Paus Fransiskus dalam Misa Kanonisasi: “Yesus itu Radikal”

333
[Kredit: Foto CNS/Paul Haring]
Paus Fransiskus dalam Misa Kanonisasi: “Yesus itu Radikal”
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com “Yesus itu radikal,” ucap Paus Fransiskus dalam homilinya di Misa Kanonisasi Paus Paulus VI, Oscar Romero, dan lima santo-santa baru lainnya.

“Yesus memberi dirinya secara utuh dan meminta kita memberikannya secara utuh pula: Ia memberikan cinta yang total dan meminta hati yang tak terbagi,” tutur Paus kepada para peziarah yang berkumpul di lapangan St Peter, Minggu, 14/10 lalu.

Kristus telah “memberi diriNya sebagai roti kehidupan kepada kita; dapatkah kita memberinya remah-remah sebagai balasan?” tanya Paus.

Paus Fransiskus secara resmi mengakui Paus Paulus ke-VI, Oscar Romero, Vincent Romano, Francesco Spinelli, Nunzio Suplrizio, Nazaria Ignacia March Mesa, dan Maria Katharina Kasper sebagai orang suci dalam misa tersebut.

“Semua orang suci ini, dengan konteks yang berbeda, mengubah perkataan menjadi perbuatan dalam hidup mereka sehari-hari, dengan sepenuh hati, tanpa perhitungan, dengan keinginan besar untuk mempertaruhkan serta meninggalkan segalanya. Semoga Tuhan menolong kita untuk meniru teladan mereka,” ucap Paus.

Oscar Romero, yang dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus di El Salvador pada 2015, adalah Uskup Agung Emeritus Ibukota San Salvador. Ia ditembak saat merayakan Misa pada 24 Maret 1980 silam, selama berlangsungnya perang sipil antara pasukan gerilya sayap kiri dan pemerintahan diktator sayap kanan.

Romero dideklarasikan sebagai martir yang dibunuh atas dasar kebencian iman sebab ia membela hak asasi manusia dengan vokal.

Santo Oscar Romero, “meninggalkan keamanan dunia, bahkan keamanan dirinya sendiri, mengorbankan hidupnya sesuai dengan ajaran Injil, agar dekat dengan kaum papa dan orang-orangnya, hatinya dituntun kepada Yesus dan saudara-saudarinya,” ucap Paus Fransiskus pada homili Minggu.

“Mari tanya kepada diri sendiri soal kisah cinta kita dengan Tuhan. Apakah kita cukup puas dengan mengikuti beberapa firman-Nya saja atau apakah kita mengikuti Yesus sebagai seorang kekasih, yang siap meninggalkan sesuatu untuk Dia?,” tanya Paus.

Sebagaimana Paus Fransiskus, Paus Paulus VI mengawal Konsili Vatikan II, yang dibuka oleh Santo Yohanes XXIII, dan pada 1969 menyebarkan buku “Roman Missal”. Ia wafat pada 1978, dan dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus pada 19 Oktober 2014 lalu.

Terlepas dari perannya di Konsili, Paus Paulus VI terkenal dengan surat ensikliknya berjudul “Humanae Vitae”, yang dipublikasikan pada 1968 dan menegaskan ulang ajaran Gereja yang bertentangan dengan kontrasepsi dalam kebangkitan revolusi seksual. Tahun ini ditandai dengan perayaan 50 tahun surat ensiklik tersebut.

“Hari ini Yesus mengundang kita untuk kembali pada sumber sukacita, yang mana adalah berjumpa dengannya, semangat memilih mengorbankan segala sesuatunya untuk mengikuti Dia, kepuasan meninggalkan sesuatu dalam rangka mengikuti jalan-Nya. Para santo-santa telah melalui jalan ini,” lanjutnya.

Paus Fransiskus mendorong umat Katolik meneladani prinsip para orang suci, “Apakah Yesus sudah cukup bagi kita atau apakah kita masih mencari keamanan duniawi?”

“Marilah kita memohon rahmat untuk meninggalkan segala sesuatu demi cinta kita akan Tuhan: menanggalkan kekayaan, hasrat akan status dan kekuasaan, segala beban yang menghambat misi kita, tali yang mengikat kita kepada dunia,” ucapnya.

“Tanpa lompatan kasih, hidup dan Gereja kita menderita ‘kepuasaan pribadi,” lanjut Paus.

“Masalahnya terletak pada diri kita: keinginan yang berlebihan mencekik dan membuat kita tidak mampu untuk mencinta,” ucapnya.

Dalam Doa Malaikat Tuhan setelah Misa, Paus Fransiskus menyapa Ratu Sofia dari Spanyol dan Presiden Chile, El Salvador, Panama, dan Italia, yang hadir dalam Misa Kanonisasi.

 

Elisabeth Chrisandra J.T.D.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here