Choice Surabaya : Turun Gunung

30
Baksos Choice Tambak Asri.
[NN/Dok.Pribadi]
Choice Surabaya : Turun Gunung
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Melalui Choice, kaum muda menemukan kembali pilihan dan harapannya. Memiliki relasi dan cinta yang kuat baik keluarga maupun sesama. Di wajah dan tangan merekalah masa depan Gereja.

Pasangan suami istri Veronika Inderawati dan Mack Soewandito menuturkan kegelisahan mereka tentang kaum muda zaman now. Kecemasan sejoli, Vero dan Mack ini sepertinya diwariskan Pastor Tom Morrow. Sekitar hampir lima dekade lalu, Pastor Tom sering melintasi lorong-lorong Brooklyn- New York, Amerika Serikat. Pastor Tom memiliki perhatian yang lebih terhadap kaum muda.

Perhatian Pastor Tom tidak lepas dari kaum muda. Ia terlibat begitu dalam untuk menyaksikan secara langsung pergulatan kaum muda. Vero menjelaskan, sebagaimana pastor Tom, hal yang sama dia rasakan saat membaca koran dan berita-berita di TV. Vero melihat tak sedikit kaum muda yang kehilangan harapan dan putus asa.

Vero melihat, mereka mengalami kesepian, kurang diperhatikan, terjerumus dalam pergaulan bebas, kehidupan malam, pecandu narkoba hingga angka bunuh diri yang tinggi. Tak terhitung juga dari mereka meninggalkan Gereja.

Sebagaimana dialami Pastor Tom, Pendiri gerakan Choice, semangat yang sama akhirnya mendasari dimulainya Choice di Surabaya. Vero dan Mack merasakan tidak ada kedalaman dalam kehidupan kaum muda. Pasangan Koordinator Distrik Choice Surabaya ini melihat harapan pada diri kaum muda.

Menapak di Surabaya
Pijar-pijar semangat gerakan Choice mulai menyala dari Brooklyn dan kemudian berkembang di berbagai negara di belahan bumi. Pijar-pijar itu bermula dari sebuah sel yang dibentuknya. Kelompok tersebut beranggotakan muda-mudi, melibatkan komunitas Marriage Encounter (ME) serta beberapa pasangan suami istri dari ME. Dalam diskusi tersebut mereka sepakat untuk membentuk Choice.

Melalui Choice kaum muda diajak untuk berani mengambil sebuah keputusan atau pilihan sebagai orang Kristiani yang berdasarkan kasih dalam relasi dengan sesama. Choice mempunyai tujuan untuk menggali dan merawat kembali rasa memiliki, yang saat ini mulai tergerus dalam relasi masa kini.

Di Asia, Choice berkembang di beberapa negara seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri berkembang di beberapa daerah seperti Manado, Padang, Pontianak, Surabaya, dan beberapa kota lainnya.

Mack menjelaskan, Week End Choice (WEC) Pertama di Indonesia dilaksanakan pada Desember 1982 di Ciloto. Sedangkan di Keuskupan Surabaya diawali dengan WEC Pertama pada tanggal 1-3 Juni 1984 di Wisma Bintang Kejora, Pacet.

Pria Kelahiran Malang 12 Juli 1960 mengatakan Semua kegiatan ini mengumpulkan kaum muda dan mudi di Surabaya. Menariknya kaum muda yang ditarik bukan hanya Gereja Katolik tapi juga kaum mudah yang lain di luar Gereja yang memiliki niat yang murni. Anggota yang teribat mulai dari usia 20 hingga 35 tahun.

Week End Choice
Week End Choice (WEC) merupakan kegiatan yang khas dari gerakan Choice. Para peserta datang berdasarkan kemauan mereka sendiri. Mereka adalah kaum remaja yang belum pernah menikah. WEC di Distrik Surabaya diadakan sebanyak 4 kali dalam setahun. Setiap peserta mengikuti WEC hanya satu kali sebagai peserta seumur hidup. Hingga saat ini, total peserta WEC sampai angkatan 131 adalah 2.104 putra dan 3.289 putri.

