilih masuk Sekolah Menengah St Giuseppe Fianaratsoa, Madagaskar, Lucien secara otodidak mempelajari katekismus.

Pada 10 Oktober 1930, ia menikahi Suzanna Soazana, seorang wanita saleh yang saat itu masih berusia 16 tahun. Mereka dikarunia lima anak. Bila disekolah keutamaan hidup yang ditawarkan adalah keteladanan, di rumah ia mengajari anak-anaknya untuk mandiri. Mereka harus belajar berdoa, mencari Misa harian, pengakuan dosa tanpa disuruh. Lucien dan Suzanna hanya membantu membenahi hidup mereka jika salah melangkah.

Suzanna tak kalah hebat dengan suaminya. Ia juga bergabung dengan komunitas Daughters of Mary, komunitas wanita awam yang mendedikasikan hidup untuk menghormati Bunda Maria. Dua sejoli beda usia ini saling menasihati dalam iman. Keluarga ini menjadi model keteladan keluarga-keluarga Kristen di Madagaskar. Mereka diistilahkan sebagai “keluarga hutan” yang merambat mewartakan kasih kepada semua orang.

Keluarga Botovasoa juga menghidupi kesederhanaan. Lucien hanya memiliki dua pasang pakaian. Biasanya, ia memakai celana panjang bahan dan kemeja, baik pada hari Minggu pun hari kerja. Suzanna kadang memprotes pola pelayanan yang terlalu berlebihan dari Lucien. Gaji yang diterima Lucien pun kadang habis membeli makan, pakaian, obat-obatan bagi orang miskin. “Anda jangan memaksa saya untuk hidup dalam rasa aman, sementara banyak orang menderita,” pesan Lucien kala Suzanna mengeluh soal pelayanannya.

Keutamaan hidupnya ini juga membuat tetangga memanggilnya pikopiko grain, ‘butir Rosario’. Kemana pun Lucien pergi sebuah Rosario selalu melekat di saku bajunya. Caranya ini membuat banyak orang mencintainya, menerima dia dan menginginkan dirinya menjadi gubernur wilayah Selatan Madagaskar, yaitu Mattanna dan Manakara. Ia diminta maju dalam Pemilu lewat Partai Madagaskar (Padesm)-sebuah partai yang dinilai terlarang oleh kelompok Klan (etnis lokal) yang menyebut diri Gerakan Demokratis untuk Pembaruan Malagasy (MDRM). Tetapi Lucien menolak tawaran ini karena baginya politik itu aneh.

Penolakan ini bukannya disambut gembira kubu Klan. Sebuah ancaman datang kepadanya. Mereka sengaja menciptakan kekacauan di tahun 1947 agar Pemilu Madagaskar vakum. Mereka menangkap dan menganiaya sejumlah imam dan suster. Mendengar kekacuan itu, keluarga Lucien meminta agar Lucien bersama keluarga pulang kampung dan bersembunyi, tetapi Lucien menolak melarikan diri.

Penolakan ini berbuntut panjang. Suatu malam, empat pria muda dikirim Kepala Klan datang ke rumahnya. Mereka menangkap paksa Lucien yang kala itu sedang berdoa bersama Suzanna dan lima anaknya. Klan memfitnahnya sebagai pendukung Partai Padesm. Setelah ditangkap, Lucien tidak dibunuh tetapi ditawarkan kedudukan sebagai Sekretaris di MDRM, tetapi ia tetap menolaknya. “Anda tahu partai kalian merampas salib, menghancurkan gereja, membunuh imam dan suster. Semua itu berharga bagi saya. Saya tidak tertarik berpolitik.”

Kata-kata ini membuat Kepala Klan menjadi marah. Mereka membawanya pergi dekat Sungai Mattanana dan dibunuh di situ. Sepanjang jalan Lucien terus berdoa dan memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan. Aliran sungai yang penuh damai menjadi saksi kematian Lucien. Ia dipukuli berkali-kali hingga terkapar tak bernyawa di Ambohimanarivo, Manakara, 14 April 1947. Ia tewas dalam usia 38 tahun.

Proses beatifikasi Lucien dibuka pada 11 Oktober 2011 di bawah Paus Emeritus Benediktus XVI. Paus Fransiskus menegaskan pada pertengahan 2017 bahwa Lucien terbunuh dalam kebencian akan imannya dan memutuskan bahwa dia akan dibeatifikasi. Misa beatifikasi dirayakan di Vohipeno pada 15 April 2018 oleh Kardinal Maurice Evenor Piat CS.Sp, Uskup Port-Louis, Mauritius. “Demi politik brutal, seorang guru sekolah dasar terbunuh,” ujar Mgr Maurice.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here