Kitab Suci dalam Festival

30
Pembagian hadiah dalam “Family Bible” tahun 2017.
[Dok.KKKS]
Kitab Suci dalam Festival
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Berbagai cara diinisiasi untuk menumbuhkan kecintaan umat pada Kitab Suci. Sebagai umat Katolik, Kitab Suci harus menjadi pusat dan sumber iman.

“September ceria… September ceria…”. Begitulah sepenggal lirik lagu lantunan Vina Panduwinata. Seperti lantunan, segenap umat Katolik merasakan kegembiraan dan keceriaan September dengan menyambut Bulan Kitab Suci. Sekali lagi, umat Katolik diberi kesempatan untuk bisa semakin akrab dengan Sabda Tuhan.

Bulan Kitab Suci menjadi gerakan bersama Gereja Katolik Indonesia. Bulan September selalu diisi dengan beragam kegiatan untuk merenungkan Kitab Suci. Di lingkungan-lingkungan, umat berkumpul untuk merenungkan dan berbagi pengalaman dalam merenungkan Sabda Tuhan.

Selain membaca Kitab Suci dan merefleksikan kembali, juga diisi kegiatan-kegiatan menarik seperti lomba-lomba dan games yang berkaitan dengan Kitab Suci, baik di tingkat sekolah, wilayah, paroki, hingga keuskupan. Seperti yang terjadi di beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Bulan Kitab Suci diisi dengan aneka kegiatan bertema Kitab Suci.

Festival Kitab Suci
Di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sendiri, akhir-akhir ini semakin terlihat pertumbuhan kecintaan dan ketertarikan umat terhadap Kitab Suci. Hal itu seiring dengan maraknya gerakan-gerakan membaca Kitab Suci, seminar, kursus Kitab Suci, termasuk pewartaan Kitab Suci melalui media sosial dan sebagainya. Bersama Kitab Suci, iman umat semakin bertumbuh, berkembang, dan berkualitas karena ditemani dan dibimbing oleh terang Firman Tuhan. Atas dasar tersebut, pada Bulan Kitab Suci ini, KAJ mengusung tema “Bersatu dalam Terang Tuhan”. ini juga selaras dengan Arah Dasar KAJ 2018, Tahun Persatuan.

Meski perkembangan pertumbuhan kecintaan umat terhadap Kitab Suci, namun menumbuhkan kebiasaan membaca Kitab Suci di tengah umat memang bukan perkara mudah. Sejumlah cara yang dikemas kreatif dan inovatif kemudian menjadi pendekatan tersendiri yang dilakukan oleh para penggiat Kitab Suci. Komisi Kerasulan Kitab Suci (K3S) KAJ bersinergi dengan Komisi Katekese, Komisi Liturgi, Komisi Keluarga, Komisi Kepemudaan, Komisi Sosial, dan Komisi Kesehatan, membuat suatu acara dimana ingin menarik minat umat KAJ sebanyak-banyaknya melalui Festival Kitab Suci.

Menurut Ketua Panitia, Rafael Dikdik Sugiharto, Festival Kitab Suci ini merupakan kelanjutan dari “Family Bible” yang diadakan tahun lalu. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendekatkan Kitab Suci dalam keluarga. “Itu kita buat dan sukses. Lalu untuk tahun ini kita ditantang kembali dan kita buatlah Festival Kitab Suci,” terang Dikdik.

Jika tahun lalu semua kegiatan berpusat pada keluarga (ibu, bapak, dan satu anak), maka tahun ini cakupannya lebih luas. Dikdik menjelaskan, lebih luas karena tidak hanya keluarga yang terlibat, namun terbuka untuk semua kalangan. Dari sisi materi, panitia membagi mengelompokkan peserta menjadi beberapa kelompok usia anakanak, orang muda, dewasa, dan lansia. Ia menjelaskan, dengan pembagian semacam ini, kegiatan akan mengena. “Kegiatan ini di jalankan dengan memotret pengalaman yang dekat dengan peserta.”

