Kitab Suci untuk Semua

71
OMK belajar mencintai Kitab Suci dalam program yang diadakan Bible Tea.
[NN/Dok. Bible Tea]
Kitab Suci untuk Semua
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Kebangkitan umat Katolik untuk giat membaca Kitab Suci ditunjukkan dengan semakin suburnya komunitas Kitab Suci di keuskupan maupun paroki .

“Anak muda tidak suka baca Kitab Suci,” begitulah stigma yang beredar di kalangan umat Katolik. Benarkah demikian? Perkataan itu sepertinya adalah bisikan si jahat yang mau melemahkan kaum muda.

Setiap orang untuk berpikiran positif dan membangun semangat untuk memperkenalkan Kitab Suci dimulai dari anak-anak. Orang dewasa harus mau bergerak untuk itu dan tidak mengiyakan begitu saja bahwa kaum muda tidak menyukai kitab Suci.

Keyakinan ini setidaknya yang menjadi pegangan Rafael Dikdik Sugiharto, sebagai bagian dari anak muda, ia berjuang untuk menepis stigma ini. Lulusan Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS) St Paulus Tebet, Jakarta ini mengakui, sebenarnya banyak anak muda yang mulai mendalami Kitab Suci. “Anak muda juga butuh asupan nilai-nilai spiritual. Nilai itu ada dalam Kitab Suci,” ujar Koordinator Kerasulan Kitab Suci bagi Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini.

Pengalaman Ilahi
Saat ini, Dikdik menjadi salah satu pembina “Life youth” di Paroki St Fransiskus Asisi Tebet. Ia melihat realitas, bahwa anak muda itu “kosong”. Kekosongan itu bersumber karena mereka belum mengalami kasih Tuhan secara personal. Baginya, untuk bisa mencintai Kitab Suci, dan menjadikan firman Tuhan sebagai nafas kehidupan, anak muda terlebih dahulu harus didorong agar mengalami pengalaman personal dengan Tuhan. “Mengarahkan mereka untuk mengalami Tuhan adalah tujuan utama Tim kami,” ujarnya.

Caranya, Dikdik mengajak anak muda untuk menemukan ayat kunci dari bacaan Misa. Selanjutnya, ia mendorong anak muda untuk berani men-sharing-kan itu dengan orang tua. Media bisa bermacam-macam, mereka dapat membagikannya lewat sms atau aplikasi media komunikasi lainnya.

Saat Dikdik mulai melakukan langkah ini. Ia mendapati respon bermacam-macam. Ia berharap dengan demikian, kaum muda bisa memiliki habitus ‘kebiasaan’ yang menempatkan Firman Tuhan sebagai bagian integral kehidupan anak muda. “Ketika kita memiliki pengalaman dengan Tuhan, pasti ada satu kerinduan untuk membagikannya kepada orang-orang. Semoga dengan hal sederehana ini, mereka dapat mendapatkan pengalaman itu.”

Pengalaman sama dialami Kevin Sanly Putra. Setelah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di Paroki Trinitas Cengkareng, ia sadar bahwa Gereja Katolik adalah “raksasa yang tertidur”. Ungkapan ini mengelitiknya. Sebagai kaum muda, ia merasa ditantang. Terlebih, pengalamannya bersekolah di sekolah Kristen membawa baginya perdebatan agama yang masih menyisakan tanda tanya baginya. “Akhirnya aku sadar diri, bukan soal berdebat antar-agama. Solusinya adalah memperdalam agama sendiri dulu. Mencari kebenaran dan keselamatan menurut versi kita itu gimana,” ungkapnya.

Semakin bersemangat, Kevin lalu keterusan dan mengikuti Kursus Dasar, Lanjutan, dan Akhir Katakese Umum KAJ se-Dekenat Barat II. Ketika mengawali rangkaian itu, ia telah berumur 18 tahun. Tidak berhenti disitu, anggota Tim Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) ini juga mengikuti Kursus Kitab Suci Paket A-C di Paroki Cengkareng.

Ia berkisah, dalam rangkaian itu, ia dikenalkan dengan Eksegetis metode studi Kitab Suci berdasar latar belakang dan konteks. Alhasil, pemahamannya tentang Kitab Suci semakin mendalam. Metode ini memberikan dia pemahaman yang sungguh kaya termasuk saat ia harus menyelesaikan bukunya yang berjudul, Teman Ngopi:Tips Melayani.

Diubah Sabda
Tahun 2016, Vandrico Stanley Dale bergabung dengan Komunitas Dei Verbum (KDV). Komunitas berbasis group Whatsapp ini mengajak anggotanya untuk membaca Kitab Suci, mulai dari Kejadian hingga Kitab Wahyu. Setiap hari, ia harus membaca Kitab Suci tiga bab dan dilaporkan ke dalam grup KDV. Pada mulanya, penyuka futsal ini mengaku tidak begitu
tertarik untuk membaca Kitab Suci.

