Schola Iacartensis : Pelestari Tembang Gregorian

99
Bruder Ignatius Prakoso OSB memberi pelatihan kepada Kelas Bernyanyi Gregorian.
[Dok. Schola Iacartensis]
Schola Iacartensis : Pelestari Tembang Gregorian
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Lagu-lagu Gregorian merupakan pewarisan Gereja. Ia telah menghidupi liturgi Gereja selama berabad-abad. Lagu-lagu ini perlu dihidupi kembali.

Empat Garis Paranada dengan not kotak-kotak (neume) tampak dalam teks yang dipegang masing-masing peserta kelas musik Gregorian yang diselenggarakan oleh Schola Iacartensis, di Sanggar Prativi Bulding, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu 14/18. Para Peserta berasal dari berbagai Paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang memiliki minat terhadap musik Gregorian.

Mereka sejenak merengsek dari hiruk pikuk Jakarta. Menikmati tembang Gregorian dengan mencoba menelusuri tiap neume yang rumit. Teks-teks kuno dengan Bahasa Latin yang kental tidak membuat mereka patah arang. Mereka dengan sungguh-sungguh memperhatikan birama, paranada, halus lembut nada, hingga menyuguhkan kualitas vokal tembang Gregorian yang khas.

Ketenangan peserta dalam bernyayi menunjukkan lagu Gregorian tidak garib bagi mereka. Nanyian yang mereka lantunkan membawa pendengar pada kesunyian dan ketenangan batin. Mereka seakan menikmati sekelompok rahib yang bermadah.

Saluran Minat
Winarti Handayani, salah seorang anggota Schola Iacartensis menjelaskan, kegiatan ini untuk memancing serta menyegarkan kembali lagu Gregorian. Lagu ini menjadi warisan Gereja yang menandai perkembangan musik liturgi dari masa ke masa. “Lagu-lagu Gregorian telah menghidupkan liturgi Gereja berabad-abad. Mengingat hal itu, lagu-lagu ini perlu dihidupkan kembali di dalam gereja,” kata dia.

Nanyian Gregorian adalah musik kuno dan telah bernafas berabad-abad. Lagu Gregorian kemudian mekar dari kuncupnya dan menjadi jantung musik Gereja. Nyanyian ini mewarnai iringan perayaan Misa dan ibadat lain dalam Gereja. Konon dalam mempelajarinya memakan waktu bertahun-tahun di Schola Cantorum. Metode yang digunakan adalah viva voice, yakni dengan mengulangi contohnya secara lisan. Para murid akan mendengarkan pengajarnya secara langsung dan mengikutinya.

Bruder Ignatius Prakoso OSB menjadi pembicara dalam kelas musik Gregorian di Sanggar Prathivi beberapa waktu lalu. Jauh sebelum bergabung menjadi salah satu Rahib Benediktin, Ignas berikrar ingin mengurai keruwetan tembang Gregorian. Ia tidak sendiri, ketika itu ia mendalami musik Gregorian bersama beberapa teman. Ketika tahun 2016 ia
memutuskan masuk biara, teman-teman itulah yang terus melanjutkan.

Sejak tahun 2000, mereka mulai berhadapan dengan teks-teks kuno, bahasa latin, “not tahu” (neume) dan mulai mempelajari nyanyian Gregorian. Mereka menjadikan Gereja St. Theresia Menteng sebagai tempat untuk bertemu dan belajar bersama.

Bruder Ignas menceritakan, ia mendirikan Schola Iacartensis untuk memperoleh ketenangan batin bersama teman-teman. Ia gundah karena lagu-lagu Gregorian kurang diperhatikan orang. Dalam banyak kesempatan lagu ini dinyanyikan tanpa tehnik yang tepat. “Lagu-lagu Gregorian berbeda dengan lagu yang biasa karena memiliki teknik yang tinggi. Tidak sekadar nyanyi, tapi bagaimana rasa, daya magis dan spiritual lagu-lagu Gregorian dapat ditangkap sebagaimana adanya.”

Lebih lanjut, Bruder Ignas mengatakan, metode pembelajaran di Schola Iacartensis begitu unik. Cara pembelajaran dimulai dari pengenalan notasi kuno yang berbeda dengan not-not balok. Tanda-tanda yang dipakai juga sangat berbeda. “Kami juga mempelajari hal-hal yang bersifat teori, Bahasa Latin, sejarah Gereja, hingga pendalaman teks-teks.”

Penanggungjawab Schola Iacartensis, Johana Regina Aliandoe menambahkan, anggota direkrut berdasarkan referensi dan terbuka untuk semua kalangan. Pada awalnya yang memiliki minat paling banyak adalah pria, akan tetapi setelahnya mulai muncul wanita.

