Beata Maria Bolognesi : Setia dalam Derita

143
Mistikus: Suasana Misa beatifikasi Maria Bolognesi.
[multimedia.quotidiano.net]
Beata Maria Bolognesi : Setia dalam Derita
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia lahir dari hubungan di luar nikah. Sepanjang hidupnya ia mengalami penderitaan: kemiskinan, kerasukan setan, menerima stigmata, beragam penyakit. Ia dekat dengan Tuhan, tetapi setan terus menyiksanya.

Seorang gadis Italia didera kuasa setan bertubi-tubi. Orang sering menyebutnya “kerasukan setan”. Usianya belum genap 16 tahun. Tepat kala adik laki-lakinya lahir, 21 Juni 1940, ia dihinggapi kekuatan aneh yang selalu menolak hal-hal berbau rohani. Tak seorang pun berhasil membantunya lepas dari belenggu nestapa ini. Mereka hanya bisa berpasrah sambil terus berdoa mohon kerahiman kasih Allah.

Berulang kali, atas permintaan keluarganya, para imam membantu membebaskannya. Namun, usaha mereka seolah sia-sia. Bahkan, secara fisik gadis ini juga tersiksa. Berat badannya merosot dan demam tinggi sering menghinggapinya. Teman- teman sepermainan pun amat takut. Tingkah laku dan gerak-geriknya sangat aneh, bahkan kadang tak masuk akal. Hampir setiap hari, gadis ini merasakan penderitaan. Ia tak bisa pergi ke gereja, menerima komuni, bahkan berdoa. Tiap kali imam datang untuk mendoakan, memerciki air suci dan memberkatinya, ada kekuatan jahat yang menolak. Ketika ia diajak ke gereja, tiba-tiba ada kekuatan yang tak kasat mata menarik pakaiannya dari belakang dan menghalanginya. Keluarganya kian panik, karena ia sering bersumpah serapah dan menghujat Allah. Segala bentuk yang berbau rohani ia cerca. Demi keselamatannya, gadis ini dibawa ke rumah sakit jiwa. Konon dalam perjalanan ke rumah sakit, Uskup Adria (kini: Adria-Rovigo) Mgr Guido Maria Mazzocco (1936-1968) melihat gadis malang itu dan memberkatinya dari jendela di wisma keuskupannya. Aneh, dalam pemeriksaan ia dinyatakan waras.

Meski kondisi jiwanya telah berangsur pulih, tapi kondisi fisiknya kian memburuk. Pada akhir Januari 1942, umurnya diperkirakan hanya tinggal tiga hari. Maka ia pun menerima Sakramen Pengakuan Dosa dan Ekaristi. Lalu selama tiga hari, jiwa raganya mengalami kesakitan luar biasa. Ia hanya bisa menjerit-jerit tak kenal waktu. Harapannya hanyalah doa. Meski masih belia, imannya seolah telah mencapai kedewasaan. Kekuatan doa menjadi sandaran hidupnya yang dihiasi siksa fisik dan batin. Akhirnya pada hari keempat, gadis ini terbebas dari jerat iblis yang telah merasukinya selama 18 bulan.

Penggalan kisah itu merupakan pengalaman Maria Bolognesi dalam pergumulannya dengan penderitaan. Meski sejak kecil hidupnya saleh, rentetan dukacita datang silih berganti menemani peziarahan hidupnya. Benih kesalehan itu sudah tampak melalui janji yang tertulis dalam buku hariannya. Pada usia 10 tahun, ia menulis, “Aku tak akan pernah menikah, tak akan pernah! Aku akan berjuang di dunia untuk mencintai dan membantu sesama. Aku akan melakukan segala sesuatu yang bisa kuperbuat bagi setiap orang.”

Berkawan Miskin
Maria Samiolo, demikian nama asli Maria Bolognesi, lahir di Bosaro-Rovigo, Italia, 21 Oktober 1924 dari hubungan di luar nikah. Tak heran jika bayi perempuan itu diberi nama belakang sang ibu, Giuseppa Samiolo. Pacar Giuseppa –yang sebenarnya juga anak haram– tak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya sejak Maria masih dalam kandungan. Sejak lahir hingga usia enam tahun, Maria diasuh neneknya, Cornetto Cesira. Meski singkat, ia mendapat warisan iman, doa dan keutamaan kristiani dari Cesira.

Dalam perjalanan waktu, Giuseppa menikah dengan petani miskin, Giuseppe Bolognesi. Sejak saat itu, Maria menyematkan nama ayah tirinya, Bolognesi. Namun, pernikahan ibunya tak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Justru sebaliknya, derita kian mencekam. Ia melihat perlakuan kasar ayah tirinya terhadap sang ibu. Kemiskinan memuncak membuatnya kerap tak bisa mengisi perut. Meski bersikeras untuk bisa sekolah, ia terpaksa sering tidak masuk sekolah karena harus membantu ibunya mencari sesuap nasi. Hingga akhirnya, ia harus tinggal kelas, dan meninggalkan bangku sekolah pada usia sembilan tahun. Ia harus membantu orangtuanya: mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menggarap ladang, pun memancing untuk mendapatkan lauk.

