Yayasan Pengembangan Masyarakat : Gereja Maumere Mencegah Malaria

9
Briefing: Dokter sedang memberi penjelasan kepada petugas Yaspem, disaksikan warga.
[Dok.Jacob Herin]
Yayasan Pengembangan Masyarakat : Gereja Maumere Mencegah Malaria
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Yayasan Pengembangan Masyarakat ini bernaung di bawah Keuskupan Maumere. Yayasan ini konsen dalam pencegahan malaria. Pada 2008, yayasan ini mendapat penghargaan dari Kementerian Sosial RI sebagai organisasi sosial berprestasi.

Sekitar pukul 16.00, dua perempuan menyapa warga dengan ramah di Desa Modawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka-Maumere, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka membagikan serbuk Bacillus Thuringiensis Israelensis (BTI) untuk ditempatkan di sumur-sumur dan bak-bak mandi. Satu persatu, rumah-rumah warga mereka datangi. Begitulah pekerjaan mereka sehari-hari, sembari memberi penyuluhan tentang kebersihan lingkungan. Kedua perempuan itu adalah petugas dari Yayasan Pengembangan Masyarakat (Yaspem). Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah Malaria.

Yaspem milik Keuskupan Maumere ini didirikan oleh seorang imam Serikat Sabda Allah (SVD), Hendrik Bollen. Yaspem bergerak di berbagai bidang, salah satunya penyuluhan kepada masyarakat tentang Malaria.

“Dalam kegiatan penyuluhan tentang Malaria Yaspem bekerjasama dengan pemerintah, Gereja Katolik dan para Haji di masjid-masjid untuk melakukan kampanye, pemeriksaan, dan pengobatan Malaria,” kata Direktur Yaspen, Maria Mediatrix Mali.

Peduli Malaria
Selama tahun 2004-2006 Yaspem mendatangkan obat BTI, sejenis bakteri yang dapat memusnahkan jentik-jentik nyamuk. Obat ini juga bisa disemprotkan secara aktif di sarang-sarang nyamuk, got-got, dan di tempat penampungan air di rumah-rumah penduduk Kota Maumere. Bulan September 2007 Yaspem memutuskan untuk ikut serta dalam memberantas penyakit Malaria dengan penerapan program secara komprehensif. Program ini mendapat sponsor dari Misereor Jerman.

Maria Mediatrix menjelaskan bahwa awalnya pilot project ini dilakukan di lima kecamatan di wilayah NTT, yaitu Alok Barat, Alok, Alok Timur, Kangae, dan Hewokloang. Program itu disambut baik oleh pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Menurutnya, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh laporan dari pemerintah melalui Dinas Kesehatan yang memperlihatkan Angka Kematian Ibu (AMI) yang tinggi 350/1000, serta laporan dari Puskesmas tentang tingginya kasus penderita Malaria.

Kecenderungan selama ini, tenaga medis – baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit Umum TC Hilers Maumere – memberi obat Malaria kepada para panderita hanya berdasarkan gejala demam, dan belum ada pemeriksaan di laboratorim. Obat ATC, obat khusus bagi penderita Malaria, selama ini jarang diberikan oleh para medis karena mereka kuatir terhadap efek samping obat itu. Obat ini direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), organisasi yang mengurus bidang kesehatan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Saking seringnya warga mengalami penyakit Malaria, mereka akhirnya menganggap gejala Malaria seperti gejala flu. Mereka hanya membeli obat di toko obat, tidak melakukan pemeriksaan diri di laboratorium,” jelas Maria Mediatrix.

Awalnya, lanjut Maria Mediatrix, Yaspem melakukan sosialisasi di tingkat dusun, sekolah, juga di rumah ibadah, seperti kapela, gereja, dan masjid. Dengan melibatkan pimpinan organisasi lokal, yaitu kepala desa, kepala dusun, pastor paroki, pemimpin masjid, serta guru, mereka mengumpulkan warga di sentral-sentral lokasi yang telah ditentukan. Di tempat ini dilakukan pengambilan darah, vector control, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pola hidup sehat dan kebersihan lingkungan. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya Malaria. Materi sosialisasi meliputi: penyebab, gejala, cara pencegahan, serta pengobatan penyakit Malaria.

Para petugas Yaspem membentuk tim. Mereka memberi penyuluhan di 369 kelompok sasaran. Petugas menerapkan metode dengan pemutaran audio-visual dan sosialisasi secara tatap muka. Selain itu, Yaspem juga melakukan publikasi melalui radio seminggu dua kali, dan publikasi melalui koran lokal. Selan itu, Yaspem melatih delapan orang untuk menyemprotkan BTI di sarang dan jentik-jentik nyamuk sepanjang pantai sekitar 60 kilometer, dari Nangahura sampai ke Desa Waibleler dan sekitarnya. Penyemprotan BTI juga dilakukan di tempat pengelolaan sampah, terutama di pasar, pinggiran jalan, dan di kanal-kanal sepanjang Kota Maumere.

Yaspem juga melakukan penelitian tentang nyamuk. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Maumere. Hasil penelitian ini dapat mengindentifikasi enam jenis nyamuk, yaitu aconitus, anopheles, barbirorostris, enopheles, sundaicus dan anopheles supictus. Untuk mencegah sengatan nyamuk, tim dari Yaspem melakukan pendistribusian 1000 kelambu, yang dibagikan kepada keluarga-keluarga.

Pemeriksaan Darah
Kepada warga yang diduga mengidap Malaria, tim Yaspen melakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan di laboratorium. Jika memang dinyatakan positif, pasien diberi obat. Menurut Maria Mediatrix, target pemeriksaan di lima kecamatan sebanyak 90.401 orang. Dari target itu, 67.425 orang hadir untuk diperiksa. Hasilnya, 824 orang dinyatakan mengidap Malaria.

Berdasarkan hasil itu, setiap hari petugas dari kantor Kecamatan mengantar obat langsung ke rumah-rumah warga yang terindentifikasi Malaria. Kegiatan ini juga diawasi oleh perawat, khususnya dalam hal pengawasan minum obat, sekaligus memantau efek samping dari obat. Pelayanan masyarakat ini dipantau selama tiga hari bertutut-turut. “Satu hal yang mengembirakan dari program ini,” kata Maria Mediatrix, “obat ATC yang direkomendasikan oleh WHO memang sangat efektif.”

Jacob Herin

HIDUP NO.16 2014, 20 April 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here