Ajakan membaca Kitab Suci dari temannya diiyakan mengingat kondisi adiknya yang jatuh sakit. Kekalutan batinnya bertambah kala ia harus menyelesaikan tesis. Kegelisahannya diredam dengan menenggelamkan diri di dalam Sabda Allah. “Awalnya saya kaget ketika membaca, tetapi lama kelamaan saya jadi keterusan baca. Saya merasa jauh lebih tenang ketika membaca Firman Tuhan,” akunya.

Stanley mengakui pernah didera kebosanan saat harus membaca Kitab Suci. Hal ini karena Stanley tak pernah bertatap muka, atau mengenal secara pribadi orang-orang yang tergabung dalam kelompok ini. Namun, ia akhirnya sadar, ini bukan alasan untuk berhenti. “Lama saya berpikir, hal ini bukan alasan saya berhenti membaca.”

Dengan giat, Stanley pun meluangkan waktunya untuk tekun membaca Sabda Tuhan. Usai misa harian, ia menyempatkan membaca Kitab Suci sebelum berangkat bekerja. Baginya, membaca Kitab Suci dalam bentuk fisik lebih membantunya memiliki disposisi batin yang terarah kepada Tuhan, dibandingkan membaca lewat ponsel pintar. Namun, di saat tertentu ketika ia berada di luar, ia memanfaatkan teknologi masa kini itu.

Lambat laun, Stanley merasakan manfaat dari olah spiritual ini. Ia mengakui, Sabda Allah itu “memproses” dirinya untuk menjadi pribadi yang mau menghargai orang lain. “Dulu saya adalah tipe orang yang cuek dan semasa bodoh dengan orang lain. Tetapi tiap ayat yang saya baca menempa saya untuk memiliki hati bagi orang lain.”

Stanley berkisah, beberapa bulan yang lalu salah satu temannya mengalami stres berkepanjangan dan hampir terjerat narkoba. Penyebabnya, sang teman ternyata kandas dalam cinta karena beda agama. Di situ, Stanley men-sharing-kan imannya. Berkat kebersamaan itu, sang sahabat pun dapat menerima kenyataan hidupnya. Sang sahabat itu pun menjadikan kedekatan dengan Tuhan sebagai penyelesaian dari masalahnya. Stanley sadar, pengalaman itu tidak semata karena dirinya. Dalam cara yang misteri, Tuhan telah berada di balik perubahan itu.

Ditangkap Allah
Angeline Virginia Kartika Sosrodjojo bergabung dalam persekutuan oikoumene semasa kuliah di Universitas Indonesia. Angie, begitu ia disapa, berjumpa dengan Kitab Suci di dalam persekutuan ini. Dari dinamika di sana, ia melihat bahwa OMK seharusnya mempunyai kecintaan yang sama dengan Kitab Suci.

Melalui sebuah kelompok “Bible Tea”, ia ingin mengajak OMK untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai landasan hidup. Bible Tea menawarkan kepada anak muda cara baru merefleksikan tokoh-tokoh alkitab dengan cara yang “kekinian”.

Angie bercerita, Firman Tuhan membentuk dirinya untuk menghilangkan sifat egois. Sejak itu, ia bersedia terbuka untuk dipimpin orang lain. “Ayat yang kubaca bukan sekadar tulisan tapi berfungsi mengajar. Sabda ini sungguh hidup,” tutur gadis yang sedang mengikuti KPKS St Paulus ini.

Senada dialami alumni KPKS St.Yohanes Penginjil, Keuskupan Bogor, Fransiskus Setiawan. Ia merasa seperti ditangkap Allah. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan bergabung dalam kelompok Kitab Suci. “Saya hanya merasa tidak enak saja dengan ajakan kakak ipar tapi setelah mengikuti pelajaran mengenai iman Katolik, saya merasa diperteguh.”

Fransiskus lalu sadar, semakin belajar Kitab Suci, semakin runtuh keinginannya untuk mencari “keduniawian”. Ia menilai, KPKS akhirnya menjadi “penjaga gawang” imannya.

Dekat dengan Sabda Allah, bukan berarti semua keinginan akan dikabulkan. Namun bagi Suwandi Sunaryo, dengan rajin bersentuhan dengan Kitab Suci, ada suatu kepuasan batin tersendiri. Ia merasa ditempa dan setidaknya Tuhan ada beserta dirinya. “Ketika kita ingin dekat dengan Tuhan banyak sekali godaan yang datang. Saya merasakan dan membuktikan bahwa penyertaan Tuhan nyata,” tutup Sekretaris Umum Komunitas Verbum Domini ini.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.35 2018, 2 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here