Di sisi lain, kebiasaan saleh warisan Cesira ternyata mendapat pupuk dari kakek keluarga ayah tirinya, Luigi Bolognesi. Di tengah balutan kemiskinan, Maria berjuang untuk melibati imannya: ikut misa dan katekese, serta tekun berdoa. Kemiskinan memaksa keluarganya menitipkan Maria pada kerabat yang lebih beruntung, Angelina dan Ferdinando Piva, di San Cassiano, Italia.

Hidup Mistik
Maria mengalami derita akibat kuasa setan selama 18 bulan. Tak lama setelah terbebas, Maria menerima visiun (penglihatan rohani). Kala itu, Rabu Abu 1942, Yesus meminta kesanggupannya untuk mencintai-Nya, berdoa dan bertobat. Yesus juga bernubuat tentang penderitaan dahsyat yang akan dialaminya. Maria diminta belajar membaca dan menulis, serta menerima cincin berhiaskan lima batu permata. Cincin itu menjadi ikatan suci dengan Yesus, sekaligus melambangkan lima luka-Nya. Peristiwa iman ini disimpan rapat di dasar palung hati Maria.

Rahmat visiun itu ditandai dengan kesembuhan saudari ipar, Angelina Piva, atas doa permohonan Maria. Tentang peristiwa iman ini, Yesus memintanya untuk bercerita pada seorang Bapa Pengakuan. Dan, setelah menumpahkan isi hatinya pada imam, Maria mulai menuangkan pengalamannya dalam buku harian. Sejak April 1942 hingga 10 Juli 1967, terkumpul sekitar 1.800 lembar catatan rohaninya.

Relasi Maria dengan Yesus kian hari kian intim. Pada 8 Mei 1942, ia menerima visiun kedua. Yesus berjanji akan menyembuhkan temannya yang sakit. Yesus juga mengatakan bahwa Maria akan mendirikan sekolah dan memakai pakaian seperti biarawati (habet) sebagai tanda hidup selibat, serta meneladani hidup seorang perempuan kudus. Selain itu, Yesus juga menubuatkan akan terjadi perang besar.

Semua nubuat itu pun menjadi kenyataan. Seizin Pembimbing Rohaninya, Maria mengenakan habet pada 11 April 1943, tepat pada peringatan St Gemma Galgani (1878-1903) yang ia jadikan patron hidupnya. Selanjutnya, pada 12 Maret 1947, ia membuka sekolah untuk anak-anak keluarga miskin.

Maria juga menerima rahmat stigmata (1944-1955) sebagai pemenuhan visiun pertamanya. Pada 2 Januari 1944, ia berkeringat darah kala sedang berdoa. Kejadian ini berlangsung selama lima menit. Lagi-lagi, semua derita ini ia simpan rapat dalam hatinya.

Rahmat Kekudusan
Peristiwa perjumpaan dengan Yesus dialami Maria sepanjang hidupnya. Percakapan dengan-Nya ia tulis dalam buku hariannya. Meski amat intim dengan Tuhan, ia tak pernah luput dari derita fisik dan batin. Berulang kali ia diganggu oleh kekuatan iblis yang pernah menguasainya.

Dengan berkarya di tengah anak-anak, Maria menikmati tiap derita yang ia alami. Ia pernah mempertaruhkan nyawa menghadapi tiga preman yang ingin merenggut kesuciannya pada 5 Maret 1948. Meski raganya remuk, rasa syukurnya tetap bergema.

Selama hidupnya, Maria mengidap berbagai penyakit kronis yang mencabik-cabik raganya: radang tenggorokan dan paru- paru, lever, usus buntu dan pencernaan, anemia, rematik, jantung, dll. Meski demikian, ia tetap setia mengikuti perintah Yesus dalam visiun yang ia alami setiap Jumat. Dalam derita, ia melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan bertekun dalam karya.

Setelah mengalami dua kali serangan jantung pada 1971, kondisi raganya kian buruk. Sejak 1974, Maria berjuang melawan sakit fisik dan godaan setan yang kian menjadi. Kepahitan yang ia jalani dengan hati berbunga itu berujung pada wafatnya, 30 Januari 1980 di Rovigo. Konon ia punya kedekatan secara mistik dengan Padre Pio dari Pietrelcina OFMCap (1887-1968) yang juga mendapat rahmat stigmata.

Proses penggelaran kudus Maria Bolognesi dibuka pada 21 Oktober 1992. Lalu pada 10 Mei 2012, dekrit keutamaan kristianinya sebagai seorang mistikus direstui Paus Benediktus XVI. Ia pun digelari Venerabilis. Akhirnya, Paus Fransiskus menggelarinya Beata. Misa beatifikasinya digelar pada 7 September 2013 di Piazza XX Settembre, Rovigo. Gereja memperingatinya tiap 30 Januari.

Maria Pertiwi/R.B.E. Agung Nugroho

HIDUP NO.14 2014, 6 April 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here