Paroki St Maria Diangkat ke Surga Rejeng, Keuskupan Ruteng: Pastoral Partisipatif

273
Gereja St Maria Diangkat ke Surga Rejeng.[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Paroki St Maria Diangkat ke Surga Rejeng, Keuskupan Ruteng: Pastoral Partisipatif
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com Paroki ini menghasilkan puluhan imam dan suster, mereka tersebar di berbagai penjuru dunia.

MEMANDANG bentang alam Paroki St Maria Diangkat ke Surga Rejeng, Keuskupan Ruteng, bak menyaksikan hamparan permadani hijau maha luas. Berbagai pepohonan tumbuh di sana dan seakan melindungi wilayah itu dari sengatan matahari.

Udara di sana amat sejuk seperti di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kabut tipis mulai terlihat meski baru pukul 15.00. Berada di daerah dingin serta tanah yang subur tak pelak membuat mayoritas umat di sana berprofesi sebagai peladang.

“Ada satu buah khas di sini yaitu jeruk Ketang, disingkat jeket. Buah itu sudah dikenal banyak orang Manggarai. Jeruknya manis. Tapi sekarang buah dan pohonnya sudah mulai berkurang,” ungkap Rekan Paroki Rejeng, Pastor Valerianus Paulinus Jempau –kerap disapa Pastor Lerry–, dalam pesan WhatsApp, Senin, 27/8.

Bukan hanya tanah, panggilan sebagai imam, biarawan dan biarawati dari Paroki Rejeng pun amat subur. Paroki yang berdiri pada 1958 itu hingga kini telah menghasilkan 27 imam, 28 suster, dan empat bruder. Mereka tersebar dan berkarya untuk Gereja lokal maupun dunia.

Misa Panen
Umat Paroki Rejeng saat ini berjumlah sekitar 21 ribu. Mereka tersebar di delapan stasi: Ketang, Ruang, Genvor, Anam, Langur, Pahar, Mbohang, dan Tonggur. Mayoritas umat, seperti disebutkan terdahulu, bekerja sebagai peladang. Oleh karena itu, program dan pelayanan pastoral paroki senantiasa disesuaikan dengan bidang tersebut.

Hal ini ditegaskan dalam laporan tahun 2016 oleh Kepala Paroki Rejeng waktu itu, Pastor Thomas Krump SVD. Imam asal Budapest, Hongaria itu menganjurkan agar pendekatan petugas pastoral kepada umat mengutamakan kebutuhan umat –yang mayoritas peladang– daripada pendekatan dogmatik dan Hukum Gereja.

Atas dasar itu, program unggulan Paroki Rejeng, menurut Kepala Paroki saat ini, Pastor Tarsisius Syukur, adalah Misa syukur panen. Perayaan syukur ini diadakan di setiap rumah adat (rumah gendang) sepanjang bulan Juli, Agustus, dan September.

Misa tersebut, terang imam kelahiran Ranggu, Manggarai, 14 Maret 1981 bertujuan agar umat menyadari campur tangan Tuhan atas kerja dan keberhasilan umat di mana pun mereka berada.

Tantangan yang dihadapi oleh paroki adalah mengasah kesadaran umat agar untuk senantiasa mensyukuri kerja mereka, meski panen yang mereka raih tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Umat, menurut pengakuan Pastor Tarsi, kadang beranggapan bahwa yang perlu mereka syukuri bila hasil ladang mereka berlimpah ruah.

“Ini tantangannya. Tapi, kami selalu berusaha menyadarkan mereka untuk selalu bersyukur, walaupun mengalami sedikit panen. Dengan ini mereka diajak untuk bersyukur dalam segala peristiwa hidup,” ungkap Pastor Tarsi seperti disampaikan oleh Pastor Lerry, melalui WhatsApp.

Selain pelayanan teritorial (umat di berbagai stasi), Paroki Rejeng juga memiliki karya kategorial. Paroki memiliki dan menangani empat lembaga pendidikan, yakni Pendidikan Anak Usia Dini St Maria Bunda Penolong Abadi, SDK Lamba Ketang, SMP St Stefanus dan SMAK St Stefanus Ketang.

Di satu sisi hal itu menjadi “kekayaan” pastoral paroki, namun di sisi lain menjadi tantangan karya pastoral. “Paroki ini memang (memiliki jumlah umat dan medan
pastoral) terbesar di Keuskupan Ruteng.

Dengan demikian, pelayanan imamnya juga cukup padat. Ditambah dengan pastoral pendidikan. Berhadapan dengan situasi ini, kami para imam di sini harus bisa membagi waktu dengan baik,” harap Pastor Tarsi.

Hal itu tentu takkan menjadi persoalan jika paroki ini memiliki sumber daya imam cukup banyak. Tapi, saat ini Paroki Rejeng masih dilayani oleh dua imam muda dan satu imam sepuh. Meski demikian, tak berarti Pastor Tarsi melambaikan “bendera putih”.

Kuncinya, kata dia, pandai membagi waktu dan mengasah kemampuan dan keterampilan para rasul awam. Sehingga pastoral di parokinya ini menjadi karya partisipatif imam dan awam.

 

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here