Homili Harus Menjadi Percakapan Kekeluargaan

155
Para peserta workshop "Menjadi Pengkhotbah yang Membumi" di Aula Leo Soekoto, Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q, Kebayoran Baru. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 20 Oktober 2018.[dok.pribadi]
Homili Harus Menjadi Percakapan Kekeluargaan
4 (80%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com HOMILI harus menjadi lebih ‘indikatif’ dan kurang moralistik.

Kepada umat ditunjukkan (to indicate) tentang apa yang sedang dilakukan Tuhan, kini dan disini, dan bukannya menunjukkan pada apa yang mesti dilakukan manusia yang nota bene merupakan penekanan pada moralitas.

Demikian ditandaskan Robert Bala, dalam Workshop: MENJADI PENGKHOTBAH YANG MEMBUMI di Aula Leo Soekoto, Paroki Santa Perawan Maria Ratu, Blok Q Kebayoran Baru. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 20 Oktober 2018, dihadiri oleh 38 peserta. Mereka terdiri dari prodiakon, pengurus liturgi lingkungan, dan kelompok kategorial.

Peserta tidak saja berasal dari paroki tuan rumah tetapi juga dari paroki lain yang merasa bahwa membawakan khotbah sudah menjadi kebutuhan dan perlu dibawakan dengan baik, menarik, efektif, dan aktual.

Dalam kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 – 15.00, kepada peserta diberikan pemahaman bahwa berkhotbah, seperti memancing ikan, kita harus mengetahui apa yang disukai umat dan tidak memaksakan model bicara kita kepada umat. Pada sisi lain, penulis buku HOMILI YANG MEMBUMI menandaskan bahwa kerap kali homili menjadi sangat abstrak, teoritis, moralistis, eksegetis, dan kateketis.

Selanjutnya, homili harus menjadi seperti sebuah Percakapan Kekeluargaan. Di sana, seorang pengkhotbah melakukan tugas pelayanan: pelayanan Sabda Allah, Pelayanan Umat Allah, dan Pelayanan Sakramen. Tugas seorang pengkhotbah tidak lain membuat umat lebih paham.

Tentang kegiatan tersebut, Lina seorang agen pastoral dari Paroki Tanjung Priok mengungkapkan bahwa kebutuhan membawakan homili sangat penting. Banyak sekali kebutuhan di lingkungan tetapi tidak semua umat bersedia melaksanakan tugas itu. Singkatnya orang tidak merasa “pede” tidak saja karena cara berbicara di depan umum yang harus dipelajari, tetapi juga kurang paham Kitab Suci.

Ketua Pelaksana kegiatan, Aloy mengungkapkan rasa kagum kepada peserta yang telah mendedikasikan waktu untuk kegiatan yang sangat bermanfaat. Hal yang sama ditekankan Niko Hukulima. Menurut Ketua Bidang Liturgi Paroki Blok Q, banyak agen pastoral semakin kritis dalam menyikapi homili. Seperti seruan Paus Fransiskus dalam Evangelli Gaudium, perlu ada ‘evaluasi kritis dan serius’ atas homili kita (EG 135) karena banyak umat mengeluh. (RB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here