Fransiskus Asisi Sang Diakon Abadi

157
Fransiskus Asisi Sang Diakon Abadi
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com SETIAP tanggal 4 Oktober, Gereja Katolik memperingati peringatan wajib pendiri ordo Fransiskan, Santo Fransiskus Asisi. Santo yang terkenal rupawan dan pemberani pada masa mudanya ini acap kali dianggap sebagai seorang imam oleh banyak umat. Namun, ia tidak pernah menjadi seorang imam melainkan hanya seorang Diakon. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai Sang Diakon Abadi.

Sepanjang kehidupannya, ia memiliki penghormatan besar terhadap para imam. Thomas Celano menulis dalam biografinya bahwa St Fransiskus sering mencium tangan para imam yang ia temui. Fransiskus dengan iman yang besar menghormati rahmat tahbisan para imam karena secara khusus tangan mereka dikonsekrasikan.

Fransiskus juga dikenal memiliki devosi khusus kepada Ekaristi Kudus dan sangat menghormati tangan-tangan yang menyentuh Hosti Kudus setiap hari.

Tercatat Fransiskus sering berkata, “Jika saya melihat seorang Malaikat dan seorang imam, maka saya akan menekuk lutut terlebih dahulu kepada imam kemudian kepada malaikat.” Pernyataan ini menjadi cerminan rasa hormat khusus yang diberikan Fransiskus bagi para imam yang ditahbiskan. Tanpa menghiraukan karakter moral mereka, Fransiskus menjunjung tinggi para imam karena secara khusus mereka dipisahkan oleh Tuhan untuk tujuan khusus.

Demi membantu memahami penghormatan Fransiskus akan tahbisan imamat, Ensiklopedia Katolik merangkum kecintaan Fransiskus terhadap Ekaristi dan bagaimana hal ini mempengaruhi keputusannya untuk tidak menjadi seorang imam.

“Misteri Ekaristi Kudus yang merupakan perpanjangan dari Sengsara Kristus, memiliki tempat yang lebih besar dalam kehidupan Fransiskus. Ia tidak memiliki apa pun yang lebih penting daripada semua, yang mengkhawatirkan kultus Sakramen Mahakudus.

Oleh karena itu, kita tidak hanya mendengar Fransiskus mempersiapkan para imam untuk  mempersembahkan Kurban Misa, tetapi juga mau menyapu dan membersihkan gereja-gereja miskin, mencari tempat perlindungan bagi mereka, dan menyediakan bagi mereka roti. Begitu besar penghormatan Fransiskus bagi tahbisan imamat sehingga dengan segala kerendahan hatinya ia tidak pernah berani untuk mencita-citakan martabat itu”

Sementara Santo Fransiskus memiliki kualifikasi sebagai imam yang patut ditahbiskan, ia tidak pernah merasa layak untuk naik ke tangga altar dan meminta kuasa Allah untuk menghadirkan keajaiban Ekaristi Kudus.

 

Penerjemah: Felicia Permata Hanggu
Disadur dari:  “Why St. Francis of Assisi never became a priest” oleh Philip Koloski (https://aleteia.org/2018/10/04/why-st-francis-of-assisi-never-became-a-priest/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here