Kemasan Menarik
Festival Kitab Suci ini dipersiapkan hampir selama satu tahun dari November 2017. Dikdik menjelaskan, di tingkat paroki sendiri, festival ini sudah dilakukan. Nantinya, para pemenang dari kegiatan lomba di tingkat paroki akan dipertandingkan kembali di tingkat dekenat. Diharapkan umat KAJ akan menghadiri puncak Festival Kitab Suci yang akan diadakan di Theater Garuda Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada 29 September mendatang.

Untuk dapat mengikuti Festival Kitab Suci KAJ ini, Dikdik mengungkapkan, masing-masing paroki diminta untuk mengirimkan 25 wakilnya. Ia melanjutkan, umat harus mendaftarkan dirinya di paroki masing-masing, atau bisa juga melakukan pendaftaran melalui komunitas-komunitas penggiat Kitab Suci. Setiap peserta dikenakan biaya Rp 100.000,00 per orang. “Dengan cara ini maka bulan Kitab Suci akan mampu menyentuh lebih banyak umat.”

Suwandi Sunaryo menjelaskan, dengan uang pendaftaran yang terkumpul, peserta akan mendapat tiket masuk ke TMII, ID Card, gelang, snack pagi, dan sore. Peserta juga akan mendapat makan siang pada hari diadakannya festival. “Jadi uang pendaftaran ini memang kembali untuk kebutuhan peserta. Karena kegiatan ini dilakukan dari pagi hingga sore hari,” ungkap Panitia Bidang Komunitas Penggiat Kitab Suci ini.

Kegiatan yang akan diadakan dari pukul 08.00 – 18.30 ini meliputi seminar keluarga, pertemuan remaja, dan orang muda Katolik. Di sana juga akan ada sharing komunitas penggiat Kitab Suci, seminar bertajuk “Spiritof Reconciliation”, workshop pemazmur, animator anak dan remaja, talk show, kesaksian iman, dan final “Family Bible”.

Mencintai Sabda Tuhan
Ketua Komisi K3S, Pastor Joseph Ferry Susanto mengungkapkan, Festival Kitab Suci ini bertujuan membuka kesadaran bagi umat bahwa kecintaan terhadap Kitab Suci harus menjadi kebiasaan yang dimiliki setiap umat. Dengan begitu, umat akan belajar untuk semakin mencintai Sabda Tuhan. “Harapannya ada kebangkitan dan kesadaran di tengah umat, juga kecintaan terhadap Kitab Suci. Jadi tidak ada lagi alasan orang ingin belajar Kitab Suci tapi tidak tahu harus ke mana.

Pastor Ferry menambahkan, selama festival, peserta akan bertambah wawasannya tentang kekayaan khazanah dari keempat Injil dan kitab-kitab yang lain. Ia meyakini, merenungkan Kitab Suci sebenarnya menyenangkan. “Di sini kita ingin membuka wawasan umat tentang Kitab Suci lewat sebuah festival,” tuturnya.

Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo akan memimpin Perayaan Ekaristi sebagai puncak kegiatan festival. Rencananya, panitia juga akan menghadirkan beberapa pengisi acara yang selama ini telah akrab bagi umat Katolik di Indonesia. sebut saja misalnya, Donna Agnesia, Christian Reinaldo, Lisa A. Riyanto, dan Didik SSS.

Mendekatkan diri dengan Kitab Suci berarti semakin dekat dengan Sabda Allah. Oleh karena itu Didik mengajak semua umat untuk dapat hadir pada Festival Kitab Suci. Momen ini harus dimanfaatkan umat untuk menggali lagi pengalaman mereka bersentuhan dengan Sabda Tuhan. “Ini suatu puncak acara kebersamaan kita. Kita dipersatukan oleh Sabda Tuhan.”

Sedangkan Suwandi menambahkan, Festival Kitab Suci ini tentunya mendekatkan keluarga, dan juga mengenalkan Kitab Suci sedini mungkin. Acara ini juga memungkinkan potensi pelayanan dan panggilan. Ia berharap ini menjadi suatu budaya agar mental umat, khususnya kaum muda menjadi kuat dan tidak sesat.

Marchella A. Vieba

HIDUP NO.35 2018, 2 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here