Paus Meminta Kita Bertanya: “Jatuh Cintakah Saya Kepada Tuhan?”
5 (100%) 2 votes

Hidupkatolik.com— Kisah Injil mengenai Marta dan Maria merupakan kisah yang populer di antara umat kristen. Kisah tenar yang menjadi bacaan liturgi pada Rabu, 9/10, ini pun diangkat Paus Fransiskus untuk menunjukkan pertentangan dua sisi bagaimana umat Kristen menjalani hidup, yakni: peduli dengan “hal-hal” tentang Tuhan, tetapi tidak dengan Tuhan sendiri, dan sebaliknya, gagal melayani Tuhan dalam rupa sesama.

Pada pagi hari di Casa Santa Marta, Bapa Suci menjelaskan mengapa begitu penting menanyakan pertanyaan  “Apakah aku jatuh cinta kepada Tuhan?” untuk mencapai keseimbangan hidup.

Melalui tindakan mereka, Paus Fransiskus menjelaskan, kedua saudara perempuan ini mengajarkan kita bagaimana harus maju dalam kehidupan rohani sebagai murid Kristus. Kita dihadapkan pada dua sosok: sosok Maria yang “mendengarkan Tuhan” dan sosok Marta yang teralihkan perhatiannya karena “sibuk dengan pelayanan.”

Paus mencatat bahwa Marta adalah salah satu wanita dengan karakter kuat. Marta bahkan mampu menegur Tuhan karena tidak hadir pada saat kematian saudaranya, Lazarus. Ia tahu bagaimana menempatkan dirinya di muka umum dan sangat berani. Namun, ia tidak memiliki jiwa ‘kontemplasi’ karena ia tidak mampu ‘memberikan waktunya untuk sejenak menatap Tuhan.’

“Ada begitu banyak umat Kristen, ya, mereka mengikuti Misa Kudus pada hari Minggu, tetapi mereka selalu sibuk. Mereka tidak punya waktu untuk anak-anak mereka, mereka tidak bermain dengan anak-anak mereka. Ini buruk. “Banyak yang harus saya lakukan, saya sangat sibuk…” [kata mereka].

Dan pada akhirnya mereka menjadi penyembah agama  kesibukan: Mereka termasuk kelompok yang sibuk, yang selalu melakukan banyak hal … Tapi berhenti, menatap Tuhan, mengambil Injil, mendengarkan Firman Tuhan, membuka hati … Dan mereka melakukan kebaikan, tetapi bukan kebaikan Kristen melainkan kebaikan manusia. Orang-orang demikian tidak memiliki kontemplasi. Marta kekurangan itu. [Dia] berani, selalu maju, mengambil sesuatu di tangan, tetapi kurang damai: [tidak dapat] kehilangan waktu memandang Tuhan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here