Panti Werdha “Suaka Kasih”: Mengutamakan Lansia Sebatang Kara

58
Kunjungan Legio Mariae: Anggota Legio Mariae Presidium Benteng Gading Stasi Landasan Ulin Banjarbaru mengunjungi para lansia dan berbagi sukacita.
[Dok.Dionisius Agus Puguh S]
Panti Werdha “Suaka Kasih”: Mengutamakan Lansia Sebatang Kara
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Berawal dari keprihatinan umat, direstui dan didukung uskup, lembaga pelayanan ini berdiri. Suster-suster PK menjadi penyelenggara pelayanan kasih ini, sekaligus mengawali karya lain di Keuskupan Banjarmasin.

Di ruang doa, tampak delapan orang lansia berusia antara 66 hingga 84 tahun mendaraskan doa rosario di depan patung Bunda Maria. Hujan baru saja reda. Jam di dinding menunjukkan tepat pukul 09.00. Sore hari, pukul 16.00, mereka kembali larut dalam kekhusyukan yang sama. Secara rutin, mereka juga mendapat pembinaan rohani. “Kami menyiapkan masa depan mereka, seandainya sewaktu waktu dipanggil Tuhan,” ungkap Sr Vianetta PK, salah seorang pengurus panti.

Panti werdha yang kini menempati lokasi di Jalan Jenderal A. Yani Km. 36, Desa Ujung Baru, RT 05 RW 02 Bati Bati, Kabupaten Tanah Laut ini diberkati pada 2 Desember 2007 oleh Uskup Emeritus Banjarmasin, Mgr F.X. Prajasuta MSF. Sebelumnya, panti ini menempati lokasi di Jalan Veteran Banjarmasin.

Bermula di Veteran
Pada 24 April 1995, Panti Werdha “Suaka Kasih” Banjarmasin diresmikan oleh Mgr Prajasuta. Pada masa itu, panti werdha ini masih menempati rumah milik Keuskupan Banjarmasin di Jalan Veteran No. 99/51 Banjarmasin.

Keberadaan panti ini bermula dari keprihatinan sepasang suami-istri, Laurentia Miranda dan Irsan Raksapati, yang sejak 1988 rutin melakukan kunjungan ke panti asuhan maupun panti werdha di seputar Kota Banjarmasin dan Martapura. Hati mereka tersentuh manakala menjumpai seorang nenek berbadan kurus dan berambut putih, duduk di atas dipan. Sebuah kelambu usang tanpa pintu tergantung di bawah langit-langit kamar. Ketika itu, Irsan membisikkan keinginannya di telinga istrinya untuk mendirikan panti jompo. Namun, istrinya sempat ragu sebab mereka berdua masih menempati rumah kontrakan.

Tanpa terasa, enam tahun berlalu. Atas restu Mgr Prajasuta, kedua pasutri itu menggandeng delapan rekannya untuk mengadakan malam penggalangan dana pada April 1994. Setelah itu, Mgr Prajasuta mengirimkan surat permohonan kepada Serikat Puteri Kasih (PK) agar membuka ladang misi di Kalimantan. Tanggal 1 Februari 1998 menjadi momen yang amat istimewa. Setelah sepuluh bulan menanti, akhirnya Serikat PK bersedia berkarya melayani panti werdha di Banjarmasin. Waktu itu, Sr Laetitia PK dan Sr Tarsisia PK hadir di Banjarmasin. Mereka menyelenggarakan pertemuan bersama.

Dalam pertemuan itu diambil beberapa keputusan, antara lain Mgr Prajasuta meminjamkan gedung milik Keuskupan Banjarmasin di Jalan Veteran untuk dipergunakan sebagai panti werdha. Semua biaya operasionalnya diusahakan secara mandiri oleh Kerabat Puteri Kasih, dan pelayanan diserahkan kepada Serikat PK dibantu oleh Kerabat Puteri Kasih.

Panti werdha ini pun diberi nama “Suaka Kasih” di bawah naungan Yayasan Suaka Insan Banjarmasin. Setelah gedung mengalami pembenahan selama lebih kurang 40 hari, pada 28 Maret 1995, Sr Laetitia, Sr Agnes, Sr Suzanna, dan Sr Agustina tiba di Banjarmasin. Selanjutnya, panti werdha dilayani oleh Sr Agnes dan Sr Suzanna.

Sepuluh tahun kemudian, muncul gagasan untuk memindahkan lokasi panti werdha ke lokasi lain yang lebih representatif, karena lokasi awal berada di tengah Kota Banjarmasin yang hirukpikuk. Serikat PK membeli sebidang tanah di Desa Guntung Manggis, Banjarbaru. Karena kesulitan mendapatkan izin pembangunan, niat itu diurungkan. Herman Chandra yang ikut membantu mengurus perizinan menawarkan bantuan tanah dan gedung di lokasi lain, tepatnya di Desa Ujung Baru di Jalan A. Yani Km 36 Bati Bati, Pelaihari. Lalu disepakati pendirian Panti Werdha “Suaka Kasih” di bawah naungan Yayasan Sinar Alam milik Herman Chandra.

Peduli lansia
Saat ini, empat suster PK yang berkarya di panti ini. Mereka adalah Sr Theresita Kusumawati, Sr Vianetta, Sr Yosie Tri Wahyuni, dan Sr Martha. Setiap hari para suster mendampingi sembilan orang lansia. Mereka terdiri dari seorang opa dan delapan oma. “Yang kami utamakan di sini adalah lansia yang tidak punya siapa-siapa,” ujar Sr Vianetta.

“Kesabaran harus terus kami kembangkan setiap hari,” timpal Sr Yosie sembari tersenyum. Meski begitu, ada juga lansia yang kerap memberi penghiburan, misalnya dengan bernyanyi. “Paling tidak, mereka semua adalah cermin bagi saya bila nanti saya tua mau menjadi seperti yang mana?”

Sr Vianetta berkisah, selain mendampingi kaum lansia, para suster juga berke- giatan di paroki maupun komunitas. “Secara rutin, kami memberi renungan di Komunitas Nusa Indah dan Mekarsari,” katanya. Setiap bulan mereka mengunjungi orang-orang jompo di luar panti berjumlah sekitar 75 orang. Mereka tersebar di beberapa kampung, yaitu Sungai Raso, Tanggul, Kebun Sayur, dan Bati Bati. Kegiatan lainnya adalah mendampingi Minggu Gembira, melayani keluarga yang bermasalah, mengajar kursus perkawinan privat, dan melayani orang yang mengalami stres.

Di lingkungan panti, tinggal tujuh anak yang disekolahkan oleh para suster. Mereka dibekali pendidikan untuk melayani para lansia. Selain bersekolah, mereka membantu kegiatan panti pada pagi dan sore hari.

Oma Soeratmi merasa betah karena suasana di sekitar panti cukup hening dan para suster selalu memberi pelayanan terbaik bagi mereka. “Kami mengucap syukur sebab diberi kesempatan tinggal di sini, juga atas kebaikan para donatur,” ungkap Oma Narti dan Oma Marta kompak.

Dionisius Agus Puguh S.

HIDUP NO.15 2014, 13 April 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here