Vero membeberkan saat WEC berlangsung peserta diingatkan akan orangorang yang dicintai. Saat ini merupakan kesempatan untuk melepaskan seluruh luka batin. Mereka diajak memperbaiki relasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat. “Di dalam keluarga tumbuh dan bersemainya iman katolik. Jika di dalam keluarga tidak harmonis maka nilai-nilai Kristiani sulit dikembangkan. Keluarga adalah seminari kecil,” ungkapnya.

Agustinus Henry Hardosubroto, Koordinator Youth 1 menerangkan relasi dengan keluarga menjadi sorotan dari WEC. Keluarga adalah hal yang penting dari gereja, maka suasana keluarga yang kurang baik perlu diarahkan untuk lebih dekat dengan gereja. Ini juga kesempatan untuk mengajak terlibat aktif dalam kegiatan di gereja dan lingkungan. Keterlibatan mereka sangat diperlukan sebagai tunas dan masa depan gereja. Dengan demikian, mereka akan lebih dekat dan dirangkul ibu gereja.

Henry begitu akrab disapa mengungkapkan, setelah WEC tadi masih ada rangkaian kegiatan lagi. Saat itu merupakan kesempatan yang tepat untuk mengevaluasi diri, membangun komitmen dan memperbaiki diri. Setelah itu, ada misa renewal dimana peserta menjalani perutusan. “Untuk menjalankan misa, mereka dihimbaukan ke paroki masing-masing. Di sana, mereka menjalani fungsi melayani. Misa perutusan ini dilakukan dua minggu berturut-turut,” bebernya.

Sekolah Cinta
Angela Chandra Mulya, Koordinator Youth II membeberkan Choice merupakan sekolah cinta. Di sini tidak ada guru menggurui. Semua peserta terlibat dan merasakan langsung pengalamannya. Dengan demikian, peserta belajar dari pengalaman yang ditimba.

Menurutnya, selain WEC para Choicer akan berkumpul dengan berbagai kegiatan misalnya pendalaman iman dan paduan suara. Pendalaman iman diadakan setiap Selasa kedua dan keempat setiap bulan di Gereja Hati Kudus Yesus. Sedangkan Paduan Suara ini berlatih setiap hari Rabu.

Angela mengatakan, Choice mengadakan berbagai kegiatan Week End Power Personality Plus, ziarah ke berbagai Gua Maria di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Bakti Sosial bersama anak Panti Asuhan, di penduduk miskin pinggir rel Kereta Api, korban banjir, Outbond dan Fun Race. “Semua kegiatan ini ditujukan agar para kaum muda yang telah merasakan Week End Choice (Choicer) ini memiliki wadah untuk mengembangkan relasi dan berkarya bagi sesama dan Gereja,” bebernya.

Melayani
Dalam program WEC para peserta akan bergulat dengan seluruh persoalannya. Ada kalanya setelah mengikuti WEC, seseorang menemukan jawaban atas masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Hal itu merupakan buah dari nilai kasih yang tertanam melalui WEC.

Vero menjelaskan, tidak semua peserta akan mendapatkan hasil yang sama, semua itu tergantung pada kemauan peserta untuk mengikuti, memahami, dan menghayati WEC. Ia menjelaskan, menjadi lebih baik atau tidaknya kehidupan peserta setelah WEC sepenuhnya ditentukan oleh pilihan dan keputusan dari peserta.

Lebih lanjut kelahiran Surabaya, 3 September 1960 menerangkan, WEC ibarat naik gunung, sehabisnya peserta akan turun dan di utus di tengah umat. Choicer harus mampu melayani di mana saja dia telah di utus. “Ia harus mampu melayani mulai dari dalam keluarga hingga di gereja nantinya. Hal tersebut ditunjukkan melalui pelayanan di gereja dan lingkungan.”

Willy Matrona

HIDUP NO.36 2018, 9 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here