Ann, sapaan akrabnya mengakui, ia adalah perempuan pertama yang tergabung dengan Schola Iacartensis. Selanjutnya, ia mengajak teman-teman yang memiliki minat yang sama. Seiring berjalannya waktu, ada penambahan jumlah anggota, meskipun juga tidak banyak. “Meskipun anggota yang lumayan sedikit kami tetap konsisten. Kami melakukan latihan minimal sekali dalam semingu” jelasnya.

Gelombang Perubahan
Setelah Konsili Vatikan II dalam Konstitusi tentang liturgi (Sacrosanctum Concillium/ SC) memungkinkan Liturgi Gereja menggunakan bahasa di luar Latin. Bahasa liturgi disesuaikan dengan bahasa setempat di mana liturgi dijalankan. Sejak itu, musik liturgi dinyanyikan dalam berbagai bahasa, termasuk dalam bahasa Indonesia. Keadaan ini menjadikan surutnya perkembangan lagu-lagu Gregorian.

Bruder Ignatius mensyukuri, saat ini lagu Ordinarium ditempatkan dalam Liturgi Gereja. Ini merupakan ruang bagi umat untuk menyanyikan lagu Gregorian sehingga tetap terawat. Faktanya di berbagai tempat ada yang akomodatif dan ada yang tidak. “Ada umat yang merasa bahwa tidak perlu lagi menyanyikan lagu-lagu Gregorian. Bahasa yang dipakai pun susah untuk dipahami,” terangnya.

Melihat situasi tersebut Schola Iacartensis perlahan-lahan mulai mengangkat lagu Gregorian sehingga dapat dikenal luas kembali. Dengan usaha ini, lagu Gregorian dapat dipertahankan sebagai salah satu khasanah Gereja. “Kami tetap mempertahankan untuk mempelajari nyanyian gregorian. Selain itu kami juga mensosialisasikan ke umat dengan latihan bersama. Kami juga ingin menunjukkan bahwa lagu ini tidak menjenuhkan.”

Agar lagu Gregorian tidak termakan zaman, Schola Iacartensis terlibat dalam berbagai kegiatan. Ann menuturkan, mereka mengadakan Misa Tridentina, Misa ini mengikuti forma ordinaria (Misa Novus Ordo) di Kedutaan Besar Vatikan. Mereka juga rutin mengadakan Completorium (doa malam) setiap Senin sehabis latihan. Selain itu, Schola Iacartensis melayani misa kudus diparoki-paroki.

Ann menjabarkan, Schola Iacartensis memperkenalkan Cantus Gregorian tidak hanya kepada umat Katolik. Lagu Gregorian pernah dibawakan dalam sebuah acara yang dihadiri lima agama di Candi Borobudur, Jawa Tengah dan di Universitas Paramadina Jakarta Selatan. Schola Iacartensis juga mengikuti retret musik di Pertapaan Maria Bunda Pemersatu di Gedono, Salatiga, Jawa Tengah bersama Suster-Suster Trapist.

Harta Karun
Tembang Gregorian merupakan nyanyian doa. Di dalamnya terkandung teks-teks Kitab Suci. Untuk itu perlu digali lagi dan diperdalam. Mengahayati lagu Gregorian pada dasarnya tidak sekedar nyanyian belaka tapi memiliki semangat doa yang dalam. Ann membeberkan, lagu Gregorian memiliki nilai spiritualitas yang tinggi sehingga perlu diperdalam. Hal inilah yang perlu ditularkan kepada umat agar mereka benar-benar menghayatinya.

Schola Iacartensis menunjukkan kepada umat bahwa lagu Gregorian merupakan harta kekayaana Gereja yang harus dijaga dan dirawat. Usaha ini agar lagu Gregorian agar tidak hilang termakan zaman. Lagu Gregorian harus dihidupi bukannya ditinggalkan.

Menariknya, lanjut Ann, anggota yang tergabung dalam Schola Iacartensis banyak di antaranya anak muda. Ini menunjukkan, anak muda lah yang berusaha merawat salah satu musik warisan Gereja ini. “Di sini kami mau menunjukkan bahwa kami bukanlah orang tua yang berkumpul karena romansa masa lalu.”

Menghidupi tembang Gregorian merupakan gerakan Roh Rudus, musik yang kaya akan spiritualitas. Schola Iacartensis ingin terus menimba buah-buah spiritual dalam lagu-lagu Gregorian yang mereka bawakan. “Kita ingin mewariskan Gregorian ini kepada generasi muda, sehingga siapapun dapat menikmati dan meresapi kekayaannya,” ungkap Ann.

Willy Matrona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here