Paroki St Yoseph Denpasar: Berakar dan Bertumbuh Bersama Kearifan Lokal Bali

242
Bagian interior Gereja St Yoseph Paroki Denpasar. [Dok.Innocentius Savio Kurnia]
Paroki St Yoseph Denpasar: Berakar dan Bertumbuh Bersama Kearifan Lokal Bali
2 (40%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com Gereja Yesus Gembala Yang Baik – Paroki St. Yoseph Denpasar ini mengagumkan karena berakar pada kearifan lokal yang dipadu dengan simbol khas Gereja Katolik untuk menghadirkan Kristus bagi semua orang.

Kemegahan gereja ini menjadi semakin agung karena memasukkan budaya lokal (Bali) ke dalam arsitekturnya,” kata salah seorang pengunjung. Kesan ini sudah sering disampaikan oleh setiap orang yang mendatangi Gereja Katolik Yesus Gembala Yang Baik (GYGYB) – Paroki St. Yoseph Denpasar baik sekadar untuk mengunjungi maupun dengan maksud mengikuti Perayaan Ekaristi.

GYGYB, Ubung, Denpasar, Bali dibangun dengan inspirasi gereja yang inkulturatif. Arsitekturnya terinspirasi dan mengadopsi arsitektur tradisional Bali. Ini sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II, Gereja mesti berakar pada budaya dan kearifan lokal agar ia menjadi kuat.

Dalam konteks Bali, GYGYB adalah bagian integral masyarakat Bali dengan kekayaan lingkungan alam, tradisi, kearifan lokal, seni, bahasa, dan budayanya. GYGYB didirikan pada 12 September 2011 di atas tanah seluas 37 are yang dilengkapi dengan fasilitas Griya Bhakti Pastoral di atas tanah 15,6 are, meliputi: gedung aula serba guna, pelataran parkir,
dan pastoran.

Ketiga fasilitas utama Paroki St Yoseph Denpasar ini dibangun dengan gaya atau motif lokal Bali. GYGB adalah bagian integral atau satu kesatuan dari Paroki St Yoseph Denpasar.

Gaya dan arsitektur inkulturatif Bali yang melekat kuat pada Gereja Yesus Gembala Yang Baik Denpasar tidak pernah lepas dari peran seorang Imam SVD (Societas Verbi Divini), Pastor Servasius Subagha, SVD.

Pastor Subagha sangat gigih menginisiasi lahirnya Paroki St Yoseph Denpasar, dan di dalamnya terbangunlah Gereja Yesus Gembala Yang Baik Denpasar. Inspirasi inkulturatif Bali yang dipadu dengan simbol-simbol Katholik yang khas lahir dari ketekunan beliau dalam doa, meditasi, dan kontemplasi.

Sangatlah pantas bila dikatakan bahwa hadirnya GYGYB Denpasar adalah maha karya Pater Subagha, demikian beliau biasa disapa. Arsitektur Tradisional Bali memiliki lima konsep utama dalam membangun sebuah rumah atau pura yang terimplementasikan dalam bangunan gereja ini.

Konsep Tri Hita Karana menekankan keharmonisan. GYGYB dibangun dengan inspirasi bangunan sebuah gunung: naik ke gunung Tuhan (Yes 2:3), beribadah kepada Allah di gunung (Kel 3:12), Tuhan menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus (Mzm 3:4), gunung tempat rumah Tuhan (Yes 2:2), dan Yesus naik ke atas gunung untuk berdoa (Luk 9:28);

Konsep Panca Maha Bhuta lebih menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan alam lingkungan diimplementasikan dengan adanya cross ventilation yang diterapkan pada bagunan GYGYB memudahkan akses udara segar dan bersih serta cahaya matahari masuk ke dalam gereja dengan pemandangan tumbuhan dan pepohonan dari luar gereja;

Konsep Tri Angga/Tri Mandala (tiga bagian) diterapkan pada GYGYB seperti bangunan tubuh manusia yang terdiri dari kepala, badan, dan kaki. Selain diterapkan pada bangunan utama gereja, konsep Tri Angga juga diaplikasikan pada salah satu kasanah suci gereja yakni Candi Kebangkitan.

Candi ini dibangun pada kompleks gereja yang diberi nama Taman Patra Bhuana, yang berarti kelimpahan dan kesejahteraan dalam kehidupan yang baru, hidup kekal dengan bumi dan langit yang baru, surga, Yerusalem baru.

Konsep Tata Ruang Nawa Sanga/Sanga Mandala, yaitu kearifan kultur Bali yang memperhatikan arah mata angin atau arah kiblat suci. GYGYB dibangun dengan kiblat arah Kaja-Kangin (Gunung-matahari terbit);

Konsep Lahan Terbuka (Natah) dimunculkan dengan penataan taman yang apik, indah, dan menyejukkan. Kiranya suasana ini dapat membantu umat mendapatkan keteduhan dan suasana nyaman untuk berjumpa dengan Tuhan dalam doa, meditasi, dan kontemplasi.

Arsitektur tradisional Bali sungguh hadir dalam kemegahan GYGYB. Gereja ini menjadi megah dan mengagumkan bukan karena tampilan fisiknya tetapi karena berakar pada kearifan lokal yang dipadu dengan simbol-simbol khas Gereja Katolik untuk menghadirkan Kristus bagi semua orang.

 

Wahyu Dwi Nugroho/Ferdinandus Hardi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here